Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Indonesia dahulu menyatu dengan Benua Antartika, ini buktinya

Indonesia dahulu menyatu dengan Benua Antartika, ini buktinya

Sleman-KoPi|Nugroho Imam Setiawan,Ph.D Dosen Geologi UGM kembali dari Ekspedisinya di Benua Antartika , Kutub Selatan. Ekspedisi digelar oleh Japan Antarctic Research Expedition (JARE) yang ke 58, Nugroho beserta tujuh peneliti lainnya selama empat bulan meneliti batuan geologi Antartika.

Nugroho melakukan ekspedisi bersama satu peneliti Thailand, satu dari Mongolia, dan lima peneliti dari Jepang.

“Total anggota Ekspedisi JARE 58 adalah 80 anggota, 34 merupakan peneliti, sisanya tim Engineer , Guru SD dan Guru SMP dari Jepang. Dalam ekspedisi 4 bulan tersebut, rincian waktunya satu bulan berangkat dengan Kapal Shirase, dua bulan kita melakukan ekspedisi, lalu satu bulan perjalanan pulang,”jelasnya saat Jumpa Pers di Kantor Pusat UGM, Rabu (29/3).

Nugroho sendiri berangkat dari Indonesia pada tanggal 27 November 2016 dan kembali ke tanah air pada tanggal 22 Maret 2017. Selama ekspedisi tersebut Nugroho bersama peneliti geologi lainnya meneliti bebatuan Antartika.

Salah satunya merupakan batu tertua di dunia yaitu batu Metamorphis. Nugroho menjelaskan batuan metamorphis tersebut dapat mencapai usia 3,8 Milyar tahun.

 

Beberapa fakta menarik dari batu ini adalah batu metamorphis dapat ditemukan di berbagai negara. Nugroho menambahkan, batuan metamorphis pernah ditemukan di Papua dan Kalimantan. Dari temuan ini, muncul spekulasi dulunya kemungkinan Indonesia dan Benua Antartika pernah bersatu.

 

Batuan Metamorphis ini dapat menjadi bukti rekam yang dicari oleh peneliti geologi dalam mencari tahu sejarah bumi dan bagaimana nasib bumi di masa depan. Selain itu, Nugroho juga mengatakan batuan metamorphis dapat tahan dalam suhu ekstrim lebih dari 1000° Celsius dan tidak berubah menjadi magma.

Nugroho mengatakan pihaknya bersama peneliti Asia lainnya sudah mengambil sampel batuan ini dengan jumlah lebih dari 200 Kilogram dan dalam perjalanan ke Indonesia. Selanjutnya sampel ini akan diteliti lebih lanjut agar kerjasama internasional dalam ekspedisi Antartika ini tetap berlanjut.

“Kami memiliki tujuan khusus nya untuk di dua lokasi survey di Antartika yaitu Lutzow holm complex dan napiern complex (NC)untuk menemukan batuan metamorph. Batuan Metamoprh tersebut sudah diambil dan kemungkinan sudah sampai di Indonesia di Bulan Mei,” jelas Nugroho.

Riset dan penelitian antarnegara ini juga didukung penuh oleh pihak UGM. Rektor UGM Dwikorita Karnawati mengatakan meski UGM memiliki keterbatasan alat penelitian, namun UGM tetap berani dan mampu sejajar dengan peneliti dunia lainnya.

“Semoga dari penelitian, kita bisa menguak sejarah bumi dari batuan bumi yang tertua, yaitu metamorph. Sehingga kedepannya kita bisa melihat masa depan bumi lewat batuan Metamorph,” kata Dwikorita.

Nugroho juga menjelaskan dirinya memiliki peran mendorong bangsa Indonesia untuk meneliti Antartika. Pasalnya dalam ilmu Oceanografis Laut Antartika memiliki kaitan erat dan berhubungan langsung dengan laut Indonesia.

Selama Ekspedisinya di Antartika, Nugroho mengungkapkan momen yang dia habiskan selama ekspedisi terasa berkesan. Seperti terombang-ambing dilautan selama satu Bulan, menghabiskan waktu meneliti bebatuan Antartika bersama Peneliti lainnya, hingga waktu yang tidak pernah menunjukkan waktu malam.

“Selama disana waktu selalu siang karena matahari tidak pernah benar-benar Tenggelam, beberapa Rekan Peneliti sempat mengeluh tidak bisa tidur karena matahari tidak pernah tenggelam,” Pungkasnya.| Syidiq Syaiful Ardli

back to top