Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Ayo cat kukumu untuk Hari Badak Internasional!

Ayo cat kukumu untuk Hari Badak Internasional!
KoPi| Nasib badak kian hari makin memprihatinkan. Populasi satwa bercula tersebut kian lama kian menyusut. Bertepatan dengan Hari Badak Internasional (World Rhino Day) yang jatuh pada hari ini (22/9), World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia merilis populasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon.
 

Menurut WWF Indonesia, saat ini populasi badak Jawa hanya tinggal 60 ekor. Integritas habitatnya bersaing dengan pertumbuhan masif langkap (Arenga obtusifolia), sejenis tanaman palem yang menghalangi sinar matahari menembus bagian bawah hutan. Tanaman langkap menyebabkan pakan alami badak tak dapat tumbuh.

“Ini merupakan salah satu ancaman serius bagi keberlangsungan populasi badak Jawa, selain bencana alam,” kata Arnold Sitompul, Direktur Konservasi WWF Indonesia, dalam press rilis WWF, Senin (21/9).

Menurut Arnold, badak Jawa harus segera dicarikan “rumah baru” selain di Ujung Kulon, sebagai habitat kedua. Ini adalah langkah mitigasi yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan populasi Badak Jawa di dunia. Kondisi habitat badak Jawa di TNUK sangat rentan oleh bencana alam, karena lokasinya yang dekat Gunung Krakatau. Jika suatu saat gunung tersebut meletus dan menghancurkan habitat badak Jawa, maka umat manusia akan kehilangan salah satu aset keanekaragaman hayati.

Di luar Indonesia, ancaman utama bagi populasi badak adalah perburuan liar. Setiap tahun, ratusan badak putih dan badak hitam Afrika dibantai demi culanya. Cula tersebut dianggap sebagai obat mujarab dalam pengobatan tradisional, terutama bagi penduduk Vietnam. Jika perburuan liar terus berlangsung, diperkirakan badak akan punah pada tahun 2026 mendatang.

Salah satu upaya kampanye penghentian perburuan badak dilakukan oleh Save the Rhino International. Organisasi yang bermarkas di Inggris tersebut mengajak para netizen melakukan kampanye penghentian perburuan badak lewat nail arts. Mereka mengajak netizen mengecat kuku mereka dengan cat atau gambar bertema badak, lalu mengunggahnya di media sosial dengan hashtag #nailit4rhinos. Mengapa kuku? 

Hal itu tak lain karena kuku manusia terbuat dari bahan yang sama dengan cula badak, yaitu keratin. Artinya, mengkonsumsi cula badak sebagai obat sama saja memakan kuku kita sendiri. Keratin sendiri sama sekali tidak memiliki nutrisi jika dikonsumsi. Segala macam klaim mengenai efektivitas cula badak dalam pengobatan tradisional hanyalah imajinasi manusia belaka.

back to top