Menu
Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden H...

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde Karwo Paparkan Budaya Lokal di Jatim

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Penyelesaian Kasus Montara “Test Case” Komitmen Persahabatan Australia

Penyelesaian Kasus Montara “Test Ca…

Kupang-KoPi| Laporan In...

Prev Next

Di persidangan, punya kenalan lebih penting daripada bukti dan saksi

Di persidangan, punya kenalan lebih penting daripada bukti dan saksi
Surabaya – KoPi | Advokat Sudiman Sidabukke menyatakan seharusnya di depan hukum semua orang memiliki kedudukan yang sama. Namun, karena seseorang punya jaringan dan kenalan, ia bisa menjadi istimewa di sebuah persidangan. Hal itulah yang terjadi pada kasus nenek Asiyani.
 

Berbicara dalam Seminar Nasional Konsolidasi dan Prospek Penegakan Hukum Pasca Konflik Kelembagaan di Universitas Surabaya (26/3), Sudiman mengatakan tidak salah jika publik melihat kasus Asiyani sebagai hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Mereka bertanya-tanya mengapa penangkapan hanya dilakukan pada mereka masyarakat miskin?

“Sebenarnya alasan hukum dari tindak penangkapan adalah adanya kekhawatiran tersangka melarikan diri atau menghilangkan barang bukti. Pada orang-orang kaya kekhawatiran itu jarang terjadi, karena bisnis mereka diketahui publik. Mau lari ya asetnya bisa disita. Tapi pada orang miskin, mereka kan tidak punya apa-apa, jadi penegak hukum khawatir mereka melarikan diri,” jelas Sudiman.

Karena itulah penegak hukum perlu memiliki kepekaan hati nurani. Jika tidak demikian, masyarakat akan semakin kehilangan rasa kepercayaan pada hukum. Mereka telah lama melihat para penegak hukum di berbagai tingkat justru melakukan pelanggaran hukum. 

“Fenomena ini memperlihatkan bahwa prinsip Ing Ngarso Sung Tulodho sudah dalam kondisi kritis,” pungkasnya.

 

back to top