Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Seminar Nasional MEA di Unesa: Menyambut dengan kritis

Seminar Nasional MEA di Unesa: Menyambut dengan kritis
Surabaya-KoPi| Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Surabaya mengadakan seminar nasional bertajuk “Pendidikan Nasional dalam Menghadapi Tantangan MEA”, Sabtu pagi (30/5). Acara dihadiri oleh mantan Mendiknas, Moh. Nuh, sebagai pemberi kata pengantar ahli. “Cinta sekaligus bangga terhadap Indonesia merupakan modal utama dalam menghadapi MEA” begitu poin penting yang disampaikan Moh. Nuh.   
 
Empat narasumber hadir dalam acara tersebut, Prof. Suyanto, PhD (Universitas Negeri Yogyakarta), Prof. Anita Lie (Unika Widya Mandala, Surabaya), Gatot Sunarso (Dinas Pendidikan Provinsi Jatim), dan Prof. Warsono (Rektor Unesa). Masing-masing narasumber itu menyajikan berbagai perspektif menarik dari sisi kepakarannya dalam menghadapi MEA. 
 
Menurut Anita Lie, kedatangan MEA tidak bisa dicegah. Salah satu hal yang perlu disiapkan adalah modal intelektual Indonesia melalui upaya peningkatan mutu pendidikan dari hulu ke hilir. Dalam beberapa kali eksperimentasi perubahan kurikulum, tampak kegagapan pemerintah dan para pengelola pendidikan dasar dan menengah. 
 
“Rasio guru-siswa di Indonesia memang tergolong bagus, namun kapasistas guru Indonesia masih diragukan, terutama dalam hal pengelolaan proses belajar mengajar yang mengarahkan siswa pada tingkat berpikir tinggi. Sementara, persaingan global dan Internasionalisasi pendidikan adalah kondisi yang tidak bisa dihindari bersama dengan kesepatakan yang sudah ditanda-tangani oleh pemerintah Indonesia” kata Anita Lie. 
 
Bagi Suyanto, pendidikan nasional di abad 21 ini memerlukan peran guru profesional yang peka terhadap kompetisi global. Salah satu hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah kontinuitas kurikulum di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Selama ini, kurikulum pendidikan mengalami inkonsistensi implementasi. Karena, sering berganti-gantinya regulasi kementrian akibat revisi yang berulang-ulang. Sehingga, para guru di lapangan kerap mengalami kebingungan. 
 
“Di Inggris, sebagai deskripsi perbandingan, pemerintahnya selalu memberikan arahan yang terstruktur mengenai perubahan kurikulum. Proses penyusunan kurikulum baru selama dua tahun harus melalui uji publik berulang dan menyeluruh. Sementara, di Indonesia tidak ada kajian serius terhadap penerapan kurikulum 2006 dan urgensi perpindahan pada kurikulum 2013”, tegas Suyanto. 
 
Guru profesional sebagaimana diamanahkan oleh Undang-Undang Sisdiknas akan membuat pendidikan nasional kita mampu bersaing dengan bangsa lain dalam MEA. Tetapi, tidak sedikit hasil evaluasi penilaian uji kompetensi guru (UKG) di Jatim yang menunjukkan sebaliknya. Begitulah ide pokok pemaparan Gatot Sunarso. 
 
“Tidak sedikit hasil evaluasi UKG yang rata-ratanya di bawah standar. Padahal, Jatim sering disebut sebagai salah satu provinsi yang memiliki tingkat profesionalitas guru yang baik. Terkadang, ada juga guru yang ‘ngeyel’ bahwa rendahnya UKG itu dikarenakan minimnya sarana dan prasarana. Padahal, terkadang ini hanya sebagai alasan guru saja”, tutur Gatot.
 
Sementara itu, dalam pandangan Warsono justru kualitas pendidikan di era MEA tak cukup dengan bersandar pada kurikulum saja. Kemampuan menguasai teknologi, memahami bahasa dan budaya masyarakat global juga tidak kalah pentingnya. Tetapi, hal ini harus diikuti kesadaran kritis dari para aktor pendidikan. 
 
“Peran perguruan tinggi juga sangat penting dalam menyambut kehadiran MEA. Karena itu, tugas perguruan tinggi harus mampu memberikan kesadaran kritis bagi calon pendidik, mahasiswa, dan masyarakatnya. Sebab, kesadaran kritis akan melatih cara pikir mereka dalam menemukan jalan keluar atas berbagai persoalan yang nantinya dihadapi saat kedatangan MEA”, ujar Warsono.| ARA 
     
 
 
back to top