Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Antre hingga lumutan di RS pemerintah

Pasien antre di salah satu sudut di RSUD Dr Soetomo Pasien antre di salah satu sudut di RSUD Dr Soetomo
Surabaya – KoPi | Masyarakat masih menggantungkan pada rumah sakit umum milik pemerintah. Biaya yang murah dengan fasilitas yang lengkap menjadi alasan. Di Surabaya, rumah sakit milik pemerintah yang selalu sarat pasien antara lain adalah RSUD Dr Soetomo, RS Dr. Soewandi, RS Menur, dan RS Haji Surabaya. Setiap hari puluhan hingga ratusan pasien memenuhi ruang tunggu RS, baik untuk sekedar berobat, pemeriksaan, ataupun rawat inap.
 

Lihat saja di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Sejak pagi sudah ada puluhan pasien mengantri di poliklinik-poliklinik yang ada. Membludaknya pasien tersebut jelas mempengaruhi layanan yang diterima. Jika sedang ramai, seorang pasien bisa saja antre dari pagi hingga siang namun belum mendapat panggilan. 

Contohnya Nurul. Pasien yang ingin memeriksakan diri di poli umum tersebut menyebutkan lamanya dia mengantri. Ia telah datang sejak pukul 8 pagi, namun hingga pukul 10 belum juga dilayani. Menurutnya, sejak pagi sudah ada pasien lain yang sudah antre lebih dulu daripada dirinya.

Antrian lama biasanya juga dialami oleh para pasien yang berada di IRD. Beberapa tampak diberi tindakan medis seadanya lalu ditinggalkan dokter untuk merawat pasien lain yang baru datang. Selain itu proses administrasi yang lama, pasien juga harus menunggu untuk mendapatkan kamar, terutama bagi pasien BPJS. Proses administrasi dengan BPJS disebut menjadi biang lambatnya pelayanan.

Hal itu diungkapkan oleh Gilang, pasien asal Sumenep, Madura, yang menjalani operasi mata di RSUD Dr Soetomo. Gilang bercerita, ketika masuk ke Dr. Soetomo, dokter memberitahunya untuk mendaftar sebagai pasien umum apabila ingin cepat mendapatkan kamar dan jadwal operasi. Menurut sang dokter, antrian untuk pasien BPJS cukup lama.

“Ya saya akhirnya memilih sebagai pasien umum saja. Saya total habis Rp 6 juta untuk operasi ini, itu dari uang sendiri,” ungkapnya.

Selain masalah antre, citra kumuh juga selalu melekat pada rumah sakit milik pemerintah. Salah satunya disebabkan karena ada pasien-pasien yang tidak kebagian kamar dan harus menjalani perawatan di tempat tidur dorong. Kondisi itu paling kentara di bagian Instalasi Rawat Darurat. Sebagian pasien yang masih menunggu proses administrasi dibiarkan berbaring dengan perban-perban di lorong yang terbuka.

Selain itu, di lorong-lorong rumah sakit, bisa dilihat keluarga pasien yang menunggu sambil tidur-tiduran di alas yang mereka bawa. Kondisi tersebut jelas saja membuat rumah sakit terkesan kumuh, penuh, dan tak nyaman.

Rifai, salah satu asien yang ditanyai oleh KoranOpini.com mengatakan ia merasa beruntung selama ini tidak ada kesulitan yang dihadapi selama rawat inap. Namun ia mengeluhkan makanan rumah sakit yang dirasanya tidak menggugah selera. Namun ia pasrah saja, karena sebagai pasien ia tidak bisa meminta yang aneh-aneh. Ia sendiri tidak punya banyak selera makan selama dirawat, namun kadang ia meminta keluarganya membawakan makanan dari luar.

“Ya tidak selera mas. Tapi apa boleh buat, , namanya juga rumah sakit, bukan restoran. Paling kalau ingin makan yang lain saya minta dibelikan di luar,” ujarnya sambil terkekeh.

Berdasarkan data Humas RSUD Dr Soetomo, sepanjang 2014 lalu, tercatat ada 74 komplain yang dilayangkan pasien terhadap RSUD Dr. Soetomo. Sedangkan hingga Februari 2015, sudah ada 15 komplain yang dilayangkan. Komplain tersebut terdiri dari berbagai hal, mulai dari kurangnya kamar, pelayanan, administrasi, hingga antrian yang lama.

back to top