Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Telo, Sudah jadi Pilihan Hidup

Telo, Sudah jadi Pilihan Hidup

Yogyakarta-KoPi, Sekitar pukul 08.30 Jumat pagi 4 Juli 2014 jalanan di Karangkajen, Yogyakarta sepi dari lalu lalang kendaraan. Hal sama juga terjadi di kawasan Pasar Telo yang merupakan icon daerah Karangkajen.

Kawasan Pasar Telo yang terletak di Jalan Imogiri Barat no. 18 Karangkajen, Yogyakarta buka setiap hari dari pukul 06.00- 21.00 Wib. Pada bulan Ramadhan ini tidak mengubah suasana Pasar Telo yang cenderung sepi. Terlihat hanya satu dua orang menyambangi deretan kios/ warung telo. Mereka berniat membeli telo langsung kepada para penjualnya.

Hingga senja hari pukul 16.00 Minggu sore 6 Juli 2014 suasana sedikit ramai beberapa mobil pick up mengangkut telo yang diambil dari salah satu kios.

Salah seorang pemilik warung, Mardiyono mengakui berjualan telo atau ketela tidak memberikan nilsi ekonomis yang tinggi. Peminat dan pembeli tela tidak seperti jualan komoditas lain yang cenderung stabil bahkan meningkat di bulan Ramadhan.

Di dalam satu petak warung lapuk ukuran 3x 6 meter ini, dia didampingi suaminya Sudi menjajakan dagangannya.

“Satu kilo singkong Rp 2000,  Pendhem Rp 3000, Tiwul Rp 2000, paling mahal Rp 3000, dari situ untungnya lumayan per hari rata-rata Rp 75000 paling banyak Rp 100.000. Kalau beli borongan sekitar 3-5 Kuintal, paling sedikit satu Kuintal”, kata Mardiyono.

Di usianya yang telah menginjak 70 tahun wanita asal Bangunjiwo, Kasihan, Bantul ini setiap harinya naik sepeda motor ke Pasar Telo. Hal itu sudah ditekuni 40 tahun lamanya. Dia dan suaminya, Sudi adalah salah satu penjual dari delapan penjual lainnya yang menyandarkan hidup pada telo.

Reporter : Winda Efanur FS

 

 

 

back to top