Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Telo, Sudah jadi Pilihan Hidup

Telo, Sudah jadi Pilihan Hidup

Yogyakarta-KoPi, Sekitar pukul 08.30 Jumat pagi 4 Juli 2014 jalanan di Karangkajen, Yogyakarta sepi dari lalu lalang kendaraan. Hal sama juga terjadi di kawasan Pasar Telo yang merupakan icon daerah Karangkajen.

Kawasan Pasar Telo yang terletak di Jalan Imogiri Barat no. 18 Karangkajen, Yogyakarta buka setiap hari dari pukul 06.00- 21.00 Wib. Pada bulan Ramadhan ini tidak mengubah suasana Pasar Telo yang cenderung sepi. Terlihat hanya satu dua orang menyambangi deretan kios/ warung telo. Mereka berniat membeli telo langsung kepada para penjualnya.

Hingga senja hari pukul 16.00 Minggu sore 6 Juli 2014 suasana sedikit ramai beberapa mobil pick up mengangkut telo yang diambil dari salah satu kios.

Salah seorang pemilik warung, Mardiyono mengakui berjualan telo atau ketela tidak memberikan nilsi ekonomis yang tinggi. Peminat dan pembeli tela tidak seperti jualan komoditas lain yang cenderung stabil bahkan meningkat di bulan Ramadhan.

Di dalam satu petak warung lapuk ukuran 3x 6 meter ini, dia didampingi suaminya Sudi menjajakan dagangannya.

“Satu kilo singkong Rp 2000,  Pendhem Rp 3000, Tiwul Rp 2000, paling mahal Rp 3000, dari situ untungnya lumayan per hari rata-rata Rp 75000 paling banyak Rp 100.000. Kalau beli borongan sekitar 3-5 Kuintal, paling sedikit satu Kuintal”, kata Mardiyono.

Di usianya yang telah menginjak 70 tahun wanita asal Bangunjiwo, Kasihan, Bantul ini setiap harinya naik sepeda motor ke Pasar Telo. Hal itu sudah ditekuni 40 tahun lamanya. Dia dan suaminya, Sudi adalah salah satu penjual dari delapan penjual lainnya yang menyandarkan hidup pada telo.

Reporter : Winda Efanur FS

 

 

 

back to top