Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Energi alternatif, pencarian setengah hati

Prof. Dr. Gede Wibawa Prof. Dr. Gede Wibawa
Surabaya – KoPi|Semakin mahalnya bahan bakar minyak (BBM) kembali membangkitkan minat masyarakat untuk menemukan bahan bakar alternatif. Berbagai macam inovasi telah diciptakan, mulai bahan bakar dari minyak jarak, tetes tebu, tongkol jagung, bahkan dari sampah. Masyarakat dan pemerintah berkali-kali mengapresiasi inovasi tersebut. Namun, hingga sekarang tidak pernah ada realisasi nyata untuk menjadikan invoasi tersebut menjadi produksi masal.
 

Pengajar Program Pasca Sarjana Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Prof. Dr. Gede Wibawa mengakui penerapan energi alternatif masih setengah hati. Selama ini peneliti Indonesia diminta menciptakan energi alternatif yang ramah lingkungan, namun pada akhirnya pemerintah tidak menciptakan kebijakan yang mendukung. 

Gede mencontohkan, untuk pengembangan bahan bakar campuran seperti bio-ethanol saja tidak ada kebijakan yang konsisten. Akibatnya orang jadi ragu-ragu untuk mengembangkan bahan bakar tersebut.

“Contohnya dulu pemerintah membuat kebijakan bahwa bahan bakar diesel harus dicampur bio-ethanol 15%. Namun ternyata tidak ada kelanjutan. Orang-orang mau produksi bio-ethanol jadi takut produk mereka tidak terserap. Padahal saya pernah menghitung, jika pemerintah mau meneruskan kebijakan tersebut, akan ada penghematan bahan bakar dari minyak bumi yang cukup besar,” tutur Gede yang pernah menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Energi dan Rekayasa ITS ini.

 

back to top