Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

DUKUNG Satinah&Erwiana, GAMMI-JBMI Gelar doa dan galang dana

DUKUNG Satinah&Erwiana, GAMMI-JBMI Gelar doa dan galang dana

Hong Kong-KoPi - Bertempat di lapangan rumput Victoria Park, Causeway Bay, 200 orang buruh migran Indonesia mengadakan istighotsah dan penggalangan dana kemanusiaan untuk pembebasan Satinah dan persidangan kasus Erwiana. Kegiatan yang diselenggarakan Gabungan Migran Muslim Indonesia (GAMMI) dan Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) digelar mulai pukul 4 - 5.30 sore. "Doa ini adalah wujud keprihatinan kami atas nasib yang menimpa Erwiana dan Satinah. Mereka hanyalah korban kemiskinan dan kelalaian Pemerintah" jelas Dwi Sartini di sela-sela acara.

Hong Kong yang menjanjikan perlindunganpun tidak mampu menyelamatkan Erwiana Sulistyaningsih (23 tahun) dari penyiksaan majikannya yang jahat. Kasus Erwiana terkuak ketika majikan Law Wan Tung diam-diam memulangkannya dalam kondisi lebam dan lemah setelah 8 bulan dianiaya. Pukulan-pukulan tersebut menyisakan gumpalan darah di otak, penglihatan dan pendengaran bermasalah, trauma tulang belakang dan patah tulang hidung. Kasus Erwiana memicu kemarahan publik di Hong Kong sampai menggerakkan ribuan orang turun ke jalan. Kasus Erwiana menjadi sorotan seluruh media di dunia dan menggalang simpati bagi kondisi perbudakan yang menimpa PRT migran khususnya Indonesia di Hong Kong. "Besok (25 Maret 2014) Law Wan Tung akan dipersidangkan di pengadilan Kwun Tong untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Kami berharap dia dihukum seberat-beratnya agar jadi pelajaran" terang Dwi.


GAMMI-JBMI juga mengkampanyekan pembebasan Satinah BT Sumadi, BMI asal Semarang  yang sedang menunggu hukuman mati di Arab. Jika tidak mampu membayar diyat sebesar Rp. 21 miliar maka Satinah akan dijadwalkan dihukum mati pada tanggal 3 April mendatang. Satinah adalah ibu dari 2 anak yang merantau ketiga kalinya di tahun 2006. Namun kali ini, Satinah diperlakukan kasar majikan perempuannya bernama Nura al Gharib. Hingga suatu hari, Satinah memukul majikannya untuk membela diri. Akibatnya majikan koma dan meninggal di Rumah sakit. Akhirnya Satinah ditangkap dan dihukum mati. "Satinah dan Erwiana hanyalah korban kemiskinan dan buruknya sistem perlindungan bagi buruh migran PRT diluar negeri. Seandainya saja mereka tahu kemana minta pertolongan pasti mereka tidak perlu menjadi seperti ini" tegas Muthi Hidayati dari Liga Pekerja Migran Indonesia (LiPMI).anggota JBMI, dalam pidato sambutannya.

Seluruh buruh migran sektor PRT tidak diberitahu informasi tentang hak-haknya dan aturan negara penempatan. Pemerintah menyerahkan semua urusan ke PPTKIS dan agensi yang justru ingin membodohi buruh migran. "Kami ini diperlakukan seperti budak masa kini. Tidak diakui sebagai pekerja, standbay 24 jam kerja, diharuskan tinggal dirumah rumah majikan, tidak boleh libur, tidak bebas berkomunikasi, tidak ada ruang privacy dan renta pelecehan, kekerasan sampai kematian" tambah Muthi. Muthi berharap do'a Istighotsah dan juga tahlil mampu membuka mata hati pemerintah dan buruh migran lainnya untuk perduli dengan nasib Erwiana, Satinah, dan korban-korban kekerasan lainnya. Dalam sehari kemarin, JBMI berhasil menggalang HK$14.000. "Jika kami ini pahlawan devisa, maka Pemerintah tidak seharusnya enggan mengeluarkan yang diyat demi pembebasan Satinah. Jika tidak ingin ada korban-korban lain maka sebaiknya Pemerintah segera merubah semua peraturan yang memperbudak buruh migran PRT" tutup Muthi.

back to top