Menu
Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyaman Jadi Bagian Penting dalam Pembangunan di Jatim

Pakde Karwo: Suasana Aman dan Nyama…

Surabaya-KoPi| Suasana am...

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan Ibu Hamil, MMSA Berikan Wawasan Tentang Perdarahan

Sosialisasikan Pentingnya Kesehatan…

Bantul-KoPi| Sepanjang ...

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjukan Barongsai dan Liong LED

Sambut Imlek, UAJY Gelar Pertunjuka…

Sleman-KoPi| Sebagai wuju...

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSANAKAN LATIHAN PRAMUKA YUDHA

TARUNA - TARUNI TINGKAT II MELAKSAN…

AKADEMI MILITER – KoPi|...

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Luncurkan Kick-Off Program Talent Pitching

Creative Hub Fisipol UGM Resmi Lunc…

Sleman-KoPi | Terobosan...

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden H...

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde Karwo Paparkan Budaya Lokal di Jatim

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Penyelesaian Kasus Montara “Test Case” Komitmen Persahabatan Australia

Penyelesaian Kasus Montara “Test Ca…

Kupang-KoPi| Laporan In...

Prev Next

Menunggu Pasar Keputran dimanusiakan

Situasi Pasar Keputran sehari-hari Situasi Pasar Keputran sehari-hari
Surabaya - KoPi | Kemacetan dan keruwetan adalah pemandangan sehari-hari yang bisa ditemui Pasar Keputran Surabaya. Sebagai salah satu pasar induk di Surabaya, pasar Keputran merupakan tempat berbagai komoditas diturunkan dan diangkut.
 

Mulai pagi hingga malam hari berbagai truk dan kendaraan angkut mendatangi pasar ini untuk menurunkan komoditas seperti sayuran, daging, dan telur. Selain itu, ada pula truk serta sepeda motor milik pedagang lokal yang menaikkan berbagai komoditas untuk diangkut ke tempat mereka berdagang. Akibatnya, setiap saat kawasan tersebut rawan macet. 

Belum lagi masalah kebersihan. Jika melewati pasar ini, bau sayuran dan sampah menjadi satu. Kadang ada sayuran yang jatuh dan terinjak kaki-kaki pedagang dan pengunjung, dan dibiarkan membusuk begitu saja di jalan. Akibatnya bau busuk tercium hingga ke jalan raya.

Pasar ini sebenarnya sudah pernah ditertibkan pada tahun 2010 lalu. Waktu itu pedagang membuka lapak hingga ke jalan-jalan di sekitar kawasan Keputran. Akibatnya jalan tersebut tidak dapat dilewati oleh kendaraan. Mereka juga berjualan hingga di tepi sungai, menambah permasalahan sampah di sungai Surabaya.

Setelah ditertibkan pada tahun 2010, tidak ada lagi pedagang yang berjualan hingga ke jalan-jalan di sekitar pasar. Namun hal itu tak berlangsung lama. Para pedagang kini kembali menggelar lapak mereka di pinggir jalan, meski hanya di depan pasar. Meski demikian, lapak pedagang dan arus penurunan barang di pasar menjadi sumber kemacetan di kawasan ini.

Hingga saat ini, PD Pasar Surya mengaku masih kesulitan menertibkan pedagang yang membuka lapak di luar pasar. Pengurus PD Pasar Surya mengatakan pedagang yang membuka lapak di luar pasar merupakan PKL dan tidak termasuk pedagang pasar Keputran. Mereka inilah yang setiap malam hingga dini hari selalu memenuhi ruas jalan Keputran.

Di satu sisi, aktivitas pedagang di malam hari hingga dini hari merupakan salah satu daya tarik pasar Keputran. Namun di sisi lain mereka menjadi sumber kemacetan dan menambah masalah kebersihan kota.

Suharti, salah seorang pedagang di Pasar Keputran mengaku dirinya termasuk yang ditertibkan Satpol PP pada 2010 lalu. Namun himpitan ekonomi memaksanya kembali menggelar lapak di pinggir jalan Keputran. 

"Kalau siang memang tidak boleh jualan di luar pasar, Mas. Tapi kalau sudah pukul 9.00 malam sampai pukul 5.00 pagi baru tidak apa-apa," ujarnya. Selama siang hari, ia biasa berjualan sayur di tangga menuju lantai 2. Suharti mengaku hanya bisa pasrah kalau nanti ditertibkan oleh Satpol PP. Namun ia yakin hal itu masih lama terjadi.

Wacana mengenai revitalisasi Pasar Keputran sudah mulai muncul di kalangan dewan. Sebagai pasar induk dan ikon kota Surabaya, revitalisasi tersebut perlu dilakukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Apalagi saat ini kondisi Pasar Keputran masih sangat lekat dengan stereotip pasar tradisional: kotor, berlumpur, dan bau. Sungguh kasihan pengunjung dan pedagang yang setiap hari menghadapi kondisi tersebut. Sudah waktunya mereka berbelanja selayaknya manusia.

back to top