Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Merasa terancam, warga Dolly lawan penutupan lokalisasi

Merasa terancam, warga Dolly lawan penutupan lokalisasi
Surabaya-KoPi, Upaya negosiasi yang dilakukan oleh pihak Pemkot Surabaya dengan masyarakat di sekitar Dolly menemui jalan buntu. Pemkot yang menilai bahwa penutupan Dolly adalah manifestasi dari peningkatan moral masyarakat kota Surabaya ditolak oleh masyarakat di sekitar lokalisasi terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Masyarakat menilai, walaupun berbagai upaya negosisasi telah dilakukan oleh Pemkot dengan masyarakat sekitar Dolly, keputusan Pemkot dinilai tetap sepihak. Usulan yang diutarakan oleh masyarakat sekitar Dolly  tidak mampu diakomodir oleh pemerintah.
Salah satu hal yang menjadi pertimbangan utama warga adalah mengenai aspek ekonomi.

Masyarakat di sekitar Dolly menyatakan, kompensasi yang diberikan oleh Pemkot Surabaya sebesar tiga juta rupiah per-orang tidaklah cukup dibanding penghasilan ketika Dolly masih aktif.

“Gak cukup kalau kompensasi dari Bu Risma cuma tiga juta rupiah per-kepala. Kalau cuma tiga juta rupiah, para PSK juga bisa dapat segitu dalam semalam”, ucap Nikolas (nama disamarkan), warga sekitar yang ibunya bekerja sebagai resepsionis di salah satu wisma di Dolly.

Lokalisasi Dolly yang mampu menarik pengunjung dalam jumlah yang tidak sedikit juga memberi nilai lebih kepada para pedagang. Harga jual yang dipatok oleh para pedagang bisa dua kali lipat harganya.

“Ya kalau ditutup pendapatan saya bisa berkurang banyak. Saya jual ini (sate) sepuluh tusuk harganya Rp 20.000. Kalau di tempat lain cuma saya jual Rp 10.000. Pembeli (di lokalisasi Dolly) gak pernah mengeluh, kok harganya mahal”, aku Suraji (nama disamarkan), pedagang sate di sekitar lokalisasi tersebut.

Isu yang semakin santer ketika makin dekat dengan tanggal 19 Juni bahwa lokalisasi akan ditutup juga mempengaruhi banyaknya pengujung yang datang.  Menurut juru parkir di Dolly, jumlah pengunjung semakin hari semakin berkurang.

“Dulu satu hari bisa sampai 40 hingga 50 orang yang parkir. Sekarang paling cuma lima hingga sepuluh orang”, tutur Sutrinah (nama disamarkan).

Lebih lanjut, ia menyatakan belum mendapatkan informasi mengenai rencana pemerintah kota untuk merevitalisasi kegiatan ekonomi masyarakat sekitar. Hal yang patut disayangkan, menurutnya, bahwa rencana pembangunan pemerintah kota tidak disertai dengan rencana perbaikan ekonomi masyarakat yg menjadi korban pembangunan.

Resistensi masyarakat atas penggusuran lokalisasi Dolly yang rencananya dilakukan pada 19 Juni mendatang sangat terlihat. Menurut Adi (nama disamarkan), hal tersebut terefleksikan pada saat masyarakat melakukan demo untuk menolak penutupan Dolly.

“Masyarakat di sini semuanya bulat satu suara untuk menolak penutupan Dolly. Kemarin itu waktu demo jumlahnya banyak yang terdiri dari pedagang, mucikari, PSK dan masyarakat sekitar. Gak ada yang setuju kalau mau ditutup”, ujarnya.

Selain itu, para masyarakat sempat melakukan perlawan terhadap Satpol PP. Pada saat Satpol PP akan melakukan razia di Dolly, para masyarakat sekitar mempersiapkan senjata tajam mereka sepanjang jalan tersebut. Hal tersebut kemudian menyebabkan Satpoll PP mengurungkan rencananya untuk melakukan razia pada hari tersebut.

Reporter: Yudho NP

back to top