Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

AT Sitompul, booming merusak harga diri

AT Sitompul, booming merusak harga diri

Jogja-KoPi| Booming seni rupa yang terjadi pada tahun 2007-2008 menjadi moment tak terlupakan khususnya bagi seniman di Indonesia. Yogyakarta, yang sampai saat ini masih menjadi pusat seni di Indonesia, merekam kisah hidup seniman yang terkena dampak dari booming seni rupa.

AT Sitompul, seorang pelukis beraliran abstrak mengisahkan kehidupannya kala terjadi booming. Laki-laki keturunan batak tersebut mengaku kehidupannya berubah secara drastis kala itu. Tidak tanggung-tanggung, dia dapat menghasilkan uang jutaan rupiah untuk setiap lukisan yang terjual. Dia juga mengatakan hampir setiap karyanya laku kala itu.

Perubahan gaya hidup secara alami mengikuti penghasilan A.T Sitompul, yang akrab disapa Tompul. Tompul mengaku dapat membeli motor seharga ratusan juta hingga mobil mewah dengan mudahnya. Bahkan ia mengatakan dapat berpelesir ke Wonosobo atau Temanggung hanya untuk menikmati kopi, atau pergi ke berbagai tempat lainnya bersama istri untuk menikmati kuliner.

Bukan hanya Tompul, hampir seluruh mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) yang baru belajar  melukis pun kecipratan rezeki. Dia bertutur jika pada saat itu, mobil berjejeran di tempat parkir mahasiswa ISI. Mahasiswa menjadi kaya secara mendadak karena semua lukisan laku keras di pasar.

“Ya namanya mahasiswa baru belajar, tiba-tiba bisa ngantongin duit minimal nih sejuta sehari. Itu bersih. Bahkan lukisan masih basah aja, itu udah dibeli cash. Ini nih saya baru ngelukis, udah ditanya itu buat siapa? Kalau nggak ada, dibeli sama dia. Sampek segitunya lho,” terang Tompul.

Barulah ketika booming tiba-tiba berhenti, seniman-seniman menjadi gelagapan. Mereka yang terbiasa setiap hari mengantungi jutaan rupiah melalui lukisan, kebingungan karena tak ada satupun lukisan yang terjual. Tidak sedikit yang terlanjur terlena dengan kehidupan serba mewah, kemudian terpuruk karena terlilit hutang.

 “Ada lho temen yang sampe dia makan lukisannya. Dimakan betul itu lukisan saking nggak ada duitnya buat makan,” tutur Tompul.

Tompul juga mengisahkan kehidupan pedih seorang pelukis. Pernah suatu ketika, lukisan tompul hanya dihargai dengan harga yang menyakitkan hati. Ini terjadi kala pameran di Singapura beberapa tahun lalu, pada saat kolektor telah mengantungi untung yang besar, maka lukisan-lukisan yang belum terjual akan dilelang dengan harga yang kecil. Berapapun penawaran akan dilepas kepada peminat. Ini sekaligus mengurangi pajak yang harus dibayarkan galery ketika lukisan dibawa kembali ke Indonesia.

Bagi Tompul, hal seperti itu bukan hanya masalah uang, tapi juga harga diri pelukis. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat itu saja, melainkan akan mematikan pasaran pelukis di masa yang akan datang. Itu semua pernah dialami tompul.

Cerita menarik juga disampaikan oleh Tompul mengenai para penjudi lukisan. Ditengah booming, seorang bisa melakukan kontrak dengan pelukis, sehingga pelukis hanya melukis untuk orang tersebut selama beberapa tahun kedepan. Penjudi tersebut akan membayar kontan di awal, untuk kemudian dilelang dan dia beli sendiri dengan harga yang lebih tinggi. hal tersebut dilakukan untuk menaikkan ‘pamor’ pelukis. Ketika pamor sudah didapat, maka setiap lukisan yang dibuat dan telah dibeli dengan harga yang murah, akan dijual dengan harga yang sangat tinggi.

“Dia kontrak itu pelukis selama 3 tahun, dibeli tiap lukisan 75 juta. Lalu dia lelang dan dibeli sendiri sampe 150. Harganya naik tuh. Dijual lagi sampe 450, dan sampe 3 miliar. Nggak masuk akal kan? Ya memang tapi itu nyata. Pelukisnya nggak bisa apa-apa, wong udah dikontrak”
Penjudi seperti inilah yang memiliki kekuatan untuk menaikkan atau bahkan membunuh ‘pamor’ seorang pelukis. Pebisnis seni yang mengatasnamakan keindahan untuk meraup keuntungan. Chusnul Chotimmah| Winda Efanur FS

back to top