Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Energi alternatif, pencarian setengah hati

Prof. Dr. Gede Wibawa Prof. Dr. Gede Wibawa
Surabaya – KoPi|Semakin mahalnya bahan bakar minyak (BBM) kembali membangkitkan minat masyarakat untuk menemukan bahan bakar alternatif. Berbagai macam inovasi telah diciptakan, mulai bahan bakar dari minyak jarak, tetes tebu, tongkol jagung, bahkan dari sampah. Masyarakat dan pemerintah berkali-kali mengapresiasi inovasi tersebut. Namun, hingga sekarang tidak pernah ada realisasi nyata untuk menjadikan invoasi tersebut menjadi produksi masal.
 

Pengajar Program Pasca Sarjana Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Prof. Dr. Gede Wibawa mengakui penerapan energi alternatif masih setengah hati. Selama ini peneliti Indonesia diminta menciptakan energi alternatif yang ramah lingkungan, namun pada akhirnya pemerintah tidak menciptakan kebijakan yang mendukung. 

Gede mencontohkan, untuk pengembangan bahan bakar campuran seperti bio-ethanol saja tidak ada kebijakan yang konsisten. Akibatnya orang jadi ragu-ragu untuk mengembangkan bahan bakar tersebut.

“Contohnya dulu pemerintah membuat kebijakan bahwa bahan bakar diesel harus dicampur bio-ethanol 15%. Namun ternyata tidak ada kelanjutan. Orang-orang mau produksi bio-ethanol jadi takut produk mereka tidak terserap. Padahal saya pernah menghitung, jika pemerintah mau meneruskan kebijakan tersebut, akan ada penghematan bahan bakar dari minyak bumi yang cukup besar,” tutur Gede yang pernah menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Energi dan Rekayasa ITS ini.

 

back to top