Menu
Jatim Best Practice Perdagangan Antar Daerah

Jatim Best Practice Perdagangan Ant…

Bandung-KoPi| Perdagang...

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersinergi Susun RKPD

Sekdaprov Minta FLPD Harus Bersiner…

Surabaya-KoPi| Forum Li...

Banjir Sungai Welang,  Pemerintah Lakukan Pendataan dan Beri Penanganan Darurat

Banjir Sungai Welang, Pemerintah L…

(Fotomilik: Jatim TIMES) ...

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Harkat dan Martabat Manusia

Teknologi Harus Bisa Tingkatkan Har…

Bantul-KoPi| Globalisas...

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Prev Next

Seminar Nasional MEA di Unesa: Menyambut dengan kritis

Seminar Nasional MEA di Unesa: Menyambut dengan kritis
Surabaya-KoPi| Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Surabaya mengadakan seminar nasional bertajuk “Pendidikan Nasional dalam Menghadapi Tantangan MEA”, Sabtu pagi (30/5). Acara dihadiri oleh mantan Mendiknas, Moh. Nuh, sebagai pemberi kata pengantar ahli. “Cinta sekaligus bangga terhadap Indonesia merupakan modal utama dalam menghadapi MEA” begitu poin penting yang disampaikan Moh. Nuh.   
 
Empat narasumber hadir dalam acara tersebut, Prof. Suyanto, PhD (Universitas Negeri Yogyakarta), Prof. Anita Lie (Unika Widya Mandala, Surabaya), Gatot Sunarso (Dinas Pendidikan Provinsi Jatim), dan Prof. Warsono (Rektor Unesa). Masing-masing narasumber itu menyajikan berbagai perspektif menarik dari sisi kepakarannya dalam menghadapi MEA. 
 
Menurut Anita Lie, kedatangan MEA tidak bisa dicegah. Salah satu hal yang perlu disiapkan adalah modal intelektual Indonesia melalui upaya peningkatan mutu pendidikan dari hulu ke hilir. Dalam beberapa kali eksperimentasi perubahan kurikulum, tampak kegagapan pemerintah dan para pengelola pendidikan dasar dan menengah. 
 
“Rasio guru-siswa di Indonesia memang tergolong bagus, namun kapasistas guru Indonesia masih diragukan, terutama dalam hal pengelolaan proses belajar mengajar yang mengarahkan siswa pada tingkat berpikir tinggi. Sementara, persaingan global dan Internasionalisasi pendidikan adalah kondisi yang tidak bisa dihindari bersama dengan kesepatakan yang sudah ditanda-tangani oleh pemerintah Indonesia” kata Anita Lie. 
 
Bagi Suyanto, pendidikan nasional di abad 21 ini memerlukan peran guru profesional yang peka terhadap kompetisi global. Salah satu hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah kontinuitas kurikulum di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Selama ini, kurikulum pendidikan mengalami inkonsistensi implementasi. Karena, sering berganti-gantinya regulasi kementrian akibat revisi yang berulang-ulang. Sehingga, para guru di lapangan kerap mengalami kebingungan. 
 
“Di Inggris, sebagai deskripsi perbandingan, pemerintahnya selalu memberikan arahan yang terstruktur mengenai perubahan kurikulum. Proses penyusunan kurikulum baru selama dua tahun harus melalui uji publik berulang dan menyeluruh. Sementara, di Indonesia tidak ada kajian serius terhadap penerapan kurikulum 2006 dan urgensi perpindahan pada kurikulum 2013”, tegas Suyanto. 
 
Guru profesional sebagaimana diamanahkan oleh Undang-Undang Sisdiknas akan membuat pendidikan nasional kita mampu bersaing dengan bangsa lain dalam MEA. Tetapi, tidak sedikit hasil evaluasi penilaian uji kompetensi guru (UKG) di Jatim yang menunjukkan sebaliknya. Begitulah ide pokok pemaparan Gatot Sunarso. 
 
“Tidak sedikit hasil evaluasi UKG yang rata-ratanya di bawah standar. Padahal, Jatim sering disebut sebagai salah satu provinsi yang memiliki tingkat profesionalitas guru yang baik. Terkadang, ada juga guru yang ‘ngeyel’ bahwa rendahnya UKG itu dikarenakan minimnya sarana dan prasarana. Padahal, terkadang ini hanya sebagai alasan guru saja”, tutur Gatot.
 
Sementara itu, dalam pandangan Warsono justru kualitas pendidikan di era MEA tak cukup dengan bersandar pada kurikulum saja. Kemampuan menguasai teknologi, memahami bahasa dan budaya masyarakat global juga tidak kalah pentingnya. Tetapi, hal ini harus diikuti kesadaran kritis dari para aktor pendidikan. 
 
“Peran perguruan tinggi juga sangat penting dalam menyambut kehadiran MEA. Karena itu, tugas perguruan tinggi harus mampu memberikan kesadaran kritis bagi calon pendidik, mahasiswa, dan masyarakatnya. Sebab, kesadaran kritis akan melatih cara pikir mereka dalam menemukan jalan keluar atas berbagai persoalan yang nantinya dihadapi saat kedatangan MEA”, ujar Warsono.| ARA 
     
 
 
back to top