Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Seminar Nasional MEA di Unesa: Menyambut dengan kritis

Seminar Nasional MEA di Unesa: Menyambut dengan kritis
Surabaya-KoPi| Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Surabaya mengadakan seminar nasional bertajuk “Pendidikan Nasional dalam Menghadapi Tantangan MEA”, Sabtu pagi (30/5). Acara dihadiri oleh mantan Mendiknas, Moh. Nuh, sebagai pemberi kata pengantar ahli. “Cinta sekaligus bangga terhadap Indonesia merupakan modal utama dalam menghadapi MEA” begitu poin penting yang disampaikan Moh. Nuh.   
 
Empat narasumber hadir dalam acara tersebut, Prof. Suyanto, PhD (Universitas Negeri Yogyakarta), Prof. Anita Lie (Unika Widya Mandala, Surabaya), Gatot Sunarso (Dinas Pendidikan Provinsi Jatim), dan Prof. Warsono (Rektor Unesa). Masing-masing narasumber itu menyajikan berbagai perspektif menarik dari sisi kepakarannya dalam menghadapi MEA. 
 
Menurut Anita Lie, kedatangan MEA tidak bisa dicegah. Salah satu hal yang perlu disiapkan adalah modal intelektual Indonesia melalui upaya peningkatan mutu pendidikan dari hulu ke hilir. Dalam beberapa kali eksperimentasi perubahan kurikulum, tampak kegagapan pemerintah dan para pengelola pendidikan dasar dan menengah. 
 
“Rasio guru-siswa di Indonesia memang tergolong bagus, namun kapasistas guru Indonesia masih diragukan, terutama dalam hal pengelolaan proses belajar mengajar yang mengarahkan siswa pada tingkat berpikir tinggi. Sementara, persaingan global dan Internasionalisasi pendidikan adalah kondisi yang tidak bisa dihindari bersama dengan kesepatakan yang sudah ditanda-tangani oleh pemerintah Indonesia” kata Anita Lie. 
 
Bagi Suyanto, pendidikan nasional di abad 21 ini memerlukan peran guru profesional yang peka terhadap kompetisi global. Salah satu hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah kontinuitas kurikulum di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Selama ini, kurikulum pendidikan mengalami inkonsistensi implementasi. Karena, sering berganti-gantinya regulasi kementrian akibat revisi yang berulang-ulang. Sehingga, para guru di lapangan kerap mengalami kebingungan. 
 
“Di Inggris, sebagai deskripsi perbandingan, pemerintahnya selalu memberikan arahan yang terstruktur mengenai perubahan kurikulum. Proses penyusunan kurikulum baru selama dua tahun harus melalui uji publik berulang dan menyeluruh. Sementara, di Indonesia tidak ada kajian serius terhadap penerapan kurikulum 2006 dan urgensi perpindahan pada kurikulum 2013”, tegas Suyanto. 
 
Guru profesional sebagaimana diamanahkan oleh Undang-Undang Sisdiknas akan membuat pendidikan nasional kita mampu bersaing dengan bangsa lain dalam MEA. Tetapi, tidak sedikit hasil evaluasi penilaian uji kompetensi guru (UKG) di Jatim yang menunjukkan sebaliknya. Begitulah ide pokok pemaparan Gatot Sunarso. 
 
“Tidak sedikit hasil evaluasi UKG yang rata-ratanya di bawah standar. Padahal, Jatim sering disebut sebagai salah satu provinsi yang memiliki tingkat profesionalitas guru yang baik. Terkadang, ada juga guru yang ‘ngeyel’ bahwa rendahnya UKG itu dikarenakan minimnya sarana dan prasarana. Padahal, terkadang ini hanya sebagai alasan guru saja”, tutur Gatot.
 
Sementara itu, dalam pandangan Warsono justru kualitas pendidikan di era MEA tak cukup dengan bersandar pada kurikulum saja. Kemampuan menguasai teknologi, memahami bahasa dan budaya masyarakat global juga tidak kalah pentingnya. Tetapi, hal ini harus diikuti kesadaran kritis dari para aktor pendidikan. 
 
“Peran perguruan tinggi juga sangat penting dalam menyambut kehadiran MEA. Karena itu, tugas perguruan tinggi harus mampu memberikan kesadaran kritis bagi calon pendidik, mahasiswa, dan masyarakatnya. Sebab, kesadaran kritis akan melatih cara pikir mereka dalam menemukan jalan keluar atas berbagai persoalan yang nantinya dihadapi saat kedatangan MEA”, ujar Warsono.| ARA 
     
 
 
back to top