Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Klorin dalam pembalut, ini loh yang harusnya dilakukan

Klorin dalam pembalut, ini loh yang harusnya dilakukan

Hasil penelitian yang baru-baru ini dilkeluarkan oleh YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) membuat ketar ketir sejumlah masyarakat, terutama wanita. Pasalnya, dalam hasil penelitian tersebut ada penggunaan bahan jenis klorin dalam pembalut wanita. Klorin itu sendiri merupakan bahan penyebab timbulnya iritasi.

Jakarta-KoPI| Dalam hasil penelitan tersebut, angka penggunaan klorin tertinggi adalah pada pembalut CHARM yang memiliki kadar 54.73 ppm. Sedang hasil terendah di nomor 9 pembalut jenis Softness dengan kadar 6.05 ppm.

Ilyani Sudrajat, selaku anggota harian YLKI mengatakan bahwa iritasi yang disebabkan dari pembalut yang mengandung klorin akan menyebabkan munculnya beragam penyakit. Iritasi yang secara terus menerus dapat menimbulkan masuknya virus dan bakteri pada tubuh manusia.

“Salah satunya adalah pemicu munculnya penyakit kanker serviks atau kanker leher rahim” ujarnya kepada KoPi.
Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh perempuan untuk menghindari adanya iritasi yang menyebabkan munculnya penyakit tersebut?

Ilyani mengatakan dalam penelitian tersebut YLKI melakukan uji perbandingan. Artinya sampel yang digunakan diambil dari pasar, hasilnya diberikan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat dapat memilih mengenai data yang YLKI sajikan.

“Jika mereka memilih untuk ambil produk dengan kadar terendah, it’s not problem. Itu resiko yang harus dipilih masyarakat. Konsumen memiliki kekuatan dan hak pilih mengenai barang yang ada di pasar,” ujarnya.

Tahap yang paling penting yang harus dilakukan wanita, lanjut Ilyani adalah cerdas dalam menggunakan. Pembalut atau pentyliner seharusnya digunakan hanya dalam keadaan wanita membutuhkan. Seperti saat menstruasi atau keputihan.

“Jangan gunakan pembalut atau pentyliner di luar kebutuhan. Beri nafas pada organ intim wanita agar tidak secara terus menerus terpapar barang tersebut,” ujarnya.

Bagi Ilyani, situasi organ intim saat tidak menggunakan pembalut atau pantyliner adalah saat yang tepat untuk pengembangan mickro baik. Dengan begitu daya tahan tubuh manusia meningkat.

“Gunakan pembalut dan pantyliner hanya dalam keadaan darurat saja. Di luar itu, hindari pemakaiannya. Itu yang seharusnya diperhatikan oleh perempuan,” lanjutnya.

BACA JUGA: 

Pembalut mengandung klorin ternyata memicu kanker servix
Pampers juga mengandung klorin?
Klorin itu racun, Kemenkes harus lindungi masyarakat
Duh, pembalut herbal ternyata lebih berbahaya

 

back to top