Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Di Borobudur, selain marmer merah, ada emas juga

Foto: AndiSetyaji PN Foto: AndiSetyaji PN

Borobudur itu kaya. Punya Mandala Borobudur, punya Candi Pawon, punya candi lain yang belum sempat tergali. Selain itu, juga punya marmer merah yang langka di dunia dan bahkan mungkin ada emas dan minyak. Pantas, akhir-akhir ini semakin banyak orang kaya berinvestasi ke Borobudur.

Borobudur-KoPi| Kawasan Borobudur yang diantaranya merupakan bukit-bukit, d dalamnya menyimpan pelbagai kekayaan alam. Sebut saja misalnya di kawasan Ngadiretno, di area perbukitan yang dulu pernah merekam jejak perjuangan Pangeran Diponegoro dalam perjuangannya melawan penjajah Belanda, bukit ini memiliki kandungan marmer merah. Marmer yang konon di dunia hanya ada di Italia dan Indonesia.

Di masa pemerintahan Soeharto, menurut Arif, salah satu penduduk, marmer itu dikelola oleh PT Margola. Pemiliknya adalah Probosutedjo, adik mantan Presiden Soeharto.

"Dahulu sekitar tahun 1989, tanah di sekitar sini dibeli dengan harga sekitar Rp.2500-3000; per meternya, ada kurang lebih 18 hektar. Kalau tidak mau dibeli bakal dicap sebagai PKI." Kisahnya.

Kala itu, penduduk desa banyak yang menolak penambangan itu, tetapi tidak bisa melawan. Masyarakat merasa dirugikan dengan hadirnya pemodal besar yang hanya mengeruk tanpa memperhatikan kesejahteraan penduduk dan lingkungan. Masih menurut Arif, mata air yang berada di dalam wilayah tambang marmer, debitnya terus mengecil dan nyaris mati.

"Ada dua mata air yang ada dalam kawasan tambang, semuanya biasa digunakan penduduk sekitar. Tetapi sudah semakin mengecil debitnya. Gua Lowo yang menjadi persembunyian Pangeran Diponegoro juga hilang. Di awal tahun 2003, pernah terjadi longsor juga dan jalan rusak tidak diperbaiki"

Masih menurut Arif, di tahun 2003 adalah puncak perlawanan penduduk desa, tetapi hasilnya juga masih nihil. Ada Walhi dan LBH dan beberapa LSM yang memberikan advokasi, tetapi tetap mandul. Arif berharap bahwa semua kekayaan alam ini, seharusnya bisa menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar tanpa merusak lingkungan.

Emas dan Minyak

Selain marmer merah, Borobudur juga punya cerita lain tentang kekayaan alam ini. Di Desa Kebonsari, desa sekitar barat, empat kilometer dari Mandala Borobudur, diceritakan ada potensi emas di dalamnya.

Salah seorang penduduk bercerita, beberapa tahun lalu, ada seorang keturunan Tiongkok yang tinggal di kawasan Kota Magelang, bersama pekerjanya berhasil menemukan emas di sekitar sungai irigrasi di kaki bukit. Orang itu lantas menyewa tanah di sekitar, tetapi penduduk menolak daerahnya ditambang. Bukit ini juga memiliki garis lurus dengan wilayah tambang marmer merah di Ngadiretno dan sekitarnya.

Lepas dari wilayah Kebonsari, tidak jauh dari sana terdapat dusun bernama Brongsongan Desa Rigin Putih, Borobudur. Desa ini punya cerita sendiri tentang kemungkinan adanya potensi minyak di dalam bumi Borobudur. Salah satu tetua dusun bercerita pada KoranOpini.com tentang dugaan itu.

"Sekitar tahun 2009 atau 2010, ada penduduk pendatang yang membuat sumur bor. Di daerah sini kan sulit air, jadi ngebor adalah satu-satunya cara agar dapat sumber air. Ketika dibor keluar cairan yang berwarna hitam kental. Karena kita semua takut dengan kejadian Lapindo di Jawa Timur, jadi kita panggil orang pintar. Sama orang pintar itu, cairan yang keluar tadi diberi bunga dan menyan, lalu dioakan. Setelah itu cairan hitam itu tidak keluar lagi."

Beberapa sumber menduga itu adalah minyak bumi. Tetapi Beberapa akademisi UPN Veteran dan UGM ketika dimintai tanggapannya belum berani memastikan. Tetapi, terlepas itu benar atau tidak, kita cuma bertanya, apakah ini yang medorong para pemodal besar datang di Borobudur? Lalu bagaimana nasib alam dan masyarakatnya? | Reporter: E Hermawan| Winda Efanur FS

Baca: Berbondong dan berebut tanah Borobudur

back to top