Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Dolly tidak bahayakan mentalitas masyarakat

pic by bhetanews.blogspot.com pic by bhetanews.blogspot.com
Surabaya-KoPi - Penutupan Dolly tinggal menghitung hari, pro dan kontra semakin memanas mendekati penutupan yang direncanakan oleh Pemerintah Kota Surabaya tanggal 18 Juni 2014. Seperti usia peradaban itu sendiri, lokalisasi hadir bagaikan kekasih yang setia mengiringi langkah dari peradaban itu sendiri. Kini, sejarah panjang peradaban itu akan ditutup demi menjaga mentalitas masyarakatnya. Benarkah?

Sebagai ruang sosial, Dolly tidak hanya menawarkan pelayanan seksual terhadap para lelaki nakal yang mencari kepuasan dalam dirinya. Namun perlu disadari juga bahwa Dolly tidak hanya milik para Pekerja Seks Komersial (PSK) akan tetapi juga milik masyarakat yang selama ini menggantungkan tali kehidupannya melalui aktivitas perdagangan di sekitar lokalisasi tersebut. Ada penjual makanan, penjual minuman, jasa laundy, salon, jasa parkir, penjual baju serta pekerjaan yang lain yang akan jelas kebingungan ketika Dolly ini ditutup.

Bukan perkara menolak atau tidak, setuju atau tidak, iya atau tidak, tetapi bagaimana kemudian kelangsungan hidup masyarakat yang melakukan aktivitas ekonomi di sekitar lokalisasi tersebut dapat tetap berlangsung sebagaimana mestinya ketika Dolly belum ditutup.
Menjawab pertanyaan tersebut Budayawan Taufik Monyong mengungkapkan tanggapannya terkait penutupan Dolly. Saat ditemui dikantor Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) pada hari selasa, (2/6/2014), wakil ketua DKJT yang akrab disapa cak Tomo mengungkapkan persetujuan bersyarat terkait ditutupnya Dolly.

“Setuju ditutup tetapi harus ada alternatif yang konkret, karena menghapuskan sebuah sejarah peradaban itu harus membayar mahal bagi sebuah peradaban itu. Tidak setuju ditutup kalau ada kesewenang-wenangan terhadap semua keputusan dan kebijakan tanpa memperhatikan sisi nilai kemanusiaan” ucapnya.

Cak Tomo kemudian melihat bahwa penutupan dolly harus dilakukan dengan pendekatan yang berbeda, tidak hanya semata-mata ingin menutupnya saja. Menurutnya cak Tomo, Tri Rismaharini selaku Walikota Surabaya diharapkan untuk sering melakukan dialog dengan para pekerja seks, para mucikari serta masyarakat sekitar Dolly untuk intensif berbicara dua arah sehingga tahu bagaimana kondisi sebenarnya dalam lingkungan lokalisasi tersebut ketika nantinya ditutup.

Sebagai seorang seniman dan budayawan, lokalisasi menurut cak Tomo merupakan ruang sosial yang memiliki karakteristik kebudayaan. Dolly dalam hal ini dilihatnya sebagai peristiwa masyarakat yang sangat luar biasa, yang merupakan ruang kreatif dari adanya kepanikan masyarakat dan keterbatasan ekonomi.

Penutupan Dolly lebih dari sekedar permasalahan membahayakan mentalitas masyarakat, namun juga menyangkut hajat hidup orang yang menggantungkan kehidupannya dari prostitusi tersebut. Lokalisasi itu layaknya sebuah jebakan hitam bagi masyarakat yang tidak tahu sehingga bagi mereka yang tidak tahu, kehadiran lokalisasi dianggap membahayakan mentalitas.

Pentutupan Dolly juga dianggap bukan solusi yang tepat untuk menghentikan masalah prostitusi di kota Surabaya apabila berkaca dari penutupan beberapa lokalisasi di kota Surabaya sebelumnya. Jika lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu benar-benar ditutup nantinya,dikhawatirkan akan muncul berbagai macam tempat prostitusi baru yang makin susah untuk dikontrol.

“Setelah Dolly ditutup, dikhawatirkan akan muncul berbagai macam tempat prostitusi baru, tempat prostitusi khusus laki-laki, tempat prostitusi khusus perempuan. Lokalisasi ditutup orang pindah ke panti pijat, ke kos-kosan, ke hotel dan sebagainya, akan ada bentuk-bentuk baru prostitusi” pungkasnya.

Reporter : Aditya Candra Lesmana

back to top