Menu
Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden H...

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde Karwo Paparkan Budaya Lokal di Jatim

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Penyelesaian Kasus Montara “Test Case” Komitmen Persahabatan Australia

Penyelesaian Kasus Montara “Test Ca…

Kupang-KoPi| Laporan In...

Prev Next

Penyair Saut Situmorang menjadi tersangka dalam kasus ITE

Penyair Saut Situmorang menjadi tersangka dalam kasus ITE

Jogjakarta-KoPI| Penyair Saut Situmorang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Metro Jaya Jakarta Timur dalam dugaan penghinaan atau pencemaran nama baik melalui media elektronik terhadap sastrawan Fatin Hamama Rijal Syam.

Saut sebagai tersangka akan dimintai keterangannya di Polres Metro Jaya Jakarta Timur, Jum'at, 11 September 2015 pekan mendatang.

Sebelumnya, penyair berambut gimbal yang dikenal dengan puisinya 'Aku Mencintaimu dengan Segala JembutMu' ini datang sebagai saksi didampingi pengacaranya 26 Maret 2015 lalu.

Saut disangkakan melakukan penghinaan terhadap lawan polemiknya Fatin Hamama dalam perkara terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh di Indonesia. Buku itu memuat nama Denny JA pendiri Lingkaran Survey Indonesia (LSI) sebagai salah satu nama yang paling berpengaruh di Indonesia.

Munculnya nama Denny JA membuat sebagain sastrawan Indonesia, di antaranya Saut Situmorang melakukan petisi dan penolakan keras. Saut dan kawan-kawan termasuk Faruq Tripoli seorang Guru Besar Budaya UGM menganggap ada upaya manipulasi sejarah sastra Indonesia dengan menampilkan Denny JA sebagai penyadang dana buku tersebut.

Beberapa tuduhan yang dialamatkan pada Denny adalah dugaan memanipulasi karya puisi-puisi esainya dengan membeli karya-karya penyair lain. Penyair Ahmadun Yosi Herfanda bahkan telah mengaku dan mengembalikan honornya sebesar Rp. 10 juta melalui Fatin Hamama.

Tuntutan untuk menggelar debat bersama Denny JA dan Djamal D Rahman (Pemred majalah sastra Horison) tidak pernah terjadi, meskipun ruang dan waktu telah disediakan.

Buntutnya kemudian, Saut Situmorang berdebat dengan Fatin Hamama di media sosial, terutama facebook dan berakhir dengan pengaduan Fatin Hamama ke Polres Jakarta Timur.

Berikut pernyataan lengkap Ahmadun Yosi Herfanda soal pengembalian uang Rp 10 juta kepada Denny JA melalui akun Facebooknya:

SAYA SUDAH KEMBALIKAN HONOR PUISI ESAI DENGAN PERMINTAAN MAAF

Salam sastra.

Dengan rasa hormat dan kerendahan hati, serta dengan permintaan maaf kepada Denny JA dan Fatin Hamama atas ketidaknyamanan ini, sebagai konsekuensi dari penyesalan saya atas keterlibatan saya pada politik puisi esai (ikut menulis puisi esai pesanan) itu hari ini, tepat pukul 14.50 WIB, saya sudah mengembalikan honor puisi esai Rp 10 juta melalui rekening BCA Fatin Hamama (perantara pesanan puisi esai ini). Alhamdulillah, Allah SWT memberi jalan kemudahan bagi saya untuk mengembalikan uang itu bukti setoran pengembalian dana itu terlampir. Semoga dengan kerendahan hati pula Denny JA berkenan menerimanya kembali. Sebelum ini sebenarnya saya sudah mengontak Fatin untuk membatalkan kesertaan saya itu, tapi Fatin tentu tak dapat berbuat apa-apa karena bukunya sudah telanjur dicetak.

Dengan pengembalian honor itu berarti otomatis saya menarik kembali puisi esai berjudul "Grafiti Sulastri" yang pernah saya kirim ke Denny JA atas pesanannya. Kalaupun puisi itu sudah terlanjur dicetak bersama puisi-puisi esai karya para penyair lain, tidak apa-apa. Saya takkan mempersoalkannya. Yang penting, bagi saya pribadi, saya sudah jujur pada suara hati nurani saya sendiri, suara hati yang sempat saya abaikan saat menerima pesanan itu. Sekali lagi, maaf dan terima kasih kepada Denny JA dan Fatin Hamama yang telah memberikan penghargaan begitu tinggi pada saya lewat pesanan puisi esai itu. Mohon maaf, jika pengembalian honor itu membuat perasaan jadi tidak nyaman. Ide puisi esai itu sebenarnya menarik jika tidak dipolitisir untuk kepentingan tertentu. Yang memang senang menulis puisi esai tentu tidak ada salahnya juga, dan terus saja lanjutkan asal memang sesuai dengan pilihan hati masing-masing.

Perlu saya tegaskan juga bahwa sikap ini adalah sikap pribadi saya sendiri dan sama sekali tidak mewakili siapapun. Dengan pernyataan sikap ini saya tidak bermaksud mengajak, menyinggung atau melibatkan siapapun yang sudah telanjur ikut menulis puisi esai. Jika ada juga yang merasa dirugikan atas pernyataan penyelasan dan sikap saya ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Soal honor puisi esai yang sudah terlanjur kawan-kawan terima, silakan kembalikan saja ke suara hati nurani masing-masing. Semoga honor itu tetap berkah untuk kawan-kawan belanjakan. Hanya, uang yang saya terima memang agak beda jumlahnya dan prosesnya pun berbeda sehingga hati nurani saya meragukan kehalalannya. Karena itu, sebagai manusia yang lemah dan tak bebas dari kekhilafan, hanya pengembalian honor itu yang dapat saya lakukan sebagai wujud pertobatan atas keterlibatan saya pada politik puisi esai itu.

Sekali lagi, dengan kerendahan hati, saya minta maaf, jika di dalam pernyataan penyesalan dan sikap saya itu ada hal-hal yang konyol atau menyinggung perasaan kawan-kawan yang terlibat dalam "politik puisi esai" dan penokohan Denny JA itu. Saya sekali lagi minta maaf sedalam-dalamnya kepada Denny JA dan Fatin Hamama atas semua tidaknyamanan ini. Sungguh bukan maksud saya menyinggung perasaan siapapun. Meskipun, memang, dalam mengungkap kebenaran kadang-kadang menimbulkan efek samping: menyinggung perasaan orang lain. Sekali lagi minta maaf bagi siapa saja yang terkena efek samping penyesalan saya itu. Saya berpegang pada hadis Nabi SAW, yang kurang lebih berarti, "Sampaikanlah kebenaran, walau sepahit apapun."

Dengan pernyataan penyesalan, sikap, dan pengembalian honor kepada Denny JA (melalui perantara Fatin Hamama, karena saya tidak memiliki rekening Denny JA), maka saya anggap persoalan saya dengan "politik puisi esai" telah selesai. Semoga kejujuran pada hati nurani ini memberi hikmah bagi saya pribadi dan siapa saja yang menerimanya dengan hati terbuka. Semoga Allah SWT meridhoi langkah saya ini dan memberi bimbingan serta kekuatan pada langkah saya selanjutnya, langkah seorang hamba yang sedang belajar setia di jalan-Nya. Terima kasih. Salam cinta untuk semua. Wassalam wr. wb. *ahmadun yosi herfanda

back to top