Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Duh, pembalut herbal ternyata lebih berbahaya

Duh, pembalut herbal ternyata lebih berbahaya

Jakarta-KoPi| Baru baru ini masyarakat digencarkan dengana adanya hasil penelitan YLKI (Yayasan Lembaga konsumen Indonesia). Sebelumnya, YLKI mengatakan dalam uji lab tersebut bahwa 9 pembalut dan 7 pantyliners di pasar konvensional mengandung klorin.

Mengenai hal ini, munculah pernyataan beberapa pihak dengan adanya indikasi money politics (politik uang) yang dilakukan YLKI untuk menjerumuskan perusahaan tententu. Namun, hal ini dibantah dengan klaim pihak YKLI yang melakukan penelitian tersebut secara independen dan tidak dibiayai oleh siapapun.

Setelah pernyataan tersebut, spekulasi baru mengenai penggunaan pembalut herbal yang belakangan ini beredar di masyarakat. Apakah pembalut tersebut yang dijadikan acuan YLKI untuk digunakan masyarakat agar terbebas dari klorin? Ternyata tidak!

Anggota pengurus harian YLKI, Ilyani Sudrajat mengatakan bahwa pembalut herbal tidak terjamin dan sangat meragukan. Ia menilai distribusi pembalut jenis ini dilakukan secara online atau dengan distribusi MLM (Multilavel Marketing).

“Produk yang dijual secara online atau lewat MLM legalitasnya masih dipertanyakan. Masuk secara impor dari negara tertentu yang uji labnya tidak diijamin oleh negara ini sangat berbahaya. Sehingga hal itu tidak bisa menjamin bahwa produk tersebut aman,” ujarnya kepada KoPi.

Ilyani menduga saat ini dengan mudah seseorang menciptakan bisnis multilavel marketing hanya dengan akun-akun tertentu dan disebarkan oleh masyarakat. Tapi tidak ada jaminanan mengenai legalitas, uji lab dan indikator produk tersebut.

“Legalitasnya masih dipertanyakan, bagaimana bisa aproduk itu dibilang lebih aman? Bahkan bisa jadi lebih berbahaya,” ujar Ilyani.

Sebelumnya, Ulfah Salamah selaku pengguna rutin pembalut herbal mengaku menggunakan pembalut jenis ini atas dasar ajakan kawan lamanya. Dirinya yang diundang dalam sebuah seminar pembalut tersebut terinspirasi oleh pembicara yang mengatakan bahwa pembalut itu aman.

“Aku pake pembalut herbal ini udah 3 tahun, sebelumnya diajak gitu sama temen. Aku rasa pembalut herbal ini lebih aman. Karena ada penjelasan mengenai penggunaan dan efek baik kepada pengguna. Berbeda dengan ketika kita membeli di pasar konvensional yang hanya terinspirasi lewat iklan belaka,” ujarnya.

Ulfah mengklaim bahwa pembalut herbal miliknya aman meskipun dirinya tidak tahu apakah terdapat klorin ataupun tidak dalam pembalut jenis tersebut.

“Sebenarnya kan banyak banget produk pembalut herbal yang dijual kepada masyarakat. Nah masyarakat harus pinter-pinter milih perusahaan yang menaunginya. Aku sih gak percaya sama pembalut herbal merk lain selain merk yang biasa aku gunakan ini,” lanjutnya.

Meskipun begitu, Ulfah dan pengguna pembalut herbal lainnya juga menduga mengenai komposisi pembalut yang digunakannya tersebut. Karena selama ini komposisi yang didapatkan berdasarkan mulut ke mulut dari jaringan yang menawarkan. Belum ada lembaga legal yang memberikan hasil survey mengenai komposisi keamanan produknya terebut.

BACA JUGA: Klorin itu racun, Kemenkes harus lindungi masyarakat

Klorin dalam pembalut, ini loh yang harusnya dilakukan

Pampers juga mengandung klorin?

Pembalut mengandung klorin ternyata memicu kanker servix

back to top