Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Konsep Kampung Jawa ala Angkasa Pura

Konsep Kampung Jawa ala Angkasa Pura

KulonProgo-KoPi| Humas Tim Percepatan Pembangunan Bandara Baru, Hariyadi menawarkan konsep pemukiman kembali untuk diterapkan saat merelokasi masyarakat Kulon Progo nanti.

Pembangunan Bandara tentu akan diikuti oleh modernisasi Kabupaten Kulon Progo, untuk tetap menjaga adat dan budaya setempat. Haryadi menawarkan konsep kampung Jawa, dimana bangunan rumah didesign dengan memperhatikan kearifan lokal.

Haryadi menjelaskan, konsep kampung jawa terdiri dari bangunan rumah penduduk yang keseluruhan menggunakan design rumah joglo. Arsitektur rumah juga diatur sedemikian rupa, seperti dalam peletakkan sumur berada di sebelah depan rumah, bagian kanan, sedangkan peletakkan toilet di bagian belakang rumah sebelah kiri. ini guna menghindari jarak sumber air yang terlalu dekat dengan septictank. Model bangunan sepert itu sebenarnya sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa.

Hariyadi juga menjelaskan bahwa dalam tradisi jawa, tidak boleh ada dapur rumah yang bertemu dengan teras tetangga. Jika dipikirkan secara rasional, tradisi tersebut masuk akal, karena penempatan bagian belakang rumah yang mendekati teras tetangga akan berpotensi mencemari sumur tetangga. Inilah tradisi-tradisi warisan leluhur yang harus dipertahankan kebaikannya.

“Nanti itu jadi obyek kunjungan dan orang menikmati kampung Jawa dengan segala keunggulan, termasuk tahan gempa terbukti. Guide bisa cerita pada tamu bahwa kontruksi ini apa. Nah kemudian jajanan kerajinan dijual disitu sampai balai pertemuan pun kami buatkan model limasan semua,” ujar Haryadi.

Dengan konsep relokasi yang seperti itu, daerah pemukiman kembali tersebut bisa sekaligus menjadi desa wisata. Ini tentu akan menjadi lahan pekerjaan baru bagi masyarakat yang direlokasi. Konsep tersebut bisa dimatangkan lagi dengan melarang penggunaan mobil ataupun motor untuk memasuki kawasan pemukiman. Hanya ada andong dan sepeda yang diperbolehkan memasuki desa relokasi.

Konsep tersebut akan disampaika Hariyadi kepada Pemerintah kabupaten Kulon Progo guna direalisasikan. Karena letaknya berdekatan dengan bandara, yakni masih dalam kabupaten Kulon Progo, makan potensi untuk menjadi destinasi pertama wisatawan juga semakin besar.

“Kunci satu desa wisata, dua percontohan desa relokasi. Jadi kalau nanti kalau ada pemerintah daerah mana mau melakukan relokasi lahan, ini lho konsep pemukiman kembali yang manusiawi seperti ini. Sekarang orang kan tidur disamping sapi, nah besok sapi jauh. Dijaga komunal, dijaga security. Berarti kan ada lapangan pekerjaan baru. Kayak gitu lah kira-kira, terus nanti kotorannya jadi pupuk.”

back to top