Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Pesaing banyak, hotel banting harga agar dapat pengunjung

Pesaing banyak, hotel banting harga agar dapat pengunjung
Surabaya - KoPi | Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur M. Sholeh mengatakan pesatnya pembangunan hotel-hotel baru di Surabaya berakibat pada timbulnya persaingan tidak sehat. Pertumbuhan hotel baru di Surabaya terasa paling pesat selama kurun waktu 2011-2014.
 

"Dari kurun waktu 2011 hingga 2014, sudah ada 60-70 hotel baru di Surabaya, baik budget maupun berbintang," ungkapnya kepada KoPi (8/6).

Sholeh mengatakan, karena begitu banyaknya jumlah pesaing, tingkat okupansi hotel menjadi sangat kecil. "Data kami menyebutkan tingkat okupansi hotel di Surabaya hanya 8 sampai 10 %. Sedangkan pembangunan hotel baru mencapai 40 % per tahun. Makanya banyak pengusaha hotel yang rugi," ujar Sholeh.

Dampak semakin banyaknya hotel di Surabaya juga menyebabkan munculnya perang tarif di antara hotel-hotel. Agar kamar mereka tetap terisi, pihak manajemen hotel membanting harga serendah mungkin demi menarik pengunjung.

"Ada hotel bintang 4 yang menjual kamar mereka dengan harga setara dengan hotel bintang 2. Pokoknya gila-gilaan. Semuanya dilakukan supaya kamar mereka terisi," ungkap Sholeh.

Tak pelak, aksi tersebut menimbulkan persaingan tidak sehat. Banyak pengusaha hotel yang rugi atau bangkrut karena tidak mampu bersaing dengan cara seperti itu.

Karena itu, salah satu poin surat PHRI yang dikirimkan ke Walikota Surabaya Tri Rismaharini berisi permintaan agar pemerintah ikut campur dalam penetapan tarif atas dan tarif bawah hotel. Hal itu supaya setiap hotel tidak seenaknya memasang tarif. PHRI berharap tarif yang berlaku sesuai dengan kamar dan fasilitas yang diberikan.

back to top