Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Indonesia memerlukan UU Perlindungan Agama

Indonesia memerlukan UU Perlindungan Agama

Jogjakarta-KoPi|Suatu anugerah dan tantangan tersendiri bagi Indonesia memiliki multi agama dan kepercayaan. Menurut undang-undang, Indonesia hanya mengakui enam agama yaitu, Islam, Katolik, Kristen, Budha, Hindhu, dan Konghucu.

Di luar itu kementrian agama mencatat adanya agama nusantara yang terdiri dari 245 aliran dan kepercayaan. Kondisi multi agama dan kepercayaan ini mengarahkan Indonesia rawan tindakan intoleran. Dialog kebersamaan turut diupayakan guna menekan aksi radikal kelompok tertentu. Bahkan ikon kota Jogjakarta “Berhati Nyaman” tercoreng setelah mendapat ranking 2 kota intoleran se-Indonesia.

Menurut Koordinator Nasional Sobat KBB (Solidaritas Korban Pelanggaran Kebebasan Beribadah dan Berkeyakinan), Pendeta Palti Panjaitan, sangat penting mengadakan dialog bersama lintas agama. Dialog ini upaya untuk menentukan visi dan misi kehidupan keagamaan ke depan.

Pendeta Palti yang menjadi narasumber “Dialog Keagamaan RUU Perlindungan Umat Beragama” di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta siang tadi berharap masyarakat bisa membangun iklim komunikasi antar agama.

“Banyak kasus kekerasan agama terjadi karena kurangnya dialog, bisa dilihat banyak spanduk yang mengatakan anti Syiah dan beberapa aksi lain. Seperti aksi ISIS itu tidak termasuk agama. Saya tahu agama Islam dan tidak seperti itu. Tujuan semua agama untuk mencapai perdamaian”, tutur Pendeta Palti.


Untuk mencapapai cita-cita bersama tersebut kini DPR tengah menggodok RUU tentang Kerukunan umat beragama yang sudah masuk program kerja nasional. Namun menurut Pendeta Palti ada kekurangan terhadap RUU Kerukunan Umat Beragama (KUB).

“RUU Perlindungan ini baru wacana dari Kementrian Agama RI tapi belum masuk prolegnas. Kenapa muncul usul RUU baru karena menurut saya dari kata kerukunan juga bermasalah. Berati ada yang nggak ‘rukun’ itu. Jika perbedaan tidak dikelola memang selalu akan tidak rukun. Jadi kata perlindungan itu yang tepat. Itu tafsiran saya”, papar Pendeta Palti.

Pendeta Palti menambahkan RUU Perlindungan Umat Beragama nantinya harus mengakui tidak hanya enam agama saja tetapi mengakui keberadaan agama nusantara lainnya. Pasalnya setiap orang bebas memiliki agama sesuai pasal 29 UUD 1945. |Winda Efanur FS|

back to top