Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Polres Sleman dianggap terburu-buru segel usaha nata decoco

Polres Sleman dianggap terburu-buru segel usaha nata decoco

Sleman-KoPi| Penyegelan pabrik nata decoco milik DA oleh Polres Sleman pekan lalu berbuntut panjang. Bukan hanya menjadi wilayah kepolisian, bidang pangan seperti Balai besar POM, dinas kesehatan dan badan ketahanan pangan turut terseret.

Sejak awal peristiwa penggrebekan pabrik DA kemungkinan tidak melalui prosedur yang tepat. Menurut kepala Humas Polres Sleman, Haryanta, mengatakan penggrebegan yang telah dilakukan ke pabrik DA berdasarkan adanya laporan dari warga setempat.

Namun ditemui di tempat terpisah kepala balai besar POM DIY, Dra. I Gusti Ayu tindakan pihak kepolisian terlalu terburu-buru. Pasalnya belum sempat berkoordinasi dengan tim ahli terlebih dahulu.

Sehingga masing-masing lembaga terkait saling merapatkan koordinasi guna memberi solusi terhadap kasus nata de coco ini.

Menurut Dra. I Gusti Ayu pemerintah beserta praktisi dan peneliti tengah menggarap solusi untuk kasus ini. Dalam kasus ini Dra. I Gusti Ayu mengakui pihak BPOM tidak mengawasi hingga home industry.

“Selama ini memang BPOM tindak melakukan pengawasan untuk wilayah home industry. Soalnya tidak ada kebijakan yang mengatur ke situ. Pengawasan itu berlaku untuk produk yang sudah jadi. Jadi memang  tidak ada sertifikasi untuk nata decoco, solanya itu masuk bahan baku yang tidak langsung dikonsumsi”, papar Dra. I Gusti Ayu.

Dinas pertanian Kecolongan
Kasus nata decoco memang bukan wewenang dinas pertanian. Namun penemuan pupuk ZA di pabrik DA mengindikasi penyalahgunaan pupuk oleh masyarakat. Menurut humas Polres Sleman DA membeli pupuk ZA tersebut dari toko pertanian dan KUD.

Menurut Kasi sarana dan prasaran Dinas Pertanian DIY, Jarot pihak dinas pertanian merasa kecolongan. Banyak kendala terjadi di lini distribusi seperti kios-kios.

“Untuk setiap KUD punya daftar petani anggota yang membeli pupuk. Untuk kasus nata de coco, itu termasuk penyalahgunaan pupuk ZA bersubsidi. Dengan kasus ini kami akan memperketat pengawasan ke lini bawah”, papar Jarot.

Jarot juga menambahkan beredarnya pupuk di DIY sudah diatur dalam peraturan gubernur DIY nomor 100 tahun 2014 tentang Alokasi Pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian tahun anggaran 2015.

Dalam Pergub tersebut dijelaskan bahwa pupuk bersubsidi diperuntukan bagi petani tanaman pangan, holtikultura, perkebunan dan tambak.|Winda Efanur FS|

back to top