Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Sambut MEA, Jatim ingin bangun agro industri

Sambut MEA, Jatim ingin bangun agro industri
Surabaya - KoPi | Pemerintah Provinsi Jawa Timur punya angan-angan ambisius menghadapi masuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Gubernur Jatim, H Soekarwo menargetkan Jatim dapat menjadi provinsi agro industri yang terkemuka di Asia. Hal tersebut diungkapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang telah disahkan Senin (5/9) lalu.
 

“Kita akan menjadikan Jatim sebagai provinsi agro industri terkemuka di Asia. Ini kan namanya visi, terus dikejar. Lain dengan program, ada batas waktunya,” ujar Soekarwo, Selasa (6/9).

Soekarwo menyatakan ada alasan mengapa memilih visi di bidang agro. Menurutnya, ada waktu di mana 60% penduduk Jawa Timur yang bekerja di sektor pertanian. Namun sekarang posisinya hanya 35%. Agar hasil pertanian yang melimpah tersebut tidak membusuk, maka petani harus masuk pada industri-industri. 

“Yang kita validasi industri primer, yaitu yang mengolah dari bahan baku menjadi bahan setengah jadi di tempat itu juga. Jadi proses hulu hilirnya satu lokasi. Kalau hilirnya perusahaan besar, dia tetap jadi petani miskin, terutama buruh taninya,” tegasnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, dengan mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi, maka itu menjadi jalan bagi masyarakat Jatim untuk lebih berkembang. 

Untuk mengarah menjadi provinsi industri, lanjutnya, harus dimulai dengan mengembangkan produk olahan sehingga harus ada nilai tambah di dalam bahan baku. “Dari aspek bahan baku Jawa Timur cukup bagus secara kuantitas dan kualitas. Bahkan terbaik di Indonesia,” katanya.

 

back to top