Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Masa depan Jogja kering, terancam kurang sumber air tanah

Masa depan Jogja kering, terancam kurang sumber air tanah

Hotel, mall dituding sebagai sumber ancaman Jogja kehilangan masa depan sumber air bersih atau air tanah.

Jogja-KoPi| Maraknya bangunan-bangunan besar seperti mall dan hotel di Jogja sepertinya menjadi ancaman serius bagi masa depan sumber air bersih masyarakat. Kasus aksi protes warga tentang sumber air sumur mereka yang mengering setahun lalu memberikan indikasi bahwa Jogja tengah dalam ancaman kekurangan sumber air bersih ke depan. (Kisah Dodok melawan ancaman Jogja kering)

Rektor UPN Veteran Yogyakarta, Sari Bahagiatri, membenarkan bahwa  pendirian hotel otomatis akan mengurangi debit air tanah di Jogjakarta. Bahkan ancaman ini berlaku untuk semua bangunan besar tidak hanya hotel namun juga rumah sakit dan pusat perbelanjaan patut dipantau.

Sementara itu Dosen UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh menambahkan perlu disadari air tanah Jogja tengah dikuasai oleh sekelompok orang. Air untuk masyarakat yang berlokasi di sekitar hotel menjadi kering akibat dampak hotel. Sayangnya, pemerintah cenderung membiarkan aktivitas eksploitasi air tanah tesebut.

Melihat situasi Jogja yang semakin terancam kering, Dodok, yang saat ini menjadi aktivis lingkungan mencoba melakukan aksi-aksi demi menyelamatkan Jogja. Salah satunya upaya  memboikot pembagunan hotel.

“Kita maunya nggak usah dibangun hotel, bangun aja losmen-losmen. Lha kalau mau bangun hotel, kita bikin losmen gratis biar hotel nggak laku,” ancam Dodok.

Hal serupa juga disampaikan oleh Eko Teguh. Dirinya selalu mengkampanyekan memanen air. Tidak hanya hotel, rumah sakit atau bangunan besar lain, tetapi setiap warga mempunyai sumur resapan. Persoalannya air yang mengalir di bawah permukaan belum ada proses monitoring dan evaluasi pemakaian air.

Sayangnya, kasus serius seperti ini banyak masyarakat bersikap tidak peduli, meskipun kampanye terus dilakukan. Menurut Eko, bila ada kasus yang menimpa mereka secara langsung, barulah masyarakat ada yang merespon. Banyak masyarakat menganggap kecenderungan penurunan air tanah dari waktu ke waktu dari banyak tempat adalah penurunan yang terjadi alamiah. (Jogja kering, PDAM salah satu tertuduh)

“Hal itu juga rendahnya rasa empati masyarakat. Bila satu wilayah protes mereka justru mencela. Mereka hanya akan bersuara kalau diri mereka terkena. Padahal ini masalah bersama, kita sama-sama menjaga air di Jogja,” keluh Eko Teguh.

Sementara itu Halik Sandera, Ketua Walhi Jogja, menyatakan kasus air ini sangat krusial dan harus ada penegakan yang tegas terhadap pelanggarannya. Untuk kawasan perkotaan Jogjakarta pasokan air tanah hanya mengandalkan air hujan, jelasnya. (Menjerat dengan Undang-Undang dan Perda Air)

“Hotel di sini sangat berpotensi mengurangi air tanah, apalagi kalau sekarang pengambilannya dengan mengambil air tanah dangkal miliki warga,” kata Halik.

Kasus demi kasus yang sudah terjadi karena pemerintah lebih memberi peluang pengusaha hotel. Jika tidak ada masyarakat yang protes, pihak pemerintah juga akan diam. Ada indikasi banyak permainan di bawah meja.

“Yang terjadi saat ini pembangunan menyalahi prosedur perijinan, biasanya AMDAL belum selesai , hotel sudah masuk tahap pembangunan. Padahal IMBnya belum keluar." kritik Halik.

Namun, Budi dari Badan Lingkungan Hidup Jogja (BLH) menampik anggapan bahwa pemerintah diam saja dan ada permainan 'pat gulipat'. Ia mengatakan beberapa waktu yang lalu sudah ada moratorium dari walikota tentang hotel.

“Kalau tidak salah Perwal no 77 tahun 2013, bahwa sudah di stop pembangunan hotel sampai 2016. Hotel yang didirikan sekarang, ijin yang tahun lalu”. Budi menegaskan pembangunan sebuah hotel bisa dilakukan setelah semua perijinan selesai.

“Itu Iya bisa diperiksa saja. Bila hotel yang bersangkutan mempunyai dokumen lengkap. Tidak menutup kemungkinan ada hotel yang tidak mempunyai dokumen, atau illegal”, kata Budi.

Adanya indikasi permainan ijin ini menjadi keprihatinan para aktivis lingkungan hidup di Jogja. Untuk itu, Eko Teguh tengah menggalakkan tiga hal yang harus dilakukan bersama. Pertama mendiskusikan hotel yang bermasalah, masyarakat yang bermasalah, dan pemerintah yang bermasalah.

“Kita mengingatkan pemerintah yang melupakan mandatnya. Kondisinya saat masyarakat ada masalah, hotel cuma kena sedikit masalah dan pemerintah tidak memberikan solusi masalah”, tutur Eko Teguh.

Tentu saja semua pasti ada solusinya. Tetapi ancaman Jogja kering di masa depan bukan semata khayalan bila tidak ada yang peduli. Apalagi bila pihak pemerintah Jogja benar-benar menutup mata dan membiarkan bangunan-bangunan besar terus tumbuh. Kalau seperti ini, rasanya memang kita tidak memikirkan masa depan anak cucu. Menurut Anda? | Winda Efanur Fs

back to top