Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Kisah Siti Zaenab 16 tahun menunggu hukuman mati di Madinah

Kisah Siti Zaenab 16 tahun menunggu hukuman mati di Madinah
KoPi | Setelah 16 tahun menunggu di balik jeruji penjara Madinah, nasib Siti Zaenab berakhir naas. Siti Zaenab, merupakan buruh migran asal Bangkalan yang berkerja di Arab Saudi. Namun, indahnya bekerja di negara orang sama sekali tidak dirasakan oleh ibu dari Syarifudin dan Mohammad Ali ini. Hidup Siti Zaenab berakhir di tangan algojo hukuman mati.

Selama menjadi TKI, Zaenab kerap mendapat penyiksaan dari majikan perempuan yang bernama Nouroh Binti Abdullah Duhem Al Maruba. Zaenab menceritakan penderitaan yang dialaminya lewat surat yang dikirimnya ke saudaranya di Bangkalan. Ia mengatakan tidak kerasan bekerja di Arab Saudi dan ingin pulang pada Hari Raya Idul Fitri pada 1998. Namun surat itu menjadi surat terakhir yang dikirim Siti Zaenab.

Sebelum keinginan tersebut sempat terlaksana, sebuah kejadian yang merenggut kebebasannya selama 16 tahun itu terjadi. Siti bercerita saat hendak salat Subuh, dia memasak air di dapur. Lalu, majikan perempuannya memukul kepala, menjambak dan mencekik lehernya. Kemudian, dalam keadaan kesusahan dan kesakitan, Siti mencari pisau dan menusuk perut majikannya. Siti membunuh sang majikan karena terpaksa dalam upaya membela diri.

Selama 16 tahun, sejak 5 Oktober 1999 sampai 13 April 2015, Siti Zaenab ditahan di penjara umum Madinah. Selama itu pula, ia berjuang mendapatkan kembali kebebasannya dengan bantuan dari sanak saudara, pemerintah, dan Migrant Care. Bahkan mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid sempat berhaisl menunda eksekusi Siti Zaenab melalui lobby kepada Raja Arab hingga ahli waris majikannya akil baligh.

Namun usaha tersebut kandas pada tahun 2013. Setelah dinyatakan akil baligh, ahli waris majikan Siti Zaenab, Walid bin Abdullah bin Muhsin Al Ahmadi, menolak memberikan maaf dan tetap menuntut pelaksanaan hukuman mati.

Amnesty International dalam pembelaannya menyatakan Siti Zaenab diyakini memiliki gangguan kejiwaan karena kerap diperlakukan secara sewenang-wenang oleh majikannya. Menurut Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara Amnesty International, Philip Luther, eksekusi terhadap seseorang yang diduga mengalami gangguan jiwa bertentangan dengan dasar kemanusiaan.

"Apapun yang menjadi alasan di balik pelaksanaan eksekusi pada tahun ini, seharusnya menimbulkan kecaman internasional. Otoritas kerajaan harus menunda eksekusi ini dan menjalankan moratorium hukuman mati secara resmi," kata Philip Luther dalam pernyataan yang dirilis melalui situs Amnesty International.

Dalam status twitternya, mantan Sekretaris Kabinet Dipo Alam turut memberikan pendapat terhadap eksekusi mati Siti Zaenab. Dalam tweet pada Selasa (14/4) malam ia menyatakan “Apapun kesalahan Siti Zaenab yg dieksekusi mati di Saudi Arabia, kemanusian kita bersedih, sama seperti bangsa lain yang warganya dieksekusi mati”. Ia juga melanjutkan dengan tweet berikutnya: “Pelaksanaan hukuman eksekusi mati bagi warga bangsa sendiri atau bangsa lain, sebaiknya tidak dikumandangkan ramai sbg heroisme kedaulatan”.

Tidak hanya itu, Migrant Care dalam press release-nya mendesak pemerintah Indonesia menghentikan praktek hukuman mati di Indonesia. Hal itu sebagai langkah pertama untuk mendesak negara lain agar tidak menerapkan hukuman mati bagi buruh migran Indonesia. Migrant Care juga mendesak agar pemerintah Indonesia meminta maaf kepada keluarga Siti Zaenab dan menjamin masa depan pendidikan kedua anak Siti Zaenab. | Labibah

back to top