Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

5 mitos tak benar tentang nuklir

inhabitat.com inhabitat.com

KoPi- Perusahaan Listrik Negara (PLN) saat ini sering dikomplain masyarakat. Alasannya, tentu karena banyak pengguna sering merasa dirugikan karena listrik sering byar-pet alias sering padam

Byar-petnya listrik ini tentu sangat merugikan masyarakat, terutama di sektor indusrti. Menurut Pengamat kelistrikan Institute for Essential Services Reform (IESR) Faby Tumiwa, beberapa wilayah sering terjadi pemadaman listrik, masalahnya karena pasokan listrik yang terbatas (DetikFinance, 13/5/2013). (Baca: Tahun 2100, penggunaan energi dari fosil dihentikan di seluruh dunia )

Sehubungan dengan itu, Ery Wijaya, pakar nuklir alumni doktoral Kyoto University Jepang dalam kutipan opininya di media ini (baca: Perlukan Indonesia Membangun PLTN? )menyebutkan: "Dalam proyeksi kebutuhan listrik nasional yang tertuang dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2008-2027, pemerintah memperkirakan kebutuhan listrik nasional pada tahun 2027 sebesar 813 TWh, di mana hampir 85% dari total konsumsi listrik tersebut merupakan kebutuhan di wilayah JaMaLi dan target rasio elektrifikasi nasional sebsar 93%. Perkiraan pemerintah ini didasarkan asumsi bahwa pertumbuhan penduduk nasional sebesar 1.3% per tahun dan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar 6,1% per tahun."

Berdasarkan fakta dan data tersebut, sudah sewajarnya pemerintah memulai menimbang program Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Energi nuklir memberikan kemungkinan mencakup semua kebutuhan energi listrik masyarakat Indonesia dengan biaya yang jauh lebih murah dan aman.

Sementara ini banyak masyarakat takut akan mitos yang dikembangkan oleh kelompok-kelompok tertentu, bahwa PLTN berbahaya, mahal dan sebagainya. Di masa lalu, Greenpeace sebuah organisasi lingkungan hidup menentang penggunaan energy nuklir. Namun, saat ini, bahkan Patrick Moore, pendiri Greenpeace justru membongkar mitos-mitos menakutkan seputar nuklir. Berikut adalah 5 mitos nuklir yang tidak benar. Semoga bermanfaat.

Mitos 1: Energi nuklir itu mahal

Fakta: Energi nuklir adalah satu di antara sumber energi yang tidak mahal. Pada tahun 2004, rata-rata ongkos produksi listrik di Amerika Serikat adalah kurang dari dua sen per kilowatt-jam, setingkat dengan ongkos batubara dan listrik hidro. Kemajuan dalam teknologi akan menurunkan lagi ongkos itu di masa mendatang.

Mitos 2: PLTN itu tidak aman

Fakta: Kecelakaan Three Mile Island itu suatu kisah sukses dari suatu sistem keamanan dan keselamatan yang handal, namun kecelakaan di Chernobyl itu tidak dapat dikatakan demikian. Kecelakaan Chernobyl itu hanya menungu akan terjadi. Model awal dari reaktor Uni Soviet tidak menggunakan bejana kontenmen (sungkup,containment vessel). Dalam hal desain dikatakan sebagai keamanan tidak melekat, sedang  operatornya kemudian meledakannya.

Forum multi-lembaga PBB untuk Chernobyl tahun lalu melaporkan bahwa ada 56 kematian akibat kecelekaan itu. Sebagian besar korban adalah akibat radaiasi atau luka-bakar sewaktu memadamkan api. Memang tragis sekali korban kematian itu, namun angka itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kecelakaan ditambang batubara sebanyak 5.000 jiwa seluruh dunia setiap tahun. Atau jika dibandingkan dengan 1,2 juta jiwa yang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan mobil. Dalam sejarah program nuklir sipil, tidak seorangpun meninggal di Amerika Serikat. (Disayangkan, bahwa ratusan pekerja tambang uranium meninggal pada tahun-tahun awal industri ini. Hal itu telah sejak lama diperbaiki).

Mitos 3: Sampah nuklir itu akan berbahaya selama ribuan tahun

Fakta: Dalam 40 tahun, bahan bakar yang telah digunakan hanya akan memancarkan seperseribu radioaktivitas dibandingkan pada waktu bahan bakar itu dikeuarkan dari reaktor. Sesunguhnya sangatlah tidak benar jika dikatakan sebagai sampah (atau limbah), karena 95% potensi energinya masih tersimpan di dalam bahan bakar bekas pada siklus pertama.

Sekarang Amerika telah  mencabut larangan daur-ulang bahan bakar nuklir bekas, dengan demikian akan dimugkinkan pemanfaatan energi itu serta akan banyak mengurangi jumlah sampah yang harus diolah atau disimpan. Bulan lalu, Jepang telah bergabung dengan Perancis, Ingris dan Rusia dalam kegiatan daur-ulang bahan bakar nuklir ini.

Mitos 4: Reaktor nuklir itu rawan terhadap serangan teroris

Fakta: Beton bertulang yang tebalnya satu-setengah meter  melindungi isi bangunan kontenmen dari luar maupun dalam. Bahkan jika sebuah jumbo jet menabrak  reaktor untuk merusak kontenmen,  reaktor tidak akan meledak.  Ada banyak jenis fasilitas yang lebih rawan termasuk pabrik pencairan gas alam, pabrik kimia dan sejumah sasaran politik.

Mitos 5: Bahan-bakar nuklir itu dapat dialihkan untuk membuat senjata nuklir

Fakta: Senjata nuklir sudah tidak lagi harus tak-terpisahkan dengan PLTN. Teknologi centrifuge (teknologi pengkayaan uranium-235) kini memungkinkan suatu negara memperkaya uranium tanpa harus membangun reaktor nuklir. Iran misalnya, negara ini telah memiliki kemampuan membuat bom nuklir.

Ancaman senjata nuklir Iran sama sekali dapat dibedakan dari pembangkit energi nuklir untuk maksud damai. Selama 20 tahun, “perang” adalah alat sederhana untuk membunuh jutaan manusia di Afrika, jauh lebih banyak daripada korban meninggal Hiroshima dan Nagasaki (digabungkan). Tetapi tidak seorangpun mengusulkan untuk melarang perang. Satu-satunya pendekatan pada isu penyebaran senjata nuklir adalah menempatkan isu itu pada agenda Internasional yang lebih tinggi dan menggunakan diplomasi dan bila perlu kekuatan, untuk menghalangi pemerintahan atau teroris dari pemakaian bahan nuklir untuk tujun perusakan. Teknologi baru, seperti misalnya sistem proses-ulang yang akhir-akhir ini diperkenalkan di Jepang (yang tanpa pemisahan plutonium dari uranium) akan membuat pembuatan senjata nuklir dengan menggunakan bahan nuklir keperluan sipil, menjadi lebih sulit. | sumber: Greenpeace | Linatul Malihah

back to top