Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Di persidangan, punya kenalan lebih penting daripada bukti dan saksi

Di persidangan, punya kenalan lebih penting daripada bukti dan saksi
Surabaya – KoPi | Advokat Sudiman Sidabukke menyatakan seharusnya di depan hukum semua orang memiliki kedudukan yang sama. Namun, karena seseorang punya jaringan dan kenalan, ia bisa menjadi istimewa di sebuah persidangan. Hal itulah yang terjadi pada kasus nenek Asiyani.
 

Berbicara dalam Seminar Nasional Konsolidasi dan Prospek Penegakan Hukum Pasca Konflik Kelembagaan di Universitas Surabaya (26/3), Sudiman mengatakan tidak salah jika publik melihat kasus Asiyani sebagai hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Mereka bertanya-tanya mengapa penangkapan hanya dilakukan pada mereka masyarakat miskin?

“Sebenarnya alasan hukum dari tindak penangkapan adalah adanya kekhawatiran tersangka melarikan diri atau menghilangkan barang bukti. Pada orang-orang kaya kekhawatiran itu jarang terjadi, karena bisnis mereka diketahui publik. Mau lari ya asetnya bisa disita. Tapi pada orang miskin, mereka kan tidak punya apa-apa, jadi penegak hukum khawatir mereka melarikan diri,” jelas Sudiman.

Karena itulah penegak hukum perlu memiliki kepekaan hati nurani. Jika tidak demikian, masyarakat akan semakin kehilangan rasa kepercayaan pada hukum. Mereka telah lama melihat para penegak hukum di berbagai tingkat justru melakukan pelanggaran hukum. 

“Fenomena ini memperlihatkan bahwa prinsip Ing Ngarso Sung Tulodho sudah dalam kondisi kritis,” pungkasnya.

 

back to top