Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

REI pertanyakan realisasi program satu juta rumah

REI pertanyakan realisasi program satu juta rumah
Surabaya - KoPi | Terjungkalnya nilai tukar rupiah semakin memperberat upaya masyarakat memiliki rumah pribadi. Realisasi program satu juta rumah Presiden Joko Widodo dipertanyakan.
 

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) wilayah Jawa Timur Paulus Totok Lusida mengatakan percepatan pertumbuhan kawasan perumahan tidak diikuti dengan daya beli masyarakat. Akibatnya, hingga sekarang masih banyak penduduk Indonesia yang belum memiliki rumah. 

"Masalahnya, harga rumah dipatok terlalu mahal bagi keluarga baru. Akibatnya sampai sekarang masih banyak pasangan muda yang belum punya rumah," ujar Totok dalam wawancara dengan KoPi (29/5).

Pasar properti Indonesia yang bergairah belakangan ini menjadi penyebabnya. Sejak tahun 2010 bisnis properti di Indonesia meningkat dengan pesat. Hal itu kemudian diikuti dengan kenaikan harga tanah.

Terjungkalnya nilai tukar rupiah juga turut mempengaruhi kenaikan harga properti. Pasalnya, sebagian bahan bangunan menggunakan patokan dollar. "Kalau dollar sudah tembus ke level di atas Rp 13.200, pengembang tidak akan bisa beli bahan bangunan. Krisis seperti tahun 1998 bisa terjadi lagi, karena banyak kredit macet dari pengembang," ujarnya.

Totok mempertanyakan program satu juta rumah yang digagas oleh Presiden Joko Widodo. Ia mengatakan realisasi program tersebut seharusnya bisa membuat masyarakat miskin bisa membeli rumah. 

"Nah, katakanlah dengan UMR sekarang masyarakat bisa mengangsur Rp 700ribu per bulan untuk membeli rumah, artinya masyarakat hanya bisa mendapat rumah yang seharga Rp 100 juta. Masalahnya, rumah dengan harga segitu hanya ada di kawasan pelosok yang minim fasilitas. Akses ke tempat kerja juga lebih jauh," ungkap Totok.

Ia mengatakan, dengan program satu juta rumah, seharusnya pemerintah memberi subsidi pembelian rumah. Sehingga masyarakat bisa mendapat rumah yang seharga Rp 200 juta hanya dengan uang Rp 100 juta saja.

 

back to top