Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Kekerasan pada anak

Kekerasan pada anak

Sub Judul

KoPi-Posisi anak di dalam keluarga selalu berada di posisi yang rentan akan tindak kekerasan karena paradigma anak sebagai obyek dalam keluarga, maka posisi lemah ini selalu diekspolitasi orang dewasa. Data yang dilansir Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat dalam semester I di tahun 2013 atau mulai Januari sampai akhir Juni 2013 ada 1032 kasus kekerasan anak yang terjadi di Indonesia.

Dari jumlah itu kekerasan fisik tercatat ada 294 kasus atau 28 persen, kekerasan psikis 203 kasus atau 20 persen dan kekerasan seksual 535 kasus atau 52 persen. Bahkan, dalam tiga bulan pertama 2014, Komnas PA menerima 252 laporan kekerasan pada anak. Hal ini mengukuhkan anggapan bahwa anak seringkali menjadi obyek kekerasan.Masyarakat tersentak belakangan ini  rentetan kasuskekerasan anak yang terjadi Indonesia. Mula-mula kasus pelecehan seksual di  JIS (Jakarta International School) kemudian disusul predator pedofilia bernama Andri Sobari alias Emon. Kasus yang pertama terjadi di institusi sekolah yang bertaraf Internasional, sedangkan yang berikutnya seseorang yang telah melakukan pencabulan kepada 120 anak. Padahal sejatinya 2 peristiwa tersebut ibarat gunung es yang sebenarnya perilaku kekerasan pada anak ini jamak tejadi dan penanganannya belumlah serius.

Apa Yang Salah?

Menurut Ketua LPAI Jatim, Sinung D. Kristanto mengatakan bahwa ada yang salah dari perundang-undangan kita terkait anak. Semakin berkembangnya zaman tidak dibarengi upaya untuk melakukan pencegahan dan peningkatan perlindungan anak. adanya peningkatan jenis kasus kekerasan pada anak namun instrumen pencegahan maupun penindakan terhadap kasus tersebut stagnan, tidak mengikuti perkembangan dinamika kekerasan pada anak. Produk Undang-Undang hanya sampai pada melindungi anak, belum menyentuh aspek pemenuhan hak anak.


Perlunya Undang-Undang Pemenuhan Hak Anak

back to top