Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Hilangnya roh pendidikan Indonesia

Hilangnya roh pendidikan Indonesia

Surabaya-KoPi, Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Peribahasa kuno tersebut seakan menunjukkan bagaimana potret pendidikan di Indonesia saat ini. Maksud Negara yang ingin meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan melalui sertifikasi guru, justru para siswa yang kemudian menjadi korban dari kebijakan tersebut.

Bagaimana negara ini bisa maju, jika guru kemudian hanya mengejar materi, mengejar pemenuhan pribadi, lantas melupakan siswa-siswanya, lupa akan tugasnya sebagai pendidik yang memanusiakan siswa sebagai manusia. Menganggap mengajar hanya sebatas tanggung jawab atas pekerjaannya, bukan tangung jawab untuk mencerdaskan siswanya, dan untuk memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan membentuk siswa-siswa beradab yang tercipta melalui pendidikan.

Bukannya semakin maju dan berkualitas, bangunan pendidikan di Indonesia justru semakin keropos, dimakan dan digerogoti oleh tuntutan profesionalitas yang membawa guru menjadi seorang robot pendidik, yang tidak peka, kehilangan kreatifitas, dan hanya memenuhi tuntutan-tuntutan yang sebenarnya layak untuk dipertanyakan kembali “apa yang salah dengan pendidikan di Negara kita?”.

Hilangnya Guru Pendidik dalam sistem Pendidikan Indonesia

Melihat kekacauan dalam pendidikan yang terjadi saat ini. Pemerhati Pendidikan dan Anak, Ibu Nuniek Silalahi SS, M.Pd. saat dikonfirmasi dalam sebuah acara di Hotel Equator, rabu (14/5/2014), melihat bahwa kekacauan pendidikan Indonesia saat ini bermula dari munculnya kata “profesionalitas” dalam sistem pendidikan di Indonesia. “Profesionalitas” dari tenaga pengajar dianggap bukanlah solusi untuk meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan di Indonesia, justru hal tersebut menjadi bumerang karena “profesionalitas” menghilangkan guru pendidik dalam sistem pendidikan Indonesia.

“Ada guru, yang memang terpanggil menjadi guru. Jadi guru tersebut mendidik anak didiknya dengan penuh tanggung jawab. Bagaimana memasukkan nilai, bagaimana memengertikan anak, mencari cara agar anak tersebut mudah mengerti karena guru yang seperti itu adalah guru pendidik yang menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati.” Ungkap ibu Nuniek.

Secara garis besar dapat dikatakan bahwa guru pendidik adalah guru yang benar-benar mendedikasikan dirinya untuk menjadi pengajar yang mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman terhadap para siswa sehingga pelajaran dapat diserap dengan mudah oleh siswa peserta didik. Menurut Ibu Nuniek, kemampuan tersebut yang saat ini harus dimiliki oleh guru dalam proses belajar mengajar.

“Dalam mengajar, seorang guru yang baik harus mencari sistem bagaimana supaya anak bisa belajar dengan menyenangkan. Mengikuti pelajaran dengan senang dari hati. Kalau anak merasakan kesenangan sekolah, maka anak tersebut akan rajin. Tetapi jika pelajaran membosankan, maka anak tidak akan senang. Sehingga kemudian murid dianggap bodoh padahal tidak ada murid yang bodoh, yang ada hanya guru yang tidak dapat mengajar muridnya” lanjutnya.

Setiap siswa memang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, bukan berarti jika siswa tidak mudah mencerna pelajaran lantas dianggap bodoh. Hal tersebut seringkali terjadi, para guru sering memarahi siswanya karena merasa bahwa apa yang diajarkan kepada muridnya sudah sesuai standar yang ditentukan. Akan tetapi guru lupa bahwa siswa adalah manusia yang harus dimengerti memiliki kemampuan yang berbeda satu dengan yang lainnya sehingga tidak bisa disamaratakan atas dasar standar pendidikan di kelas.

Tenaga Profesional dan Carut Marut Ujian Nasional

Setelah berlakunya sertifikasi melalui undang-undang No.14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen. Guru pendidik seakan dipaksa berubah menjadi tenaga didik profesional. Guru sebagai tenaga didik profesional selalu menganggap pekerjaan mengajar adalah pekerjaan yang didasarkan oleh standar pendidikan yang telah ditentukan sehingga guru hanya akan mengajar sesuai dengan kurikulum serta silabus teknis pendidikan yang telah dirancang.

Disamping itu dengan mengikuti sertifikasi guru, maka kelangsungan hidup guru akan menjadi lebih terjamin. Oleh karena itu hingga saat ini banyak guru yang berlomba-lomba untuk mendapatkan sertifikasi. Keinginan untuk mendapatkan sertifikasi sebenarnya adalah hal yang manusiawi jika mengingat semakin meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat. Akan tetapi karena merasa sudah profesional tersebut, akhirnya melupakan tugas mulia dari seorang guru pendidik yang seharusnya mendidik dan menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati.

Berkaitan dengan hal tersebut, ibu Nuniek juga menambahkan pentingnya tanggung jawab sebagai guru pendidik, bukan hanya sebagai tenaga didik profesional. “Doktrin yang menganggap guru itu profesional, menganggap bahwa guru itu hanya mengajar dari jam sekian sampai jam sekian. Menganggap hal tersebut adalah pekerjaan yang harus dihargai dengan uang. Perkara anak mengerti dan tidak mengerti adalah karena kapasitas anak tersebut dan kemudian orang tua. Jadi sebatas tanggung jawab mengajar saja.”

Standarisasi dalam pendidikan juga dianggap menjadi biang kekacauan pendidikan di Indonesia, salah satu bukti kekacauan yang dapat terlihat adalah pada saat Ujian Nasional (UN). Setiap tahun, fenomena UN selalu menjadi fenomena yang sangat dahsyat yang menyebabkan ketakutan berlebih bukan hanya pada siswa, tetapi orang tua siswa serta guru pun ikut terlibat dalam kecurangan UN seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.

Menurut Ibu Nuniek, kendala utama dari dilakukannya standarisasi pendidikan adalah mutu pendidikan di satu daerah dan di daerah lain yang tidak merata dan seringkali anak menjadi korban dari kebijakan pendidikan yang tidak tepat sasaran tersebut.“Jadi ujian itu adalah hal yang biasa, hanya sekarang mutu pendidikan, sistem, dan metode pendidikan yang harus dicari agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik.” Pungkasnya.***

Reporter : Aditya Candra Lesmana

back to top