Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Pedagang jagung bakar ini meraup Rp 30 juta per bulan

Pedagang jagung bakar ini meraup Rp 30 juta per bulan
KoPi|Bagi sementara orang, bisnis jagung bakar mungkin dianggap tak terlalu menguntungkan. Tetapi usaha bukanlah perkara anggapan. Di Kasihan, Bantul, Yogyakarta, pedagang jagung bakar ini menepis pesimisme banyak orang. Dalam satu malam, pedagang ini setidaknya meraup penghasilan sekitar Rp. 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Dalam sebulan hasil kotornya sekitar Rp. 30 juta.

Jagung Bakar Pohon Beringin atau Jagung Bakar Depan SD adalah sebutan tempat yang dimaksud itu. Lapak jagung bakar itu terletak di depan SD Rejodadi di Jalan Brengosan , Ngestiharjo, Kasihan, Bantul atau di pertigaan jalan. Tetapi, pohon beringin yang merupakan ikon tempat ini sudah tidak ada.Jadi, untuk menemukan lokasi itu adalah SD yang berada tepat di belakang Jagung bakar.

Pemilik lapak sederhana ini sepasang suami istri. Mereka biasanya menjual jagung bakar dari pukul 16.00 hingga pukul 23.00 WIB. Bisnis ini sudah mereka lakoni hampir sepuluh tahun sejak 2007.

“Ya kami sudah jualan di sini sejak merapi meletus itu, Mas. Sebelumnya kami sudah jualan jagung bakar tiga tahun. Jadi kalau terhitung pas tahun baru, kita sudah jualan selama sepuluh tahun,” cerita Bu Sarti sembari membakar jagung untuk melayani pembeli yang berjubel malam itu.

Harga jagung bakar di sini antara Rp 3000; dan Rp 5000; serta Rp 6000 saat-saat tertentu seperti tahun baru. Harga pertama untuk jenis jagung Jawa. Sementara harga ke dua untuk jenis jagung manis. Selain rasa, ukuran jagung manis memang lebih besar ketimbang jagung jenis Jawa.

Suami istri ini mengaku setiap malam rata-rata terjual 300 pcs atau 100 kg jagung. Tetapi di malam-malam tertentu seperti tahun baru mereka bahkan bisa menjual hingga 300 kg jagung.

“Untuk semalam bisa habis 1 kwintal, Mas, atau 300 jagung, kalau tahun baru ya sekitar 3 kwintal," menurut Bu Satri.

Jagung bakar di lapak ini diberikan tiga variasi rasa seperti asin-manis , pedas sedang, dan pedas banget.

"Itu semua pakai bumbu sambal, Mas," jelas Bu Satri.

Menurut beberapa pengunjung menariknya jagung bakar Bu Satri ini terletak di rasa bumbu sambalnya. Banyak orang terkesan dengan bumbu sambalnya. Jadi, meskipun lokasinya agak tersembunyi tetapi banyak orang mencarinya.

"Bumbu sambalnya lebih enak ketimbang tempat lain," kata Wahyu mahasiswa UIN Kalijaga yang sengaja memburu jagung bakar milik Bu Satri.

Menurut Bu Satri, selama ini memang banyak orang justru memesan sambal jagung buatannya.

“Ya sampai –sampai ya Mas, ada orang yang pesan untuk beli sambalnya. Apalagi pas tahun baru, banyak yang pesan, baik itu jagung bakar atau sambalnya,” jelas perempuan setengah baya yang ramah ini. |Syaiful  Adi|

back to top