Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Di persidangan, punya kenalan lebih penting daripada bukti dan saksi

Di persidangan, punya kenalan lebih penting daripada bukti dan saksi
Surabaya – KoPi | Advokat Sudiman Sidabukke menyatakan seharusnya di depan hukum semua orang memiliki kedudukan yang sama. Namun, karena seseorang punya jaringan dan kenalan, ia bisa menjadi istimewa di sebuah persidangan. Hal itulah yang terjadi pada kasus nenek Asiyani.
 

Berbicara dalam Seminar Nasional Konsolidasi dan Prospek Penegakan Hukum Pasca Konflik Kelembagaan di Universitas Surabaya (26/3), Sudiman mengatakan tidak salah jika publik melihat kasus Asiyani sebagai hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Mereka bertanya-tanya mengapa penangkapan hanya dilakukan pada mereka masyarakat miskin?

“Sebenarnya alasan hukum dari tindak penangkapan adalah adanya kekhawatiran tersangka melarikan diri atau menghilangkan barang bukti. Pada orang-orang kaya kekhawatiran itu jarang terjadi, karena bisnis mereka diketahui publik. Mau lari ya asetnya bisa disita. Tapi pada orang miskin, mereka kan tidak punya apa-apa, jadi penegak hukum khawatir mereka melarikan diri,” jelas Sudiman.

Karena itulah penegak hukum perlu memiliki kepekaan hati nurani. Jika tidak demikian, masyarakat akan semakin kehilangan rasa kepercayaan pada hukum. Mereka telah lama melihat para penegak hukum di berbagai tingkat justru melakukan pelanggaran hukum. 

“Fenomena ini memperlihatkan bahwa prinsip Ing Ngarso Sung Tulodho sudah dalam kondisi kritis,” pungkasnya.

 

back to top