Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

"Hatiku berdesir ketika memandangnya..."

"Hatiku berdesir ketika memandangnya..."

Pagi itu, aku memberanikan diri menembus kabut—Sang Penyihir jiwa yang tangguh meninabobokan siapapun di balik selimut hangat. Langkahku mengikuti alur jalan yang tampak samar. Kata orang-orang, jika berjalan di sini ketika matahari belum bersinggasana, kabut akan menyegarkan pikiran lelah yang tak lagi ranum. Namun, tidak untuk hari ini.

Hatiku berdesir ketika memandangnya. Ada hal yang mengusikku. Seperti sayap hitam burung gagak raksasa.

Kabut disini tidak seperti yang dikatakan mereka. Sesak. Ada yang salah. Beberapa detik degupku menyadarinya. Ah semua tak lagi sama. Aku begidik, dan terhimpit kenyataan tidak menyenangkan.

Ini bukanlah bumiku yang apik parasnya. Ah…aku terlalu lama bersarang di balik selimut. Bahkan tak tahu adanya pergantian zat penyusun kabut – sesuatu yang dulu kuanggap sebagai pelengkap dunia semata. Sekarang dicari-cari layaknya sebuah permata yang hilang.

Bumi. Perasaan apa ya ini, bersaksi dan hidup dalam bumi sesempit saluran got yang telah disumbat oleh tumpukan sampah. Agak lucu bila suatu waktu ada kegiatan bekerja bakti dan jawaban kita adalah ‘Lagi-lagi membersihkan lingkungan...’

Aneh bila kita sadar bahwa segala hal itu merujuk pada adanya keyakinan bahwa kita dan Bumi adalah dua hal yang sangat berbeda dan tidak merasa adanya ‘keterikatan’ kepentingan satu dengan yang lain.

Padahal faktanya? Lantas, entah berapa kali kutonton The Earth and Us ini. Makin sering menontonnya, makin membesar dentum perasaan untuk ikut bekerja. Apapun yang aku bisa. Karena percaya atau tidak, aku memilih ini: “Satu-satunya cara untuk mengubah dunia adalah mengubah manusianya. Satu per satu.” | Salsa

Media

back to top