Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Tangisan sopir angkutan umum di Yogyakarta

Tangisan sopir angkutan umum di Yogyakarta

Yogyakarta- KoPi- Kehadiran Trans Jogja yang digadang-gadang sebagai alternative pengurai kemacetan, hingga saat ini belum mampu mengatasi masalah. Bahkan sebaliknya, Trans Jogja memunculkan persoalan baru di lingkungan sosial dan berdampak buruk pada perekonomian masyarakat, seperti para pelaku transportasi massal yang dikelola oleh pihak Koperasi Pemuda.

Sektor 8 jalur D6 adalah satu dari sekian banyak nasib transportasi umum milik koperasi Pemuda yang merasakan dampaknya langsung dari kebijakan pemerintah, seperti hasil wawancara Koranopini.com pada hari selasa 23 September 2014 di titik pangkal bus mini D6 di Maguwoharjo. (Baca: Wajah Trans Jogja kini)

Dari jumlah awal 29 armada yang dimiliki D6 hingga saat ini yang masih bertahan berjumlah 22 armada. Trayek D6 yang pada awalnya mencakup terminal Jombor-Maguwoharjo-Prambanan, terpaksa harus dipotong menjadi terminal Jombor-Maguwoharjo. Hal ini dikarenakan selain trayek tersebut digunakan oleh Trans Jogja, alasan utama adalah untuk menekan pengeluaran BBM dan meringankan perawatan bus.

“Pendapatan kami jelas berkurang setelah hadirnya Trans Jogja, hal ini dikarenakan Trans Jogja pun menggunakan trayek yang biasa kita pake.” Tutur Tuwuh selaku koordinator sektor 8 jalur D6.

Berkurangnya armada D6 yang dimiliki koperasi Pemuda, disebabkan pemasukan para supir berkurang, sehingga mereka kesulitan untuk melakukan perawatan bus, dan berujung pada penjualan armada ataupun dikandangkannya armada. Ketidak jelasan pendapatan mereka membuat para pelaku bisnis ini memilih gulung tikar ataupun mencari pekerjaan baru.

Untuk menekan tingkat pengangguran ini, Pemerintah telah memberikan penawaran kepada mereka untuk bergabung menjadi bagian dari Trans Jogja. Dengan demikian, pemasukan mereka yang awalnya tidak pasti menjadi pasti. Dan tidak kesulitan untuk memikirkan setoran ataupun perawatan bus.

Seperti yang diungkapkan oleh peneliti transportasi UGM, “pemerintah sudah menawarkan kepada mereka untuk bergabung dengan Trans Jogja, sehingga pemasukan mereka akan stabil. Dan hal ini adalah langkah win-win solution yang diberikan oleh pemerintah”

Reporter: Haerul Mustakim dan Winda Efanur FS


back to top