Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Machfud MD : Hukuman Mati Bagi Koruptor

Machfud MD : Hukuman Mati Bagi Koruptor

Surabaya- KoPi,   Mantan Ketua Hakim Mahfud MD, melalui Workshop Indonesia 5 Tahun ke Depan : Pemikiran Tokoh Nasional  di Universitas Airlangga Surabaya menyatakan bahwa hukuman mati adalah salah satu jalan keluar dari buntunya pemberantasan korupsi. ( 13/3/14)

Machfud MD datang sebagai pembicara didampingi pengamat Ekonomi, Aviliani dan juga presenter kondang Desi Anwar. Mahfud MD yang selama memimpin MK mendapat prestasi sebagai 10 MK terbaik di dunia versi Harvard Handbook Amerika ini memiliki usulan kongkret terkait korupsi yang menyerang ke segala lini kehidupan di Indonesia. Adanya hukuman mati dan pembuktian hukum terbalik menjadi jalan keluar buntunya pemberantasan korupsi.

 

“Ke depan agar lebih jelas penyelesaiannya  korupsi yang mbulet ini ada 2 hal: satu, ada revisi Undang-undang Tindak Pidana Korupsi sehingga orang yang melakukan korupsi itu diancam hukuman mati bukan diancam hukuman mati kalau korupsi dalam keadaan kritis. Karena keadaan kritis itu tidak ada ukurannya yang jelas sehingga ke depan hanya mencoret satu kata aja kata kritis itu, pokoknya hukuman mati. Kedua, pembuktian hukum terbalik, agar orang yang kekayaannya lebih dari batas kewajarannya mampu membuktikan bahwa itu sah, jangan jaksa yang membuktikan itu hasil korupsi. Saya kira itu penting bagi pengembangan hukum ke depan agar kita tidak berhenti di satu titik di satu tempat, ndak jalan-jalan.” Ujarnya.

 

Tentang pengawasan MK oleh Komisi Yudisial, Mahfud menyatakan ketidaksetujuannya karena UU pengawasan MK oleh Komisi Yudisial dibatalkan karena bagaimanapun MK harus tetap diawasi dan tidak boleh kebal hukum. Mahfud berharap masyarakat tetap harus mengawasi kinerja MK.

 

Terkait Resminya Gubernur DKI Jakarta, Joko “Jokowi” Widodo menjadi calon presiden dari PDI-P, Mahfud MD juga tetap menyatakan optimis terhadap pencapresannya oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meskipun harus bersaing  dengan Jusuf Kalla dan Rhoma Irama, Mahfud MD menjawab yakin.

 

“Harus optimis. Pak JK harus optimis, Rhoma Irama harus optimis dan saya juga harus optimis. Pokoknya semuanya harus optimis, demokrasi itu dibangun di basis optimis karena tidak optimis demokrasi mati dong, ndak ada orang nyalon DPR, DPRD, bupati itu karena mereka optimis karena optimis itu mencari jalan demokratis untuk mencapai optimismenya itu.”

 

Lebih lanjut, Mahfud MD enggan memberikan komentar tentang siapa cawapres yang diinginkan untuk berpasangan dengan dirinya. Hal ini diperjelas dengan pengakuan Mahfud MD bahwa PKB masih belum menetapkan siapa yang akan menjadi capres dan juga masih ingin melihat hasil dari pemilu legislatif 9 April. 

 

“kamu saja yang jadi cawapresnya ya”, ujarnya sembari tertawa kepada wartawan.

 

Reporter : Yogi Ishabib-Nora T. Ayudha

 

back to top