Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Tim advokasi Hong Kong kunjungi Erwiana

Tim advokasi Hong Kong kunjungi Erwiana

Ngawi-KoPi, Tiga anggota Team Advokasi Hong Kong berkunjung ke Ngawi, Jawa Timur, untuk melihat secara langsung kondisi Erwiana Sulistyaningsih dan menyiapkan dia untuk persidangan yang akan diselenggarakan di Hong Kong pada tanggal 25 Maret 2014 mendatang. Mereka berkunjung dari tanggal 24 – 26 Februari 2014. 

Delegasi Hong Kong tersebut terdiri dari Cynthia Tellez (Direktur Mission for Migrant Workers/MFMW), Isabel Chang (Program Officer Mission for Migrant Workers/MFMW) dan Eni Lestari (Koordinator Komite Keadilan Untuk Erwiana dan Seluruh PRT). 

“Team Advokasi Hong Kong telah bertemu dan menjelaskan kepada keluarga, kuasa hukum dan kami tentang perkembangan kasus pidana dan perdata yang melibatkan Erwiana di Hong Kong” jelas Antik Pristiwahyudi dari IMWU-Jakarta. 

Menurut Ms. Cynthia Tellez, Erwiana adalah korban dan saksi bagi kasus kriminal yang diajukan pemerintah Hong Kong menuntut majikannya Law Wan Tung. Disisi lain, Departemen Tenaga Kerja Hong Kong juga memfasilitasi tuntutan keuangan Erwiana yang meliputi hak gaji, libur mingguan dan nasional, cuti tahunan. Pada saat yang bersamaan, Departemen Tenaga Kerja juga mengajukan kasus pidana terhadap Law Wan Tung yang dinilai telah melanggar hukum perburuhan di Hong Kong. Lebih dari itu, Erwiana juga sedang mengajukan kasus perdata ganti rugi terhadap Law Wan Tung atas luka-luka dan kerugian yang dialaminya. 

“Erwiana siap menjadi saksi di pengadilan Hong Kong menuntut majikannya tetapi berharap agar bisa menunggu hingga kesehatannya benar-benar pulih” tambah Antik.

Di sela-sela kunjungan, Ms. Cynthia Tellez juga menyempatkan bertemu pihak Rumah Sakit Kasih Ibu di Solo yang membantu check-up reguler Erwiana untuk meminta keterangan lebih lanjut tentang kesehatan dan imbas jangka panjang dari luka-luka yang pernah dialaminya. 

Erwiana Sulistyaningsih, buruh migran korban penyiksaan majikan - Law Wan Tung - selama 7 bulan 14 hari bekerja padanya. Ketika fisik Erwiana semakin melemah dan tidak mampu bekerja akibat luka-luka yang dideritanya, majikan justru memulangkannya secara diam-diam pada tanggal 9 Januari 2104. Erwiana kemudian ditemukan di Bandara International Airport dan dibantu oleh Riyanti yang sedang pulang ke Indonesia. 

 

“Kasus Erwiana hanyalah salah satu dari kasus penganiayaan yang menimpa buruh migran diluar negeri. Di tahun 2013, Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) menerima sebanyak 2.643 kasus dari Hong Kong, Malaysia, Arab Saudi dan Taiwan” tegas Iweng Karsiwen dari ATKI-Indonesia.

Iweng menambahkan membludaknya jumlah kasus yang dialami oleh buruh migran diluar negeri adalah akibat dari buruknya sistem penempatan yang menyerahkan semua urusan kepada PPTKIS, mulai penempatan hingga perlindungan. 

“Calon burun migran dikurung di dalam penampungan 

layaknya dipenjara atas nama training. Sedihnya, semua diharuskan membayar mahal biaya penempatan (overcharging). Training yang diberikan PPTKIS juga tidak sesuai dengan kebutuhan kami diluar negeri sehingga banyak majikan kecewa dan kami sendiri buta. Erwiana adalah bukti kongkretnya” tegas Iweng Karsiwen.

Iweng Karsiwen meminta kepada pemerintah untuk intropeksi diri dan belajar dari berbagai kasus yang menimpa buruh migran seperti Erwiana, Kartika, Uul, Siti, Alm Ngatini, Satinah, Wilfrida, Kadime, Sadiyah dan banyak lagi. Pemerintah Indonesia harus menghentikan penyerahan segala urusan TKI kepada PPTKIS dan bertanggungjawab untuk memberikan training pra pemberangkatan sendiri. 

“Pemerintah harus meyakinkan keselamatan kerja buruh migran dengan memberi training yang mencakup bahasa, informasi tentang hukum negara penempatan, sosial budaya masyarakat di negara tujuan, hak-hak pekerja dan keselamatan kerja. Lebih dari itu, traning harus diberikan gratis. Juga beri pilihan kepada buruh migran untuk keluar negeri sendiri atau menggunakan jasa PPTKIS/agen ketika mengurus kontraknya” tuntut Iweng Karsiwen. 

Yang memperbudak buruh migran adalah sistem penempatan TKI yang sangat buruk. Pemerintah harus belajar dan merubah seluruh peraturan yang memperbudak tersebut agar kasus-kasus seperti Erwiana bisa diminimalkan.

 

Sumber: Iwenk Karsiwen, ATKI-Indonesia, Antik Pristiwahyudi, IMWU-Indonesia

 

 

back to top