Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Permukaan air tanah naik penyebab amblesnya ratusan sumur di kaki Gunung Kelud

Permukaan air tanah naik penyebab amblesnya ratusan sumur di kaki Gunung Kelud

Jogja-KoPi| Ketidakstabilan dinding sumur akibat naiknya muka air tanah (MAT) menjadi penyebab utama amblesnya ratusan sumur di kaki Gunung Kelud, tepatnya di Puncu Kediri, Jawa Timur pada akhir April 2017 hingga saat ini.

Terdapat 140 sumur warga yang ambles, dan 110 sumur mulai keruh menunggu waktu ambles.

Koordinator Penelitian Magister Manajemen Bencana UPN "Veteran" Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengatakan ketidakstabilan dinding sumur terjadi akibat penjenuhan material penyusun dinding sumur oleh naiknya muka air tanah (MAT) di daerah Puncu, khususnya di desa Manggis, Dusun Nanas, Dusun Dorok, Dusun Jambean, dan Ringinbagus. Penambahan air berlebih menyebabkan ketangguhan dinding hilang.

"Justru karena muka air tanah (MAT) naik, dinding 20 meter kehilangan stabilan longsor sehingga bikin rongga, ambles. Semua fenomena yang terjadi seperti itu", tambahnya saat jumpa pers hasil penelitian tentang fenomena dan mitigasi ratusan sumur ambles kaki Gunung Kelud Desa Manggis Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri, di Ruang Transit Gedung Rektorat lt. Dasar UPN "Veteran" Yogyakarta, Senin (15/5).

Terjadi perubahan MAT yang berbeda-beda antara satu desa dengan lainnya. Kedalaman MAT Dusun Dorok semula antara 10-20 meter meningkat 5-15 meter, dan saat ini tinggal 1,5-8 meter.

"Dasar Candi Dorok yang tidak pernah basah sekarang banjir", ujar Eko.

Sedangkan, perubahan MAT di Dusun Jambean setinggi 5-15 meter, dari 13-20 meter menjadi 4-12 meter. Di dusun Manggis MAT semula antara 23-37 meter naik antara 9-13 meter disebelah utara dan 13-18 meter disebelah selatan.

Sementara, kedalaman MAT di Dusun Nanas naik dari 14-19 meter menjadi 3-14 meter, sehingga tinggal 2-12 meter, dan di Dusun Ringinbagus sumur-sumur dengan kedalaman 27-29 meter MAT-nya naik sampai setinggi 16 meter.

Menurut Eko, penyebebab peningkatan MAT di masing-masing dusun dipengaruhi oleh kedalaman akifer-akifer pada kedalaman 5-13 meter dan 17-72 meter.

Penyebab peningkatan MAT hingga saat ini masih menjadi pertanyaan. Eko menduga terdapat air yang berjalan jauh atau terdapat bekas erupsi.

"Kemungkinan pada Erupsi 2014 ada ekuver yang terbuka di atas, pada musim hujan menjadi pengisi yg baik", jelasnya.

Di sisi lain pola amblesan sumur dapat vertikal maupun horizontal.

"Pelebaran amblesan ada yang sampai 5 meter dan meratakan bangunan di sekitarnya", jelas Eko.

Selanjutnya Eko menyarankan masyarakat sekitar sumur untuk melakukan penggurukan dan pemadatan pada sumur-sumur yang telah mengalami amblesan serta memperkuat kestabilan dinding sumur dengan membuat pasangan bata atau buis beton pada seluruh dinding sumur.

Selain itu ia juga menyarankan agar masyarakat membuat alternatif sumur pompa dengan pipa paralon.

Sedangkan untuk air sumur hingga saat ini belum bisa dikonsumsi karena keruh.

"Air bisa dikonsumsi tapi harus menunggu jernih. Untuk menjernihkan Bisa dikuras dan disedot", jelasnya.

back to top