Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Merasa terancam, warga Dolly lawan penutupan lokalisasi

Merasa terancam, warga Dolly lawan penutupan lokalisasi
Surabaya-KoPi, Upaya negosiasi yang dilakukan oleh pihak Pemkot Surabaya dengan masyarakat di sekitar Dolly menemui jalan buntu. Pemkot yang menilai bahwa penutupan Dolly adalah manifestasi dari peningkatan moral masyarakat kota Surabaya ditolak oleh masyarakat di sekitar lokalisasi terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Masyarakat menilai, walaupun berbagai upaya negosisasi telah dilakukan oleh Pemkot dengan masyarakat sekitar Dolly, keputusan Pemkot dinilai tetap sepihak. Usulan yang diutarakan oleh masyarakat sekitar Dolly  tidak mampu diakomodir oleh pemerintah.
Salah satu hal yang menjadi pertimbangan utama warga adalah mengenai aspek ekonomi.

Masyarakat di sekitar Dolly menyatakan, kompensasi yang diberikan oleh Pemkot Surabaya sebesar tiga juta rupiah per-orang tidaklah cukup dibanding penghasilan ketika Dolly masih aktif.

“Gak cukup kalau kompensasi dari Bu Risma cuma tiga juta rupiah per-kepala. Kalau cuma tiga juta rupiah, para PSK juga bisa dapat segitu dalam semalam”, ucap Nikolas (nama disamarkan), warga sekitar yang ibunya bekerja sebagai resepsionis di salah satu wisma di Dolly.

Lokalisasi Dolly yang mampu menarik pengunjung dalam jumlah yang tidak sedikit juga memberi nilai lebih kepada para pedagang. Harga jual yang dipatok oleh para pedagang bisa dua kali lipat harganya.

“Ya kalau ditutup pendapatan saya bisa berkurang banyak. Saya jual ini (sate) sepuluh tusuk harganya Rp 20.000. Kalau di tempat lain cuma saya jual Rp 10.000. Pembeli (di lokalisasi Dolly) gak pernah mengeluh, kok harganya mahal”, aku Suraji (nama disamarkan), pedagang sate di sekitar lokalisasi tersebut.

Isu yang semakin santer ketika makin dekat dengan tanggal 19 Juni bahwa lokalisasi akan ditutup juga mempengaruhi banyaknya pengujung yang datang.  Menurut juru parkir di Dolly, jumlah pengunjung semakin hari semakin berkurang.

“Dulu satu hari bisa sampai 40 hingga 50 orang yang parkir. Sekarang paling cuma lima hingga sepuluh orang”, tutur Sutrinah (nama disamarkan).

Lebih lanjut, ia menyatakan belum mendapatkan informasi mengenai rencana pemerintah kota untuk merevitalisasi kegiatan ekonomi masyarakat sekitar. Hal yang patut disayangkan, menurutnya, bahwa rencana pembangunan pemerintah kota tidak disertai dengan rencana perbaikan ekonomi masyarakat yg menjadi korban pembangunan.

Resistensi masyarakat atas penggusuran lokalisasi Dolly yang rencananya dilakukan pada 19 Juni mendatang sangat terlihat. Menurut Adi (nama disamarkan), hal tersebut terefleksikan pada saat masyarakat melakukan demo untuk menolak penutupan Dolly.

“Masyarakat di sini semuanya bulat satu suara untuk menolak penutupan Dolly. Kemarin itu waktu demo jumlahnya banyak yang terdiri dari pedagang, mucikari, PSK dan masyarakat sekitar. Gak ada yang setuju kalau mau ditutup”, ujarnya.

Selain itu, para masyarakat sempat melakukan perlawan terhadap Satpol PP. Pada saat Satpol PP akan melakukan razia di Dolly, para masyarakat sekitar mempersiapkan senjata tajam mereka sepanjang jalan tersebut. Hal tersebut kemudian menyebabkan Satpoll PP mengurungkan rencananya untuk melakukan razia pada hari tersebut.

Reporter: Yudho NP

back to top