Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Dedi Yuniarto Si Gerilyawan Jago Tarung

Dedi Yuniarto Si Gerilyawan Jago Tarung

Dalam perspektif 'pasar',  seni rupa ibarat hutan belantara yang penuh misteri. Hanya orang-orang tertentu yang berani masuk dalam wilayah ini. Semua hampir serba tak terduga. Seorang seniman bisa menjadi sangat kaya dan sebaliknya.

Bayangkan dengan perbandingan jumlah kolektor sekitar 50 di Indonesia dan sekian ribu pelukis yang berkarya, sepertinya tak mungkin semua terbeli. Tapi semua bisa terjadi. Itu misterinya.

Tentu harus ada pasar sekunder atau alternatif agar karya seniman tidak sia-sia jika memang urusannya untuk dijual. Dedi Yuniarto, mungkin sedikit orang yang berani atau nekad masuk dalam dunia takdir entah berantah yang misterius itu.

Dedi Yuniarto, lima tahun lalu, membentuk kelompok Jago Tarung. Kelompok ini punya niat membangun sebuah pola manajemen untuk para pelukis yang sering tak berdamai dengan dirinya untuk mengatur diri sendiri. Dalam dunia yang penuh misteri ini, Dedi sepertinya punya strategi khusus.

T: Anda adalah pelaku dalam dunia pasar seni rupa. Bisa ceritakan kondisi yang Anda alami saat ini?

J: Lebih tepatnya, saya disebut pelaku dunia seni rupa. Kaitan saya dengan 'pasar seni rupa' sejauh ini adalah mengadakan kerjasama dengan galeri-galeri. Instrumen 'pasar seni rupa' yang lain seperti balai lelang dan art fair belum pernah saya masuki. Dan pengalaman saya yang mungkin bisa dibilang 'aneh' adalah lukisan yang saya pamerkan terjual justru ketika saya menggelar event selain di galeri (yakni di art cafe atau bahkan di sekolah seni). Nilai transaksi bisa dikatakan tidak kalah dengan transaksi normal yang terjadi di sebuah galeri.

T: Menurut Anda booming yang dinanti itu akan datang, atau hanya semacam menunggu Godot? (menunggu godot = menunggu tanpa kepastian)

J: Pertama: Bagi saya, dunia seni rupa saat ini sudah menjadi sebuah 'industri estetika' yang bisa dikatakan mapan. Infrastrukturnya seperti galeri, balai lelang, institusi seni lain (sekolah seni, lembaga seni lain, media dan pewarta seni, kurator, kolektor, komunitas seniman, dsb), art fair, biennale, triennale, sudah terbentuk dan berlangsung secara alamiah saling mengadakan relasi satu sama lain. Tiap-tiap infrastruktur memiliki visi dan misi yang beragam dan spesifik. Mereka memilih strategi dan pendekatan yang berbeda-beda.

Kedua: Wacana seni rupa kontemporer merambah momen-momen eksplorasi tanpa batas (anything goes). Dan hingga saat ini wacana seni kontemporer belum menunjukkan bentuknya.

T: Anda percaya akan muncul booming di seni rupa? Apa alasannya?

J: Dari kedua fenomena di atas, (yang sudah saya jelaskan pada point 2) ditambah dengan pengalaman-pengalaman saya selama hampir 5 tahun berkecimpung di dunia seni rupa, saya sangsi akan datangnya booming seni rupa sebagaimana booming yang terjadi sebelumnya, seperti yang terjadi pada tahun 1975, 1986-1987, 1998-1999, 2007-2008. Saat ini adalah era dimana orang sudah mengerti bagaimana bermain di pasar seni rupa, sebagaimana Saatchi (pebisnis dan kolektor seni dunia keturunan Yahudi Irak) lakukan.

Tiap-tiap galeri sudah memiliki seniman-seniman jagoannya masing-masing. Di belakang mereka berdiri seorang atau konsorsium patron seni rupa yang siap mengeluarkan berapapun investasi yang dibutuhkan. Karena dalam industri apapun, persoalan 'brand' adalah mutlak. Dan wadah untuk membentuk brand sudah ada, yakni art fair, galeri, balai lelang, biennale, triennale, dsb. Namun demikian apapun dapat saja terjadi di dalam dunia seni rupa yang seperti rollercoaster itu. 'Booming kecil-kecilan' sangat mungkin terjadi tetapi hanya akan menyasar seniman-seniman papan atas (seniman selebritis).

T: Anda punya stratergi khusus untuk menembus benteng sunyi pasar seni rupa?

J: Saat ini pola gerakan saya adalah 'gerilya seni'. Memasuki wilayah-wilayah yang belum pernah dimasuki oleh orang lain, menyentuh orang-orang yang memiliki interseksi dengan dunia seni rupa, dan dengan jumlah personil yang terbatas yakni 3 sampai 7 orang seniman. Pola gerak seperti ini cukup efektif sekaligus ekonomis. Sebagaimana sebuah gerilyawan, maka kemampuan tiap-tiap individu seniman dan manajemen juga harus menjadi pertimbangan untuk selalu diasah.

Apabila sudah cukup 'modal' dan jaringan, pola gerilya ini dapat ditingkatkan dengan mengadu nasib di dalam event-event pada art fair atau biennale dan triennale tingkat nasional dan internasional.

back to top