Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Bedah Buku Tan Malaka di UGM berjalan Aman

Bedah Buku Tan Malaka di UGM berjalan Aman

Jogja-KoPi, Bedah Buku “Tan Malaka: Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia” oleh Harry A. Poeze berjalan aman dan lancar di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Selasa sore (18/2/2014)

Acara yang sempat mendapat kecaman di berbagai provinsi nusantara ini akhirnya berlangsung dengan tertib dan lancar di Fakultas Hukum UGM Yogyakarta dan dihadiri puluhan mahasiswa, meskipun sempat mengalami kemoloran selama 1,5 jam yang disebabkan keterlambatan perjalanan Harry A Poeze dari Salatiga menuju Yogyakarta. Untuk mengisi kemoloran tersebut Eko Prasetyo turut menjadi pembicara dadakan.

Menanggapi berbagai penolakan yang dialaminya di Indonesia, Harry berujar,Tan Malaka sendiri sudah keluar dari PKI di tahun 1927. Kalau ada yang berpikiran acara seperti ini untuk menghidupkan ajaran komunis, itu salah.

"Saya sendiri bukan komunis, saya adalah peneliti Tan Malaka ," tegasnya dalam diskusi.

Menanggapi kasus kecaman yang sempat terjadi di kota lain dalam bedah buku ini Yuris Reza,Ketua Dewan Mahasiswa berkomentatar.

”Bedah buku ini di adakan hanya untuk wadah pembelajaran, seperti pada diskusi tadi saya sampaikan bahwa sama halnya dengan belajar sejarah, harapannya dengan salah satu buku yang berisi dengan salah satu tokoh Indonesia Tan Malaka ini kita bedah, maka kita bias tau sejarah, gagasan-gagasan dan ide dia yang bagus bisa kita terapkan di masa yang sekarang. Jadi kalau kemarin-kemarin ada penolakan, saya pikir, saya memilih tempat di kampus karena memang ini sebagai ruang diskusi, dan saya harapkan kita akan berdiskusi secara akademis, bukan secara yang lain.”

Berbea denga reaksi berelbihan di Surabaya dan Semarang, acara bedah buku di Jogja ini tidak mendapatkan kecaman dari pihak manapun.


Reportera;  Hari N.

back to top