Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Kehadirannya telah menyebabkan ketakutan

Kehadirannya telah menyebabkan ketakutan

Tenaga kerja, khususnya buruh adalah kelompok yang dikhawatirkan akan menjadi korban dari dilangsungkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), pada penghujung tahun 2015 ini.

Surabaya-KoPi| Masalah utama yang dihadapi buruh dalam MEA mendatang adalah terkait dengan fleksibilitas pasar tenaga kerja. Ekonomi global mensyaratkan perubahan pasar menuju ke arah yang lebih fleksibel dengan mengurangi peran Negara. Ini merupakan salah satu dampak dari liberalisasi pasar yang kemudian akan berdampak buruk bagi buruh.

Dalam Menghadapi MEA mendatang, Indonesia harus memiliki pondasi perekonomian yang lebih berpihak pada rakyat. Yakni perekonomian yang menguatkan pembangunan infrastruktur, sumberdaya manusia, maupun kekuatan ekonomi politik. Sehingga derasnya arus liberalisasi pasar dapat diimbangi oleh kekuatan ekonomi yang lebih kuat di dalam negeri. 

Dalam konteks hukum, politik hukum di Indonesia sendiri dirasa belum cukup menunjukkan keberpihakan untuk menghapus proses-proses fleksibilitas tenaga kerja yang tidak melindungi hak-hak tenaga kerja di Indonesia. 

Herlambang P. Wiratraman, Ahli Hukum Universitas Airlangga mengatakan bahwa buruh atau tenaga kerja dalam posisi yang tidak cukup diuntungkan dalam MEA mendatang, yakni merupakan kekuatan yang rentan tertekan. Pernyataan ini merujuk pada situasi di Indonesia mengingat infrastruktur perburuhan, kebijakan mengenai upah kerja yang murah, dan peraturan-peraturan yang menopang fleksibilitas tenaga kerja tidak kunjung diselesaikan oleh Pemeintah.

“Memang produk hukum yang harus diciptakan ke depan adalah tetap menjamin perlindungan hak asasi manusia, khususnya bagi kelompok  atau kaum yang lemah. Dalam proses industri posisi buruh itu sangat rentan ditekan. Oleh sebab itu negara harus memberi perlindungan yang kuat pada hak-hak buruh melalui sejumlah perundang-undangan. Selain itu, mekanisme kontrol negara terhadap upaya penyelesaiaan hubungan industrial harus lebih diangkat, dikemukakan lagi,” Ujar Herlambang.

Sebagai negara hukum, kepastian hukum menjadi salah satu yang paling penting. Hukum tidak hanya mengatur mengenai upah buruh, namun juga harus memperkuat jaminan hak berkumpul, berserikat, dan berpendapat. Jika permasalahan tersebut telah selesai, maka Indonesia dapat dikatakan siap menghadapi MEA.

Kehadirannya, MEA, telah menyebabkan ketakutan. Hanya dengan persiapan matang baik secara hukum dan mental, para tenaga kerja dan buruh mampu menghadapi MEA. | Reporter: Chusnul Chotimmah

back to top