Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Kisah Dodok melawan ancaman Jogja kering

Kisah Dodok melawan ancaman Jogja kering

Setahun lalu, 2014, muncul aksi tunggal warga Jogja dan kemudian dikuti warga lain terkait mengeringnya air sumur warga yang diduga akibat berdirinya hotel-hotel. Dodok, salah satu penduduk dan aktivis lingkungan masih terus berjuang agar masa depan Jogja tidak mengering.

Jogjakarta-KoPi| Setahun lalu, pada bulan Agustus 2014, sumur-sumur penduduk Miliran tiba-tiba mengering. Dodok, yang juga merupakan salah seorang penduduk tersebut kemudian mencoba mengusut penyebab keringnya sumur. Dugaan awal waktu itu karena berdirinya Fave Hotel.

Menurutnya selama bertahun-tahun tinggal di Miliran pada waktu musim kemarau pun sumur tidak pernah asat (kering). Namun setelah kemunculan Fave Hotel dua tahun lalu tiba-tiba sumur Dodok asat. Tanpa pikir panjang Dodok menggedor pintu belakang Fave Hotel meminta bertemu dengan GM hotel. Namun, ia hanya dipertemukan dengan HRD hotel yang tidak memberikan titik terang.

Merasa hasilnya nihil, Dodok melakukan aksi protes sendiri, dia melakukan perform mandi dengan pasir di depan Fave Hotel.

“Waktu itu susah, gerakin warga, karena alasan ada beberapa yang pakai sumur pom. Akhirnya saya perform sendiri”, kenang Dodok. Aksi Dodok meledak dan mendapat banyak respon dari masyarakat maupun aktivis lingkungan hidup.

Hanya saja yang disayangkan Dodok ketika diadakan pertemuan bersama antara warga, pihak hotel , BLH dan PU, pertemuan tersebut tidak berjalan lancar.

“Pernah ada pertemuan dengan pihak Badan Lingkungan Hidup (BLH), PU. Pihak BLH memaparkan bahwa Fave Hotel sudah sesuai prosedur. Saya ngotot pihak hotel mengambil air warga. Lalu di situ dijaga polisi segala. Saya bilang ke polisinya, nggak usah berdiri seperti itu, saya nggak takut. Kalian harusnya bela kami bukan bela hotel. Jangan-jangan BLH dan semuanya sudah dibayar hotel semua. Nah setelah itu ada gangguan mati lampu hingga akhirnya pertemuan itu bubar”, kata Dodok.

Sementara itu Budi, Kepala Bidang Pengawasan dan Pemulihan BLH Kota Yogyakarta, menyatakan terlalu dini mengkambing-hitamkan Fave Hotel. Dalam hal ini perlu kajian lebih lanjut, katanya. Penduduk  Jogja bertambah seiring dengan bertambahnya pemukiman di Yogyakarta. Hal ini mengakibatkan turunnya debit air di Yogyakarta.

“Saya tidak mengatakan Fave bersalah atau tidak. upaya yang perlu dilakukan dengan pumping test, untuk membuktikan sumur bor Fave penyebabnya. Kita perlu mengkaji, mengapa asat. Itu karena warga yang tidak nyuntik. Orang sekarang warga banyak menuntut ke Fave, mereka minta disuntik sumurnya ke Fave karena mereka mengaku tidak mempunyai uang. Pada kasus ini, bisa saja Fave penyebabnya, soalnya sumur Fave sekarang sudah disegel”, kata Budi.

Dodok sendiri merasa kecewa dengan pernyataan BLH yang dianggap melindungi pihak hotel. “Dibayar berapa BLH oleh Fave, yang harus dibela BLH itu warga karena yang menggaji mereka adalah rakyat. Sudah jelas Fave maling air tanah, dua tahun nggak punya ijin pemanfaatan air tanah, masih dibela”, kritiknya.

Hal senada juga disampaikan oleh Dosen UPN Veteran Jogjakarta, Eko Teguh mempertanyakan logika BLH. Sebelum ada hotel tidak ada penurunan muka air tanah. Namun setelah hotel hadir terjadi anomali air tanah. (baca:Masa depan Jogja kering, terancam kurang sumber air tanah )

Dodok pun bercerita dulu pihak pemerintah sudah mengecek sumur bor milik Hotel. Dan hasilnya menunjukan Fave Hotel sudah berdiri selama dua tahun, namun Fave Hotel belum memiliki ijin pengambilan air tanah. Selepas itu warga Miliran menyegel sumur Hotel. Tidak lama air kembali mengalir deras ke sumur warga.

Selanjutnya warga Miliran tidak mengikuti mangkirnya perijinan sumur Fave Hotel. Warga Miliran berhenti setelah penyegelan sumur Fave yang mengakibatkan air sumur warga kembali normal.

Peristiwa aksi protes warga Miliran ternyata kemudian diikuti daerah lain seperti warga Penumping, Gowongan, dan Prawirotaman. Seragam dengan kasus Miliran, di daerah Gowongan sudah lama mengalami sumur asat khususnya wilayah RT 14 dan Rt 15, namun warga hanya diam.

Baru setelah warga RT 20 mengeluh sumur mengering, ketua RT 20 Edi bertindak. Edi bermusyawarah dengan warga Gowongan juga melobi Pak Camat. Namun hanya beberapa warga yang merespon positif. Tidak berhenti sampai situ. Edi dan bersama warga mengadu ke Pekmot DIY.

“Saya bilang ke pihak pengaduan Pemkot. ini harus ditindak jangan cuma dicatat sebagai pengaduan saja”, tegas Edi.

Esok harinya pihak Pemkot memeriksa sumur Hotel 101. Menurut hasil pumping test terbukti Hotel 101 mengambil sumur warga. Sebagai tindak lanjut warga mengadakan koordinasi dengan pihak hotel, hasil  musyawarah hotel memberikan kompensasi kepada warga.

Warga Gowongan, itu ribuan- pumping test menyalahi, menganggu masyarakat, kayaknya ini ada pelanggaran, 10 % memberi air ke warga. Awalnya waktu sosialisasi hanya beberapa warga yang diundang. Edi selaku ketua RT kecewa dirinya tidak diundang.

“Saya tidak diundang, soalnya saya yang vocal melawan mereka. Musyawarah yang terjadi antara pihak hotel dan warga saja, yang saya sayangkan tidak menyertakan pihak pemerintah”, keluh Edi.

Dari kasus tersebut, para aktivis lingkungan hidup di Jogja menyatakan akan terus melakukan perlawanan untuk menyelamatkan masa depan Jogja tercinta. | Winda Efanur Fs

back to top