Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Usai Idul Adha, harga komoditas tak kunjung turun

Usai Idul Adha, harga komoditas tak kunjung turun
Surabaya-KoPi| Meski perayaan Idul Adha telah berlalu, harga-harga kebutuhan pokok masih tetap tinggi. Seminggu setelah Idul Adha, beberapa komoditas masih belum kembali normal. Masyarakat semakin terhimpit di tengah lesunya perekonomian nasional.
 

Harga daging ayam misalnya. Meskipun sempat turun, harga daging ayam di Surabaya kembali naik menjelang hari raya Idul Adha. Pada awal September, harga daging ayam mencapai angka Rp 33.000 per kg. Lalu pada pertengahan bulan mulai turun menjadi Rp 26.000 per kg. Namun, menjelang hari raya Idul Adha, harga daging ayam mulai kembali naik, hingga mencapai Rp 28.000 per kg.

Kenaikan harga daging ayam setelah Idul Adha membuat pemilik warung makan mengeluh. Pasalnya, mereka harus pintar-pintar membelanjakan modal mereka agar masih mendapat keuntungan. 

Seperti yang dialami Bu Rejo, pemilik warung makan di kawasan Universitas Airlangga Surabaya. Ia menuturkan, hampir seminggu setelah Idul Adha, harga-harga masih tetap tinggi. Akibatnya, ia mengurangi jumlah sajian yang dimasaknya, terutama sambal. 

"Ayam goreng sekarang saya kurangi, daging ayam masih mahal. Padahal ayam goreng paling cepat laku, makanya pelanggan saya banyak yang sering kehabisan," tuturnya. 

Selain daging ayam, komoditas lain yang sedang mahal adalah ikan laut dan cabe. Ia heran dengan kenaikan harga ikan laut, karena Surabaya merupakan sentra penghasil ikan laut. "Udang juga termasuk lauk saya yang paling laku, tapi ini juga saya kurangi karena sedang mahal," ungkap Bu Rejo lagi.

"Belum lagi harga cabe sedang mahal, makanya saya tidak nyambal sebanyak biasanya. Memang sekarang masih di bawah Rp 50.000, tapi tetap tak bisa dibeli dengan uang kembalian," tambahnya.

Menurutnya, masih tingginya harga setelah Idul Adha disebabkan banyak pedagang yang masih belum berjualan atau mulai berjualan hari ini. 

 

back to top