Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Awas, jangan buang makanan sisa sembarangan!

Awas, jangan buang makanan sisa sembarangan!
KoPi| Orang tua kita selalu menasehati agar mengambil makanan secukupnya dan jangan pernah menyia-nyiakan makanan. Namun, di jaman modern ini, saat manusia mencapai kemakmuran tertinggi, semakin berlebih bahan makanan yang tersedia. Sayangnya tak semuanya habis termakan. Pernahkah kita berpikir seberapa besar bahaya jika kita membuang makanan sisa?
 Badan pangan dunia, FAO, memperkirakan, manusia membuang sampah sisa makanan sebesar 1,4 miliar ton setiap tahunnya. Jumlah yang luar biasa. Jumlah itu disebut jauh lebih berat daripada Gunung Fuji yang ada di Jepang.

Berdasarkan penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Environmental Science and Technology, makanan sisa memberi beban yang luar biasa pada planet ini. Limbah makanan disebut sebagai penyebab pemanasan global. Negara-negara Barat dianggap sebagai pihak yang paling bertanggungjawab pada kondisi kritis ini.

"Salah satu penyebab perubahan iklim adalah gaya konsumsi makanan di negara-negara Barat," ungkap Jurgen Kropp, peneliti asal University of Postdam, Jerman.

Kropp mengungkapkan, meskipun jumlah konsumsi tidak banyak berubah selama 50 tahun terakhir, surplus makanan secara global mencapai meningkat 65 persen lebih banyak. Produksi makanan yang semakin banyak berakibat pada makin besarnya gas rumah kaca yang dikeluarkan sektor pertanian. Parahnya, meski produksi makanan dunia semakin banyak, hal itu tidak mengurangi jumlah korban kelaparan di negara-negara miskin.

Dalam penelitian tersebut, Kropp dan rekan-rekannya menyebutkan, dengan menghindari membuang makanan sisa, manusia dapat mencegah efek bencana iklim seperti cuaca ekstrem.

"Sektor pertanian merupakan pendorong terbesar perubahan iklim, bertanggungjawab pada 20 persen emisi gas rumah kaca secara global pada tahun 2010. Menghindari pembuangan makanan sisa dapat menghindari emisi gas rumah kaca yang tak perlu dan membantu mengurangi dampak perubahan iklim," jelas Prajal Pradhan, rekan peneliti Kropp.

Menurut data FAO, setiap tahun sekitar sepertiga makanan di dunia dibuang sia-sia. Makanan sisa tersebut bernilai kurang lebih US$ 1 triliun (sekitar Rp 13 ribu triliun). Padahal, jumlah tersebut dapat memberi makan 2 triliun orang. Saat ini, diperkirakan ada 800 juta orang di dunia yang mengalami kelaparan dan kekurangan gizi. |Huffington Post

back to top