Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Telo, Sudah jadi Pilihan Hidup

Telo, Sudah jadi Pilihan Hidup

Yogyakarta-KoPi, Sekitar pukul 08.30 Jumat pagi 4 Juli 2014 jalanan di Karangkajen, Yogyakarta sepi dari lalu lalang kendaraan. Hal sama juga terjadi di kawasan Pasar Telo yang merupakan icon daerah Karangkajen.

Kawasan Pasar Telo yang terletak di Jalan Imogiri Barat no. 18 Karangkajen, Yogyakarta buka setiap hari dari pukul 06.00- 21.00 Wib. Pada bulan Ramadhan ini tidak mengubah suasana Pasar Telo yang cenderung sepi. Terlihat hanya satu dua orang menyambangi deretan kios/ warung telo. Mereka berniat membeli telo langsung kepada para penjualnya.

Hingga senja hari pukul 16.00 Minggu sore 6 Juli 2014 suasana sedikit ramai beberapa mobil pick up mengangkut telo yang diambil dari salah satu kios.

Salah seorang pemilik warung, Mardiyono mengakui berjualan telo atau ketela tidak memberikan nilsi ekonomis yang tinggi. Peminat dan pembeli tela tidak seperti jualan komoditas lain yang cenderung stabil bahkan meningkat di bulan Ramadhan.

Di dalam satu petak warung lapuk ukuran 3x 6 meter ini, dia didampingi suaminya Sudi menjajakan dagangannya.

“Satu kilo singkong Rp 2000,  Pendhem Rp 3000, Tiwul Rp 2000, paling mahal Rp 3000, dari situ untungnya lumayan per hari rata-rata Rp 75000 paling banyak Rp 100.000. Kalau beli borongan sekitar 3-5 Kuintal, paling sedikit satu Kuintal”, kata Mardiyono.

Di usianya yang telah menginjak 70 tahun wanita asal Bangunjiwo, Kasihan, Bantul ini setiap harinya naik sepeda motor ke Pasar Telo. Hal itu sudah ditekuni 40 tahun lamanya. Dia dan suaminya, Sudi adalah salah satu penjual dari delapan penjual lainnya yang menyandarkan hidup pada telo.

Reporter : Winda Efanur FS

 

 

 

back to top