Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Lahan konservasi Wonorejo digerus perumahan

Lahan konservasi Wonorejo digerus perumahan
Surabaya – KoPi | Miris. Itulah yang terlintas di pikiran ketika melihat kawasan konservasi mangrove Wonorejo, Surabaya. Meski disebut sebagai kawasan konservasi, pengembangan perumahan terus menggerus lahan di kawasan tersebut. Dua tahun lalu, warga Surabaya masih bisa melihat burung migran yang mampir di rawa atau tambak paling luar di kawasan Wonorejo.
 

Namun saat ini kawasan tersebut telah disulap menjadi perumahan. Tambak-tambak petani sudah dipasang tanda: “dijual”. Tak ada lagi burung migran yang terlihat mampir. Hanya di kawasan paling dalam Wonorejo Anda bisa melihat burung-burung tersebut berkeliaran dengan bebas.

Berkurangnya lahan di Wonorejo diakui oleh para petani tambak di Wonorejo. Salah seorang petambak, Ratno, mengaku sudah banyak pengembang yang menawari dirinya dan petani tambak lain untuk menjual lahan mereka. Ratno tak mau menyebutkan berapa harga yang pernah ditawarkan kepadanya. 

“Saya sendiri tak ingin melepaskan lahan tambaknya. Nggak tahu bagaimana teman-teman (petambak) yang lain. Jika tuntutan kehidupan memaksa, bisa saja mereka menjual lahan mereka kepada pengembang,” ungkapnya pada KoPi (12/3).

Ratno mengatakan, tambak sudah bukan lagi menjadi pekerjaan utama mereka. Hasil tambak mereka tidak lagi seberapa. Pencemaran air menjadi salah satu penyebabnya. Mereka kini menambah penghasilan dengan menanam mangrove.

Lahan tambak merupakan salah satu benteng ekosistem di Wonorejo. Selain dihuni berbagai jenis burung pantai lokal, burung migran juga kerap mengunjungi kawasan ini ketika bermigrasi setiap tahunnya. Mereka tertarik dengan kawasan hutan bakau dan tambak sebagai tempat mencari makan sebelum meneruskan perjalanan tahunan mereka. 

Bisa dikatakan keberlangsungan burung-burung tersebut tergantung pada keberadaan tambak petani. Namun, jika pengembangan perumahan terus dibiarkan tanpa kendali, burung-burung tersebut bisa terancam tidak bisa mendapatkan makanan. Tanpa adanya burung-burung tersebut, kawasan konservasi akan kehilangan artinya. Apa daya, jika tambak tidak lagi mampu menopang penghidupan, pilihan yang ada hanya menjualnya kepada para pengembang. 

 

back to top