Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Tantangan pertanian Indonesia menyongsong AEC 2015

Tantangan pertanian Indonesia menyongsong AEC 2015

Yogya – KoPi- Menghadapi Asean Economic Community (AEC) 2015, Indonesia sudah mempersiapkan formulasi khusus dalam bidang pangan untuk mampu bersaing secara global di tingkat Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Peningkatan ini tidak serta merta terjadi secara otomatis, jika tidak diawali dengan kualitas pertanian Indonesia.

“Inilah yang menjadi tantangan pertanian Indonesia menghadapi AEC 2015,” kata Dr Ir Gradjita Budi, M.Arg.St, hari ini.

Disampaikan Dirjen Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Pertanian-Kementerian Pertanian yang didampingi Direktur Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gajah Mada (UGM) Prof. Dr. Ir. Masyhuri dan Wakil Retor I UMY Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, MP, sektor pertanian merupakan tantangan Indonesia menyongsong AEC 2015. “Karena antarnegara ASEAN cross border semakin tipis, selain itu untuk kekhususan di sektor pertanian juga memiliki tantangan yang luar biasa,” kata Gradjita Budi.

Menurutnya, kualitas produk pertanian Indonesia harus mampu sesuai dengan standar-standar dengan negara ASEAN yang lain. Nanti di saat AEC yang menjadi saingan bukan lagi tarif, akan tetapi adalah kualitas hasil pertanian. “Ini merupakan sebuah tantangan yang luar biasa bagi kita karena kualitas produk pertanian Indonesia masih di bawah kualitas negara lain di ASEAN sehingga kualitas produk pertanian Indonesia harus mampu meningkat sesuai dengan standar-standar dengan negara yang tergabung di ASEAN,” ujar doktor lulusan Australia ini.

Berdasarkan data yang diperoleh Prof Dr Ir Masyhuri, terhitung dari tahun 2011 hingga 2013, Indonesia mengalami ketidakseimbangan ekspor dan impor pangan. Angka impor pangan secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor pangan kepada negara-negara ASEAN. Maka dari hal itu Masyhuri mengungkapkan bahwa Indonesia harus hati-hati menghadapi AEC 2015 ini. Akan tetapi dirinya juga berpendapat bahwa tidak menutup kemungkinan Indonesia akan menjadi pemenang dalam hal peningkatan ekspor dan impor, peningkatan perdagangan, dan juga peningkatan surplus perdangan yang berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi.

Wakil Rektor I UMY Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, MP menambahkan, permasalahan pangan masyarakat Indonesia hingga saat ini belum mendapatkan porsi yang cukup dari tugas pemerintah. Sehingga jika tidak ingin menjadi penonton di AEC 2015, pemerintah harus mampu memberikan porsi yang lebih besar lagi terkait dengan permasalah pangan.

“Masalah pangan kita saat ini adalah karena masyarakat kita saat ini belum mendapatkan porsi yang cukup dari tugas pemerintah terkait dengan pangan, kalau tidak mau jadi penonton nanti, ya pemerintah harus memberikan porsi yang lebih besar lagi untuk masalah pangan kita,” kata Gunawan Budiyanto.

Reporter: Affan Safani Adham

 

 

back to top