Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Sultan Hamengku Buwono IX

Sultan Hamengku Buwono IX

1939. Polandia rusak parah akibat bombardir kanon-kanon tank tentara Jerman. Dalam waktu sekejap Jerman menguasai Polandia. Tak ada lagi harapan bagi penduduknya. Mereka harus pergi, mengabdi atau mati. Sementara saat itu, peperangan menjadi ancaman yang menjalar masif di dunia dan mengancam Belanda.

Perang Dunia ke Dua sudah dimulai. Semua negara Eropa dilanda kepanikan dan bersiaga berjihad. Di Belanda -bangsa yang menguasai Nusantara, gemetaran dalam ketakutan yang terhina. Tentara Jerman hanya selangkah menuju Belanda. Seluruh penduduknya berlarian menuju persembuyian dan membuat negeri Kincir Angin itu bergetar hebat. Mereka kehilangan akal sehat dan melupakan kepongahannya di Hindia Belanda.

Di sana, seorang pangeran –putra mahkota Kerajaaan Ngayogyakarta Hadiningrat - Raden Mas Dorojatun disebut, bermukim atas perintah ayahnda. Sebagai putra mahkota, ia dikirim untuk belajar di sebuah negara yang tampak begitua berkuasa dan memukau seperti halnya negara- negara Barat yang menguasai pengetahuan.Ayahanya, Raja yang dikenal bijak, Sultan Hamengku Buwono VIII menginginkan anaknya untuk belajar, agar ia meramu pengetahuan barat dengan spirit jawa. Di sana, Raden Mas Dorojatun belajar indeologi di  Rijkuniversiteit atau Universitas Leiden. Mendalami pandangan barat tentang bangsa indonesia. Dan dengan itu ia akan melawan Belanda kemudian hari.

Ketika itu, pada tahun 1939 dalam suasana ketakutan warga Belanda atas ancaman invansi Jerman dan kekuatiran ayahnda yang sakit keras, ia harus segera meninggalkan Belanda setelah sepuluh tahun belajar di sana. Dalam kekalutan yang massal yang berebut tiket kapal pelarian, seorang warga bangsa Belanda memberikan tiketnya untuk Raden Mas Dorojatun agar segera sampai di tanah Jawa melaui jalan pintas Terusan Suez. Sementara saudara-saudaranya harus berputar lebih jauh melalui Afrika.

Semua tepat pada waktunya, seperti doa ayahnya yang meminta tangguh ajal pada tuhannya, sebelum Dorojatun sampai. Ayahnya meninggal di Rumah sakit Panti Rapih menjelang subuh sesaat ia sampai. Takdir yang bertepat - tidak saja sebagai waktu kedatangan untuk bisa melihat saat-saat terakhir Sultan Ke VIII, ayahnya. Tetapi juga bertepat bagi sebuah nasib bangsa Indonesia kelak kemudian.

Raden Mas Dorojatun menggantikan ayahnya menjadi penguasa di Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat setahun kemudian di tahun 1940. Kemudian ia bergelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senopati Ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Songo ‘ atau dikenal sebagai Sultan Hamengkubuwono IX.

Seperti halnya ayahnya, Sultan ke IX berpikir bagaimana melawan penjajahan Belanda dengan cara yang halus. Perlawanannya diukur dalam timbang-timbang kebijakan yang tegas namun tidak kentara. Ia memahami kekuatan kerajaannya. Untuk itu perlawanannya terhadap penjajahan Belanda bersifat laten. Hingga pada saat kemudian, Sultan memutuskan untuk meleburkan Kerajaan Ngayogyakarto Hadiningrat ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam Kabinet Hatta, Sultan adalah menteri pertahanan yang menjadikan istananya sebagai benteng pertahanan yang tak tertembus oleh ambisi Belanda. Di tahun 1946, ketika pemerintahan NKRI mengalami kegoncangan karena penangkapan para pemimpin bangsa oleh pemerintah kolonial –Yogyakarta pun menjadi ibu kota dalam situasi yang disebut sebagai Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Sultan memfasilitasi segala kebutuhan para pemimpin dan pemerintahan republik yang tengah goyah.

Hingga kemudian, ketika Belanda yang terusir akibat kekalahan sekutu melawan Jepang – mencoba masuk dan mengambil alih kembali di tahun 1949 –Sultan IX bertemu dengan Jenderal Soedirman di Pacitan untuk merancang sebuah serangan yang bernilai eksistensi NKRI di mata dunia. Saat itu, Jenderal Soedirman memberikan rekomendasi Letkol Soeharto, Komandan Sektor Barat pada Sultan untuk merancang serangan yang digagas Sultan.

Setalah bertemu Soeharto di dalam Kraton Ngayogyakarta tiga kali, rencana serangan itu kemudian terlaksana. Kita mengenalnya kemudian sebagai “Serangan 1 Maret 1949”.  Serangan yang terjadi selama tiga hari dan menimbulkan banyak korban jiwa itu pada akhirnya menghadirkan apa yang dikenang sebagai proklamasi ke dua.Dengan demikian Negara Kesatuan Republik Indonesia selamat.

 

 

 

back to top