Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Ironi ekowisata tanpa unsur ekologi

Lalu lalang kapal wisata di ekowisata Wonorejo dinilai mengganggu habitat burung Lalu lalang kapal wisata di ekowisata Wonorejo dinilai mengganggu habitat burung
Surabaya – KoPi | Semakin hilangnya kawasan singgah untuk burung migran di Wonorejo diakui para aktivis lingkungan di Surabaya. Iwan Londo dari Sahabat Burung Nusantara mengatakan penempatan lahan konservasi di Wonorejo salah tempat. Di tempat tersebut banyak ditanam mangrove yang dimaksudkan sebagai upaya kelestarian lingkungan, tapi konversi lahan untuk perumahan terus dilakukan.
 

Iwan menyebutkan tidak ada batas yang jelas di mana pengembangan lahan boleh dilakukan. Hal itu juga diakui Ratno, petani tambak setempat. Meskipun kawasan Wonorejo disebut sebagai wilayah konservasi, namun pengembangan perumahan terus berjalan, bahkan semakin mendekati area konservasi. “Ini kalau pengembang terus masuk, lama-lama kawasan sini bisa habis, Mas,” ujar Ratno.

Iwan mengaku pernah berbicara dengan kawannya yang bekerja di Departemen Kehutanan Surabaya. Sang kawan tersebut juga mengaku Departemen Kehutanan sendiri bingung dengan kepemilikan lahan di Wonorejo. Departemen yang mengawasi pun tidak jelas, karena semuanya tumpang tindih.

Selain itu, ia mengkritisi masalah ekowisata Wonorejo. Kawasan wisata tersebut dianggapnya tidak menerapkan konsep ekologi sama sekali. Ia melihat selama ini pengunjung hanya disuguhi pemandangan bakau, naik perahu, kemudian pulang. “Konsep ekowisata itu tidak seperti itu. Seharusnya ada guide yang memandu mereka, menjelaskan tanaman apa ini, burung apa itu, bagaimana habitatnya. Seharusnya seperti taman safari. Nah kalau ini tidak ada konsep sama sekali,” ujarnya.

Ia mengatakan pengelolaan ekowisata saat ini justru jauh dari kelestarian lingkungan, bahkan mengganggu ekosistem pantai. Kapal-kapal wisata yang lalu lalang dengan suara berisik tentu akan membuat burung takut mendekat. Akibatnya tidak ada atau sedikit sekali burung yang terlihat di kawasan ekowisata.

Seharusnya, ada jadwal kapan kapal wisata boleh lewat. Selain untuk membatasi jumlah kapal yang lalu lalang, jadwal juga bisa berguna agar pengunjung bisa melihat langsung burung-burung yang singgah di kawasan konservasi. Burung-burung tersebut tidak sepanjang hari di sana, mereka hanya mencari makan di saat tertentu. Dengan penjadwalan yang sesuai, pengunjung juga bisa melihat langsung burung-burung tersebut.

 

back to top