Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Pelayanan baik... tapi antre sampai lumutan

Antrian di salah satu layanan RSUD Dr Soetomo Antrian di salah satu layanan RSUD Dr Soetomo
Surabaya – KoPi | Sebagai rumah sakit rujukan pusat, RSUD Dr. Soetomo sudah lama dikenal sebagai rumah sakit yang padat. Pasien dari berbagai kota di Jawa Timur berdatangan ke Dr. Soetomo. Bahkan beberapa pasien datang dari daerah lain di luar Jawa Timur. Hal itu karena rumah sakit ini memiliki pelayanan dokter spesialis dan subspesialis yang luas.
 

Meski di tengah besarnya jumlah pasien, pelayanan di RS ini tampaknya tetap optimal. Terbukti RSUD Dr Soetomo mendapat predikat sebagai rumah sakit tipe A. Rumah sakit ini milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini memiliki 40 orang dokter umum, 250 orang dokter spesialis, 11 orang dokter gigi spesialis, 1.441 orang perawat, 290 tenaga farmasi, dan 27 tenaga gizi.

Berdasarkan data findthebest.co.id, RSUD Dr Soetomo memiliki 282 dokter lebih banyak dibanding rumah sakit lain di Pulau Jawa. Dokter spesialisnya juga sangat lengkap, mulai dari spesialis anak, bedah, forensik, hingga urologi.

Kepuasan dalam pelayanan diakui oleh para pasien sendiri. Pasien mengatakan dokter yang bertugas jaga selalu datang tepat waktu apabila sudah masuk waktu check-up.

Seperti yang diungkapkan oleh Ria (43). Meski terlihat kelelahan, ia masih mau meladeni pertanyaan dari KoranOpini.com. Ia sudah seharian ia duduk di depan ruang kemoterapi RSUD Dr. Soetomo, menunggu kakaknya keluar dari ruangan tersebut. Kakaknya yang didiagnosa menderita tumor usus telah masuk ke ruangan tersebut sejak pagi, namun hingga sore hari masih belum boleh keluar karena menunggu efek obatnya habis. Ini adalah kemo ke-5 yang dijalani si kakak.

“Saya sudah dapat jadwal untuk kemoterapi sejak 3 hari yang lalu,” ujarnya.

Menurutnya, kemudahan mendapat jadwal tersebut karena kakaknya telah memesan jadwal kemo sejak menjalani terapi ke-4, dan baru dipanggil pada 3 hari yang lalu. Jika baru memesan, bisa jadi ia harus menunggu entah untuk berapa lama. Ria mengatakan kakaknya diikutkan BPJS, dan selama di rumah sakit tidak ada keluhan mengenai pelayanan.

Hal yang sama juga diungkapkan Bashari (61). Pria asal Pekalongan tersebut mengantarkan anaknya dari Lamongan untuk kemoterapi di RSUD Dr Soetomo. Anaknya menderita kanker payudara dan dirujuk dari Lamongan ke RSUD Dr Soetomo. Ia juga mengaku tidak ada kesulitan selama di RSUD Dr Soetomo. Dokter dan perawat yang menangani kemoterapi tepat waktu.

Namun bukan berarti rumah sakit tersebut bebas komplain. Berdasarkan data Humas RSUD Dr Soetomo, sepanjang 2014 lalu, tercatat ada 74 komplain yang dilayangkan pasien terhadap RSUD Dr. Soetomo. Sedangkan hingga Februari 2015, sudah ada 15 komplain yang dilayangkan. Komplain tersebut terdiri dari berbagai hal, mulai dari kurangnya kamar hingga antrian yang lama.

Antrian lama biasanya dialami oleh para pasien yang berada di IRD. Beberapa tampak diberi tindakan medis seadanya lalu ditinggalkan dokter untuk merawat pasien lain yang baru datang. Selain itu proses administrasi yang lama, pasien juga harus menunggu untuk mendapatkan kamar, terutama bagi pasien BPJS. Proses administrasi dengan BPJS disebut menjadi biang lambatnya pelayanan.

Hal itu diungkapkan oleh Gilang, pasien asal Sumenep, Madura, yang menjalani operasi mata di RSUD Dr Soetomo. Gilang bercerita, ketika masuk ke Dr Soetomo, dokter memberitahunya untuk mendaftar sebagai pasien umum apabila ingin cepat mendapatkan kamar dan jadwal operasi. Menurut sang dokter, antrian untuk pasien BPJS cukup lama.

“Ya saya akhirnya memilih sebagai pasien umum saja. Saya total habis Rp 6 juta untuk operasi ini, itu dari uang sendiri,” ungkapnya. Ia menyadari itu memang resiko karena rumah sakit ini menerima banyak pasien. Meski demikian, ia juga mengatakan tidak ada kendala dalam mendapatkan kamar dan selama operasi. Jadwal pemeriksaan dokter pun selalu tepat waktu.

back to top