Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Dedi Yuniarto Si Gerilyawan Jago Tarung

Dedi Yuniarto Si Gerilyawan Jago Tarung

Dalam perspektif 'pasar',  seni rupa ibarat hutan belantara yang penuh misteri. Hanya orang-orang tertentu yang berani masuk dalam wilayah ini. Semua hampir serba tak terduga. Seorang seniman bisa menjadi sangat kaya dan sebaliknya.

Bayangkan dengan perbandingan jumlah kolektor sekitar 50 di Indonesia dan sekian ribu pelukis yang berkarya, sepertinya tak mungkin semua terbeli. Tapi semua bisa terjadi. Itu misterinya.

Tentu harus ada pasar sekunder atau alternatif agar karya seniman tidak sia-sia jika memang urusannya untuk dijual. Dedi Yuniarto, mungkin sedikit orang yang berani atau nekad masuk dalam dunia takdir entah berantah yang misterius itu.

Dedi Yuniarto, lima tahun lalu, membentuk kelompok Jago Tarung. Kelompok ini punya niat membangun sebuah pola manajemen untuk para pelukis yang sering tak berdamai dengan dirinya untuk mengatur diri sendiri. Dalam dunia yang penuh misteri ini, Dedi sepertinya punya strategi khusus.

T: Anda adalah pelaku dalam dunia pasar seni rupa. Bisa ceritakan kondisi yang Anda alami saat ini?

J: Lebih tepatnya, saya disebut pelaku dunia seni rupa. Kaitan saya dengan 'pasar seni rupa' sejauh ini adalah mengadakan kerjasama dengan galeri-galeri. Instrumen 'pasar seni rupa' yang lain seperti balai lelang dan art fair belum pernah saya masuki. Dan pengalaman saya yang mungkin bisa dibilang 'aneh' adalah lukisan yang saya pamerkan terjual justru ketika saya menggelar event selain di galeri (yakni di art cafe atau bahkan di sekolah seni). Nilai transaksi bisa dikatakan tidak kalah dengan transaksi normal yang terjadi di sebuah galeri.

T: Menurut Anda booming yang dinanti itu akan datang, atau hanya semacam menunggu Godot? (menunggu godot = menunggu tanpa kepastian)

J: Pertama: Bagi saya, dunia seni rupa saat ini sudah menjadi sebuah 'industri estetika' yang bisa dikatakan mapan. Infrastrukturnya seperti galeri, balai lelang, institusi seni lain (sekolah seni, lembaga seni lain, media dan pewarta seni, kurator, kolektor, komunitas seniman, dsb), art fair, biennale, triennale, sudah terbentuk dan berlangsung secara alamiah saling mengadakan relasi satu sama lain. Tiap-tiap infrastruktur memiliki visi dan misi yang beragam dan spesifik. Mereka memilih strategi dan pendekatan yang berbeda-beda.

Kedua: Wacana seni rupa kontemporer merambah momen-momen eksplorasi tanpa batas (anything goes). Dan hingga saat ini wacana seni kontemporer belum menunjukkan bentuknya.

T: Anda percaya akan muncul booming di seni rupa? Apa alasannya?

J: Dari kedua fenomena di atas, (yang sudah saya jelaskan pada point 2) ditambah dengan pengalaman-pengalaman saya selama hampir 5 tahun berkecimpung di dunia seni rupa, saya sangsi akan datangnya booming seni rupa sebagaimana booming yang terjadi sebelumnya, seperti yang terjadi pada tahun 1975, 1986-1987, 1998-1999, 2007-2008. Saat ini adalah era dimana orang sudah mengerti bagaimana bermain di pasar seni rupa, sebagaimana Saatchi (pebisnis dan kolektor seni dunia keturunan Yahudi Irak) lakukan.

Tiap-tiap galeri sudah memiliki seniman-seniman jagoannya masing-masing. Di belakang mereka berdiri seorang atau konsorsium patron seni rupa yang siap mengeluarkan berapapun investasi yang dibutuhkan. Karena dalam industri apapun, persoalan 'brand' adalah mutlak. Dan wadah untuk membentuk brand sudah ada, yakni art fair, galeri, balai lelang, biennale, triennale, dsb. Namun demikian apapun dapat saja terjadi di dalam dunia seni rupa yang seperti rollercoaster itu. 'Booming kecil-kecilan' sangat mungkin terjadi tetapi hanya akan menyasar seniman-seniman papan atas (seniman selebritis).

T: Anda punya stratergi khusus untuk menembus benteng sunyi pasar seni rupa?

J: Saat ini pola gerakan saya adalah 'gerilya seni'. Memasuki wilayah-wilayah yang belum pernah dimasuki oleh orang lain, menyentuh orang-orang yang memiliki interseksi dengan dunia seni rupa, dan dengan jumlah personil yang terbatas yakni 3 sampai 7 orang seniman. Pola gerak seperti ini cukup efektif sekaligus ekonomis. Sebagaimana sebuah gerilyawan, maka kemampuan tiap-tiap individu seniman dan manajemen juga harus menjadi pertimbangan untuk selalu diasah.

Apabila sudah cukup 'modal' dan jaringan, pola gerilya ini dapat ditingkatkan dengan mengadu nasib di dalam event-event pada art fair atau biennale dan triennale tingkat nasional dan internasional.

back to top