Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Klorin itu racun, Kemenkes harus lindungi masyarakat

Klorin itu racun, Kemenkes harus lindungi masyarakat

Jakarta-KoPI| YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) melakukan penelitian terhadap pembalut yang beredar di pasar konvensional. Dari 9 pembalut dan 7 pantyliner dengan merk berbeda, YLKI menemukan adanya kandungan klorin di dalamnya.

Dalam Permekes No 472 tahun1996 tentang pengamanan dan pengawasan bahan berbahaya. Pemerintah menyebutkan bahwa salah satu bahan berbahaya adalah klorin. Dalam hal ini klorin merupakan racun yang bersifat iritatif.

“Kita melakukan uji di lab yang terakreditasi, dan yang perlu diingat bahwa lembaga ini independen dan tidak dibiayai oleh siapapun” ujar Ilyani Sudrajat selaku pengurus harian YLKI.

Menurutnya, langkah penting yang harus diambil dengan adanya hasil temuan tersebut adalah langkah dari pemerintah. Sebelumnya, Kemenkes menerapkan standar pada pembalut hanya berdasarkan kualitas bukan secara kuantitas.

“Ada staandartnya yang ditetapkan pada 15 tahun lalu. Hanya menerangkan bahwa pembalut harus berwarna putih, tidak menyebabkan iritasi, tidak mudah robek. Tetapi tidak ada acuan kuantitatif yang menjadi standarnya” tegasnya.

Menurut Ilyani, langkah pemerintah yang harus dilakukan saat ini adalah revisi standar mengenai komposisi pembalut dan pantyliner.

Klorin itu sendiri sebenarnya terdapat pada air bersih yang saat ini beredar di masyarakat. Pemerintah menerapkan kandungan maksimal sebesar 4 ppm. Sehingga menurutnya, kandungan klorin dalam pembalut harus memiliki acuan tertentu.

“Di Amerika, mereka mentolelir adanya penggunaan klorin. Tapi sangat rendah sebesar 0,1-1 ppm. Lalu bagaimana dengan Indonesia?,” ujarnya.

Menurut Ilyani, dampak pada klorin yang terdapat dalam pembalut sangatlah besar. Bahkan bisa menyebabkan munculnya penyakit kanker servix dan penyakit lainnya.

Sehingga pemerintah harus mengambil sikap tegas untuk revisi standar pada penggunaan klorin dalam produk tertentu..

Sementara ini pihak Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tidak bersedia menanggapi tuntutan YKI dan tidak bersedia memberikan keterangan ketika dikonfirmasi.

BACA JUGA: Klorin dalam pembalut, ini loh yang harusnya dilakukan

Pampers juga mengandung klorin?

Pembalut mengandung klorin ternyata memicu kanker servix

back to top