Menu
Jatim Best Practice Perdagangan Antar Daerah

Jatim Best Practice Perdagangan Ant…

Bandung-KoPi| Perdagang...

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersinergi Susun RKPD

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersiner…

Surabaya-KoPi| Forum Li...

Banjir Sungai Welang,  Pemerintah Lakukan Pendataan dan Beri Penanganan Darurat

Banjir Sungai Welang, Pemerintah L…

(Fotomilik: Jatim TIMES) ...

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Harkat dan Martabat Manusia

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Har…

Bantul-KoPi| Globalisas...

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Prev Next

Telo, Sudah jadi Pilihan Hidup

Telo, Sudah jadi Pilihan Hidup

Yogyakarta-KoPi, Sekitar pukul 08.30 Jumat pagi 4 Juli 2014 jalanan di Karangkajen, Yogyakarta sepi dari lalu lalang kendaraan. Hal sama juga terjadi di kawasan Pasar Telo yang merupakan icon daerah Karangkajen.

Kawasan Pasar Telo yang terletak di Jalan Imogiri Barat no. 18 Karangkajen, Yogyakarta buka setiap hari dari pukul 06.00- 21.00 Wib. Pada bulan Ramadhan ini tidak mengubah suasana Pasar Telo yang cenderung sepi. Terlihat hanya satu dua orang menyambangi deretan kios/ warung telo. Mereka berniat membeli telo langsung kepada para penjualnya.

Hingga senja hari pukul 16.00 Minggu sore 6 Juli 2014 suasana sedikit ramai beberapa mobil pick up mengangkut telo yang diambil dari salah satu kios.

Salah seorang pemilik warung, Mardiyono mengakui berjualan telo atau ketela tidak memberikan nilsi ekonomis yang tinggi. Peminat dan pembeli tela tidak seperti jualan komoditas lain yang cenderung stabil bahkan meningkat di bulan Ramadhan.

Di dalam satu petak warung lapuk ukuran 3x 6 meter ini, dia didampingi suaminya Sudi menjajakan dagangannya.

“Satu kilo singkong Rp 2000,  Pendhem Rp 3000, Tiwul Rp 2000, paling mahal Rp 3000, dari situ untungnya lumayan per hari rata-rata Rp 75000 paling banyak Rp 100.000. Kalau beli borongan sekitar 3-5 Kuintal, paling sedikit satu Kuintal”, kata Mardiyono.

Di usianya yang telah menginjak 70 tahun wanita asal Bangunjiwo, Kasihan, Bantul ini setiap harinya naik sepeda motor ke Pasar Telo. Hal itu sudah ditekuni 40 tahun lamanya. Dia dan suaminya, Sudi adalah salah satu penjual dari delapan penjual lainnya yang menyandarkan hidup pada telo.

Reporter : Winda Efanur FS

 

 

 

back to top