Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Wah, jelang AFTA Jepang semakin semangat perluaskan pasar di Indonesia Featured

Wah, jelang AFTA Jepang semakin semangat perluaskan pasar di Indonesia
Surabaya - KoPi | Jepang telah lama menjadi partner Indonesia, baik dalam hal kebudayaan maupun ekonomi. Romantisme hubungan tersebut terjalin lama hingga saat ini. Bagi Jepang, Indonesia selalu menjadi konsumen yang baik untuk produk-produk mereka. Mendekati berlakunya AFTA, Indonesia menjadi salah satu pasar yang menjanjikan bagi Jepang.
 

Hal tersebut diungkapkan Konsulat Jenderal Jepang untuk Surabaya Kato Yoshiharu dalam kuliah umum "Tantangan Mahasiswa di Era AFTAdalam Bingkai Hubungan Indonesia-Jepang" di Universitas 17 Agustus Surabaya. Ia mengatakan, saat ini Jepang sedang berusaha meningkatkan kunjungan warga Jepang ke Indonesia. Saat ini jumlah warga Jepang di Indonesia hanya 16.296, dan hanya 743 orang yang ada di Jawa Timur.

"Kunjungan orang Jepang ke Indonesia turun sejak jatuhnya Presiden Soeharto. Banyak yang masih takut pergi ke Indonesia. Justru jumlah orang Korea di Indonesia lebih banyak, sampai 3 kali lipat," tutur Kato dalam Bahasa Indonesia yang fasih.

Kato mengatakan, pertumbuhan ekonomi China telah menggeser posisi Jepang sebagai partner dagang Indonesia nomor 1. Saat ini ekspor dan impor Indonesia lebih banyak dengan China. Tahun 2014 lalu, ekspor Indonesia dan Jepang telah menurun ke posisi 2, hanya 11%. Sedangkan ekspor Indonesia ke China yang mencapai 14%. Hal itu juga berlaku pada angka impor. Pada tahun 2014 impor Indonesia dari Jepang hanya 14%, namun impor dari China mencapai 21%.

"Namun bagi Jepang, Indonesia masih menjadi pasar yang menjanjikan," ungkapnya. Turunnya angka impor tersebut tidak membuat mereka jera. Sebaliknya, mereka bersemangat ingin kembali menjadi penjual nomor 1 untuk Indonesia.

Apalagi, Jepang masih membutuhkan produk-produk mentah asal Indonesia, seperti minyak, LNG, udang, karet, dan sebagainya. Sebagai gantinya, Jepang mendatangkan kembali barang-barang tersebut dalam bentuk barang jadi yang lebih mahal, seperti mesin-mesin umum, produk elektronik, produk transportasi, dan lain-lain.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia sendiri?

back to top