Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Pascabencana kilang minyak Montara, tangkapan nelayan Kupang turun 70 persen

Pascabencana kilang minyak Montara, tangkapan nelayan Kupang turun 70 persen

Kupang-KoPi| Hasil tangkapan para nelayan dari Oesapa Kupang, Nusa Tenggara Timur pasca meledaknya kilang minyak Montara di Blok Altas Barat Laut Timor pada 21 Agustus 2009 turun drastis sampai 70 persen.

"Sebelum meledaknya kilang minyak Montara, penghasilan yang kami dapat dari mencari ikan di Laut Timor bisa mencapai lebih dari Rp20 juta, namun saat ini untuk memperoleh Rp5 juta saja, sudah tidak bisa lagi," kata Ketua Aliansi Nelayan Tradisional Laut Timor (Antralamor) H Mustafa kepada pers di Kupang, Minggu.

Ia mengemukakan kisah derita para nelayan Oesapa yang telah menjadikan Laut Timor sebagai ladang kehidupan mereka itu berkaitan dengan peringatan tujuh tahun meledaknya kilang minyak Montara pada 21 Agustus 2009.

Sebagai nelayan, kata dia, ribuan nelayan di Oesapa Kupang tidak pernah berhenti melaut untuk mengais rezeki, namun penghasilan yang diperoleh dari hasil melaut terkadang berbanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan untuk melaut.

"Sekali melaut, kami keluarkan sekitar Rp3 juta sampai Rp4 juta untuk membeli bahan bakar, sementara penghasilan yang kami dapat dari mencari ikan di Laut Timor hanya pada kisaran Rp5 juta. Bagaimana mungkin kami bisa bertahan,"kata Mustafa yang telah beralih profesi menjadi penjual kayu.
Para nelayan lainnya, kata dia, sejak 2010, hampir 70 persen meninggalkan Kupang menuju Kalimantan untuk mencari ikan di wilayah perairan sekitarnya.

"Jika ratusan bagan yang dulunya terlihat marak di wilayah perairan Teluk Kupang, kini mungkin hanya tinggal 15 unit saja, karena sebagian besar pemiliknya hengkang ke Kalimantan dan Sulawesi," ujarnya.

Ia mengatakan kecendrungan para nelayan Oesapa Kupang untuk mencari ikan di Laut Timor karena kaya dengan ikan kakap merah serta berbagai jenis ikan karang lainnya yang harganya mahal di pasaran.

"Saya juga sudah memilih jalan baru dengan mencari ikan di wilayah perairan Kalimantan, karena penghasilan yang kami dapat disini tidak sepadan dengan biaya operasional yang kami keluarkan untuk membeli bahan bakar dan kebutuhan lainnya untuk melaut," ujar Gab Oma, salah seorang lainnya.

Gab Oma, merupakan tokoh penting dalam kasus pencemaran minyak di Laut Timor ini, karena ia sempat menimbah tumpahan minyak sepekan setelah meledaknya kilang minyak Montara di Blok Atlas Barat Laut Timor pada saat itu.

Tumpahan minyak tersebut kemudian diserahkan kepada Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) Ferdi Tanoni sebagai barang bukti untuk dilakukan uji laboratorium di Australia dan California, AS serta Indonesia.

Dengan tercemarnya minyak di Laut Timor tersebut, sumber daya perikanan di wilayah perairan yang kaya dengan ikan kakap merah itu mulai berkurang akibat habitat mereka tercemar.

"Oesapa yang dulunya sebagai gudang ikan untuk daratan Pulau Timor, kini hanya tinggal kenangan. Ikan-ikan kering yang kita jual saat ini di Oesapa bukan hasil tangkapan dari Laut Timor, tetapi didatangkan dari Kalimatan, Sulawesi dan Sorong," ujar Haji Mustafa. |Leo|

back to top