Menu
Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden H...

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde Karwo Paparkan Budaya Lokal di Jatim

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Penyelesaian Kasus Montara “Test Case” Komitmen Persahabatan Australia

Penyelesaian Kasus Montara “Test Ca…

Kupang-KoPi| Laporan In...

Pemahaman Sikap dan Budaya Kaum Muda Muslim Penting Untuk Cegah Radikalisme

Pemahaman Sikap dan Budaya Kaum Mud…

Bantul-KoPi| Radikalisa...

Menteri Nurbaya cabut gugatan pencemaran Laut Timor

Menteri Nurbaya cabut gugatan pence…

Kupang-KoPi| Korban pen...

Gus Ipul : Pers Merupakan Pilar Demokrasi

Gus Ipul : Pers Merupakan Pilar Dem…

Gresik-KoPi| Di peringa...

Mempopulerkan Kajian Masyarakat Digital  melalui Acara ‘Digital Future Discussion’

Mempopulerkan Kajian Masyarakat Dig…

Sleman-KoPi|Seiring den...

Seminar KSPM UAJY Ajak Masyarakat Jadikan Investasi Sebagai Gaya Hidup

Seminar KSPM UAJY Ajak Masyarakat J…

Sleman-KoPi| Pasar modal ...

Prev Next

Mempopulerkan Kajian Masyarakat Digital melalui Acara ‘Digital Future Discussion’

New Picture 1

Sleman-KoPi|Seiring dengan perkembangan zaman dewasa ini, teknologi telah menjadi aspek yang terpisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia. Kehadiran teknologi pun membawa pro dan kontra di kalangan masyarakat. Sebagai respon dari fenomena ini, Center for Digital Society (CfDS) UGM berinisiatif mengadakan sebuah acara bertajuk Digital Future Discussion di Digilib Café, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada pada Kamis (8/2).

Acara yang disingkat menjadi‘difussion‘ ini adalah acara terbaru yang diinisiasi olehCfDS UGM di tahun 2018. Difussion bertujuan untuk menyebarluaskan perbincangan mengenai isu digital di kehidupan sehari-hari lewat sebuah forum diskusi interaktif.

Pada kesempatan perdana ini, tiga pembicara yang hadir adalah Nabeel Khawariz my selaku project officer divisi riset CfDS, Gehan Ghofari, research associate CfDS dan Ridho Bima Pamungkas, research assistant CfDS. Ketiga pembicara tersebut akan memaparkan kajian terkait berbagai isu sosial-digital yang pada tahun 2017 kemarin sempat menjadi tren dan marak diperbincangkan di kalangan masyarakat digital.

Pada kesempatan pertama, Ridho Bima Pamungkas berbicara mengenai prahara berita palsu (fake news) di Indonesia. Ia menyoroti tentang maraknya persebaran berita palsu di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang secara menyedihkan digunakan untuk menyebabkan perpecahan golongan demi kepentingan politik.

Contohnya dari kekhawatiran ini telah dibuktikan saat Pilkada Jakarta tahun 2017 silam. Lebih lanjut, Ridho juga berbicara jika saat ini Indonesia akan menghadapi dua peristiwa politik penting, yakni Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019 dan oleh karena itu, baik masyarakat dan pemerintah harus mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

Sesi selanjutnya, giliran Gehan Ghofari yang berbicara mengenai dinamika perkembangan e-commerce yang kian menggurita di tahun 2017. Berdasar hasil temuannya, dunia e-commerce masih dikuasai oleh dua pemain utama, Alibaba dan Amazon. Menariknya, kompetisi antarara e-commerce dunia juga merembes ke pasar lokal.

Di Indonesia contohnya, persaingan yang terjadi di antara pemain e-commerce besar juga tidak lepas dari campur tangan perusahan global. Suntikan dana yang digelontorkan oleh perusahaan global membuat kompetisi menjadi semakin ketat dan keras.

“Batas Negara tidak lagi relevan dalam (dunia) e-commerce. Contohnya, Shopee adalah perusahaan Singapura namun mendapat investasi dar iGDP Ventures (Indonesia) dan beroperasi di Indonesia.

Sementara, Tokopedia yang merupakan perusahaan Indonesia justru mendapat investasi dari Alibaba (RRT). Jadi, orang Indonesia melakukan investasi ke perusahaan Singapura yang beroperasi di Indonesia melawan perusahaan Indonesia yang diinvestasi oleh Jack Ma dari Tiongkok.

Sekat Negara sudah tidak jelas dan hasilnya bisa jadi menguntungkan kita (Indonesia) maupun Negara asing. ”Oleh karena itu, Gehan melihat bahwa di tahun 2018 ini, geliat persaingan di duni ae-commerce akan menjadi semakin kencang dan sukar untuk diprediksi.

Di sesi terakhir, Nabeel Khawarizmy berbicara mengenai topic gaya hidup digital di tahun 2017. Salah satu isu spesifik yang paling menarik adalah mengenai utilisasi internet sebagai platform aktivisme digital. Menurutnya, internet telah menjadi ruang publik yang dipergunakan untuk mengangkat isu-isu sosial, serta melawan penindasan sosial, ekonomi dan politik yang selama ini masih terjadi.

“Aktivisme digital di media sosial, yaitu #MeToo, digunakan untuk menunjukkan bahwa banyak kejadian pelecehan dan kekerasan seksual dalam dunia kerja. Banyak korban pelecehan seksual yang ikut berbicara tentang isu ini dan menjadi person of the year dari TIME; saya kira ini merupakan sebuah mile stone dalam digital activism”.

Di lain sisi, Nabeel juga menyoroti mengenai fenomena net-neutrality dimana internet telah di-komodifikasi sebagai objek komersil yang menyalahi prinsip universal access. Dengan progress yang sedemikian rupa, pembicara melihat bahwa di tahun 2018 ini, gaya hidup manusia akan semakin terintegrasi dengan teknologi digital.

back to top