Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Sosialita pendidikan, antipoda sosial kita

Sosialita pendidikan, antipoda sosial kita

Pendidikan kini sebagai penguat eksistensi sosial, kemegahan serta ajang pamer kekayaan. 

Jogja-KoPi| Pendidikan yang memiliki niat suci untuk menambah ilmu dan memajukan kehidupan bangsa dan negara, kini dikhianati dan dijadikan ajang untuk pamer kekayaan serta kemegahan. Orang tua dan peserta didik hanya memandang dari segi fisiknya saja, dan tidak begitu mempedulikan segi prestasi, yang terpenting dengan siapa berkawan dalam sekolah serta bagaimana bangunan fisik dari sekolah tersebut.

“Orang tua banyak menyekolahkan anak mereka ke sekolah-sekolah yang memiliki gedung yang baik serta melihat siapa saja yang sekolah di sana,” jelas Sri Ning Lestari, Kepala Sekolah SDN Ngentak Bantul.

Sekolah yang memiliki bangunan yang kurang baik dibandingkan dengan lainnya begitu saja diblacklist oleh orang tua dari daftar sekolah pilihan. Sedangkan, sekolah yang memiliki bangunan serta sarana prasarana yang baik akan diminati, dan orang tua akan berbondong-bondong mendaftarkan anak-anaknya untuk menuntut ilmu di sekolah tersebut.

Selain itu, faktor teman orang tua dalam bergaul juga menentukan pemilihan sekolah. Masyarakat cenderung menyekolahkan anak mereka di sekolah di mana teman mereka menyekolahkan anaknya.

Faktor eksistensi kekayaan dan ajang untuk tetap diakui dalam sebuah kelompok juga menjadi salah satu pendorong terjadinya sosialita pendidikan. Hal inilah yang mengakibatkan pengkotak-kotakan sekolah dalam pandangan masyarakat, yaitu sekolah miskin dan sekolah kaya. Akhirnya yang terjadi sekolah kaya akan bertambah kaya sedangkan yang miskin akan tetap miskin.

Pamer mobil dan macetkan jalan

Sosialita pendidikan secara jelas tampak dari salah satu sekolah dasar yang ada di Yogyakarta. Masyarakat dengan bangga mengantarkan anak-anaknya sekolah dengan menggunakan mobil. Hal ini terlihat jelas ketika berangkat sekolah dan pulang sekolah.

Mobil-mobil wali murid yang mengantar dan menjemput anak-anaknya mengakibatkan kemacetan di sekitar jalan tersebut. Tampak jelas bahwa seseorang yang mampu dan kaya akan lebih nyaman bergabung dengan sesamanya. Akhirnya sekolah yang dulunya untuk menuntut ilmu kini juga digunakan untuk memperkuat eksistensi kekayaan dan kejayaan.

Hal serupa juga tampak di salah satu sekolah dasar yang ada di Bantul, yaitu SDN Ngentak dan SDN II Sanden. Dilihat dari sarana dan prasarana SDN Ngentak memang kalah dengan SDN Sanden II, namun jika dilihat dari segi prestasi SDN Ngentak memiliki prestasi yang lebih dibanding SDN Sanden II.

Adapun prestasi yang dimiliki SDN Ngentak yaitu, sekolah dasar dengan akreditas A dari tahun 2013, peringkat ketiga UNAS tahun 2015 se-daerah Bantul dengan rata-rata 27,42, Juara lomba panahan tingkat Nasional, Juara 3 lomba senam lantai tingkat nasional, juara I bulu tangkis tingkat provinsi, dan prestasi lainnya.

Namun, ironinya masyarakat lebih memilih SDN Sanden II dibanding SDN Ngentak. SDN Ngentak yang memiliki prestasi lebih justru sedikit diminati oleh peserta didik dan orang tuanya terbukti dengan jumlah siswanya yang pas-pasan, yaitu hanya 120 siswa dalam satu sekolah.

“Prestasi jarang menjadi pertimbangan masyarakat ketika memasukan anaknya ke sekolah, biasanya mereka melihat dari gedung, sarana dan prasarana, dan teman sekolah,” jelas kepala sekolah Ngentak.

Ajang mejeng, pamer kekayaan, dan eksistensi diri menjadi pendorong lain ketika menyekolahkan anak. Orang tua merasa lebih senang ketika anaknya bersekolah di tempat yang sama dengan teman-temannya menyekolahkan anaknya. Selain itu pertimbangan gedung yang baik serta sarana dan prasarana yang lengkap juga menjadi prioritas ketika akan menyekolahkan anak.

Gedung yang baik dan sarana prasarana yang baik dianggap akan memberikan kenyamanan dalam proses belajar anak.

“Ketika ditanya mengenai pemilihan sekolah, ada orang tua yang berkata bahwa gedung sekoah yang bagus dan megah akan membuat anaknya senang kalau bersekolah,” jelas Kepala Sekolah Ngentak.

Tentu saja ketika sekolah tersebut memiliki gedung yang baik maka orang tua akan menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut, lalu bagaimana dengan sekolah yang tidak memiliki gedung yang bagus namun prestasi bagus. Bantuan yang diberikan ke sekolah masih melihat jumlah peserta didik sebagai salah satu tolak ukurnya, bukan prestasi siswa. Hal ini lah yang menjadikan sekolah yang memiliki prestasi namun gedung yang biasa-biasa saja tidak begitu dilirik masyarakat dan akhirnya kekurangan peserta didik.

Gedung, sarana prasarana, serta pandangan terhadap teman dalam bersekolah tetap menjadi skala prioritas bagi orang tua dibandingkan prestasi. Ajang pamer kekayaan dan pengukuhan eksistensi kekayaan lewat gedung sekolah, sarana dan prasarana serta masih memandang kelompok yang bersekolah akan terus berlangsung jika pemerintah tidak mengambil kebijakan dan solusi untuk mengatasinya. Kesenjangan akan terus terjadi antara sekolah yang berprestasi dengan sekolah yang kaya.

Pembentukan geng-geng kelas sosial dalam suatu sekolah juga akan terjadi ketika pemilihan sekolah hanya memandang kekayaan dan kemegahan, bukan prestasi yang ada di dalamnya.

“Ketegasan Dinas Pendidikan diperlukan untuk memeratakan jumlah peserta didik, sehingga tidak terpusat dalam satu sekolah,” harapan Kepala Sekolah SDN Ngentak kepada Dinas Pendidikan Bantul. Ketika pemerataan tersebut terjadi maka sosialita pendidikan kemungkinan besar dapat dikurangi serta jumlah peserta didik dapat tersebar dengan merata. |Frenda Yentin|

 

back to top