Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Jogja-KoPi| Pakar Hidrologi dari Fakultas Teknik UGM Dr. Agus Maryono mengajak masyrakat untuk terbiasa memanen air hujan di kala musim penghujan berlangsung. Kegiatan memanen air hujan sangat diperlukan untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang terjadi saat musim kemarau berkepanjangan apalagi diprediksi elnino akan terjadi menjelang akhir tahun ini sehingga sebagian daerah akan terjadio kemarau panjang.

“Kita seharusnya selalu waspada menghadapi kekeringan layaknya mengantisipasi bahaya banjir,” kata Agus kepada wartawan menanggapi dampak kekeringan yang melanda sebagain daerah di Indonesia, Jumat (14/9) di kampus UGM.

Menurut Agus dengan mengatisipasi kekeringan saat musim kemarau dapat diantisipasi dengan memaksimalkan air hujan yang turun dengan cara membuat bak penampung atau menyalurkannya ke dalam sumur. “Mari kita kelola air hujan selama 4-6 bulan tersebut,” ujarnya.

Menurut Agus menampung air hujan sangat bagus untuk mengurangi ketergantungan penduduk terhadap PDAM bahkan menurutnya para petani juga bisa memanfaatkan air hujan dengan membuat sumur atau kolam di sekitar lokasi pertanian.

Untuk rumah yang memiliki sumur menurutnya panen hujan bisa dilakukan dengan mengalirkan air hujan dari atap melalui pipa air menuju sumur. Apabila tidak memiliki sumur bisa dilakukan dengan menggunakan bak penampung. Untuk menyaring air hujan dari kotoran debu di atap bisa digunakan penyaring sederhana seperti bahan kain dan kaos.

Namun demikian, imbuhnya, kebiasaan ini tidak dilakukan oleh masyrakat karena tidak terbiasa melakukan hal tersebut sehingga saat musim kemarau datang banyak daerah yang kekurangan sumber air. “Dahulu masyrakat sangat akrab dengan mengelola air hujan namun sekarang sudah diserahkan ke urusan teknis, menyerahkankannya ke PDAM atau bagian irigasi untuk pertanian,” katanya.

Dikatakan Agus, untuk daerah pertanian misalnya seharusnya petani terbiasa membuat kolam ikan di persawahan dengan menggunkan air hujan sehingga saat musim kemarau datang sisa air kolam masih merembes di sekitar perasawah. “Air hujan bisa dimanfaatkan untuk perikanan,” katanya.

Selain itu, Agus juga mengajak masyarakat untuk terbiasa mencari sumber mata air bahkan mengelola sumur tua yang sudah lama tidak terpakai untuk dikelola bisa menampung air hujan. Menurutnya keperluan tersebut sangat penting untuk menampung air hujan dan bisa digunakan saat musim kemarau sudah tiba.

Menjawab pertanyaan wartawan soal layakkah air hujan dikonsumsi, menurutnya air hujan di Indonesia masih layak untuk dikonsumsi. Ia sudah melakukan penelitian hinga 20-an kali soal tingkat keasaman air hujan di berbagai daerah di Indonesia seperti di Yogyakarta, Bali, Bogor dan Jakarta.

Dari hasil temuan tersebut rata-rata tingkat derajat keasaman (pH) air hujan mencapai 7,2 hingga 7,4. “Layak untuk dikonsumsi, namun untuk air hujan pertama hingga ketiga sebaiknya jangan dulu dikonsumi namun digunakan untuk keperluan lainnya karena masih berisi debu dan polusi lainnya,” katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

back to top