Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Tangisan sopir angkutan umum di Yogyakarta

Tangisan sopir angkutan umum di Yogyakarta

Yogyakarta- KoPi- Kehadiran Trans Jogja yang digadang-gadang sebagai alternative pengurai kemacetan, hingga saat ini belum mampu mengatasi masalah. Bahkan sebaliknya, Trans Jogja memunculkan persoalan baru di lingkungan sosial dan berdampak buruk pada perekonomian masyarakat, seperti para pelaku transportasi massal yang dikelola oleh pihak Koperasi Pemuda.

Sektor 8 jalur D6 adalah satu dari sekian banyak nasib transportasi umum milik koperasi Pemuda yang merasakan dampaknya langsung dari kebijakan pemerintah, seperti hasil wawancara Koranopini.com pada hari selasa 23 September 2014 di titik pangkal bus mini D6 di Maguwoharjo. (Baca: Wajah Trans Jogja kini)

Dari jumlah awal 29 armada yang dimiliki D6 hingga saat ini yang masih bertahan berjumlah 22 armada. Trayek D6 yang pada awalnya mencakup terminal Jombor-Maguwoharjo-Prambanan, terpaksa harus dipotong menjadi terminal Jombor-Maguwoharjo. Hal ini dikarenakan selain trayek tersebut digunakan oleh Trans Jogja, alasan utama adalah untuk menekan pengeluaran BBM dan meringankan perawatan bus.

“Pendapatan kami jelas berkurang setelah hadirnya Trans Jogja, hal ini dikarenakan Trans Jogja pun menggunakan trayek yang biasa kita pake.” Tutur Tuwuh selaku koordinator sektor 8 jalur D6.

Berkurangnya armada D6 yang dimiliki koperasi Pemuda, disebabkan pemasukan para supir berkurang, sehingga mereka kesulitan untuk melakukan perawatan bus, dan berujung pada penjualan armada ataupun dikandangkannya armada. Ketidak jelasan pendapatan mereka membuat para pelaku bisnis ini memilih gulung tikar ataupun mencari pekerjaan baru.

Untuk menekan tingkat pengangguran ini, Pemerintah telah memberikan penawaran kepada mereka untuk bergabung menjadi bagian dari Trans Jogja. Dengan demikian, pemasukan mereka yang awalnya tidak pasti menjadi pasti. Dan tidak kesulitan untuk memikirkan setoran ataupun perawatan bus.

Seperti yang diungkapkan oleh peneliti transportasi UGM, “pemerintah sudah menawarkan kepada mereka untuk bergabung dengan Trans Jogja, sehingga pemasukan mereka akan stabil. Dan hal ini adalah langkah win-win solution yang diberikan oleh pemerintah”

Reporter: Haerul Mustakim dan Winda Efanur FS


back to top